A Moment

A Moment
Tantangan



Sore sepulang sekolah kelas 12 ipa 4 akan mendapatkan tontonan gratis yakni Chika Kayla Arif si murid *perfec*t di sekolah akan menggombal om-om yang setiap sorenya akan datang ke lapangan sekolah sekedar berolahraga.


Sekolah yang tadinya ramai karena sekumpulan para murid yang berlomba-lomba pulang kini berubah sepi dan tinggal anak kelas 12 ipa 4 yang menunggu dekat parkiran sekolah.


"Mobil Pak Herman masih ada, berarti dia belum pulang dong," ucap Chika bersuara kecil berbisik pada Adel.


"Terus kalau dia masih ada kenapa?" Adel mandang Chika serius. "Tuh lo udah ditungguin sama teman sekelas di sana," sambung Adel.


Chika dan Adel berjalan menuju parkiran, sesekali menelan ludah, dan membayangkan bagiamana dia akan merayu pria tua yang sudah pasti jelek, dan mukanya pasti muka mesum. Sabrina dan yang lain sudah menanti kedatangan Chika yang menjadi bintang untuk saat ini.


"Kita harus membuat persetujuan Chik!" Sambutnya, dia mengulurkan tangannya yang tak dibalas oleh Chika.


"Terserah," jawab Chika singkat.


"Ok, tidak masalah, untuk menggunakan waktu dengan baik, kita-kita juga mau cepat pulang jadi lo itu harus ngegombalin om-om yang datangnya pertama, nggak boleh nawar. Bagaimana kawan-kawan!?"


"Betul!" jawaban serentak dari kelas 12 ipa 4.


"Ok, baiklah sekarang kita tunggu siapa pria yang beruntung digombalin murid perfect di sekolah ini," lanjut Sabrina.


Terdengar bisik-bisik teman-teman Chika yang lain, dan Chika, dia hanya pasrah dengan keadaan, dan tidak peduli apakah pria itu akan botak, gendut, atau berkulit hitam yang penting dia bisa menunjukan bahwa dia bukan pengecut.


Chika menarik nafas panjang mencoba menenangkan diri agar nantinya tidak merasa gugup.


"You get the end now Chika!" ejek Adel dengan suara kecil di telinga Chika. Dan hanya dibalas dengan tatapan sinis oleh Chika.


Tenang Chika, tenang!


batin Chika.


"Tuh ada mobil!" teriak seorang dari mereka, mata Chika langsung membulat dan mengarah pada mobil itu, mobil yang berhenti pas di dekat mobil milik Pak Herman.


"Tuh sana Chik udah ada om-om yang akan turun dari mobil," ucap Raihan yakin.


"Kan belum tentu kalau dia itu om-om," bela Chika.


"Udahlah Chika, kita udah lama menunggu nih, ini semua gara-gara lo yang nggak jawab aja kalau lo sebenarnya itu suka sama Pak Herman!" Adli menambahkan membuat Chika menatapnya sinis dan terlihat marah.


"Salah gue? Emangnya siapa yang buat permainan konyol ini, dasar gendut, item lagi!" ejek Chika pada Adli seraya memalingkan wajahnya pada pria yang berada di mobil yang baru tiba itu, namun baru sepatu dan celana hitam kain yang terlihat, separuh tubuhnya masih berada di atas mobil.


"Udahlah, Chik ke sana cepat udah keliatan kalau pengedaranya pasti om-om," tambah Alma.


Chika menunjukkan wajah kesal dan berjalan menuju mobil yang baru datang, sedangkan teman-temannya sudah menyipakan kamera untuk merekam Chika. "Cepet Man, keluarin kameranya kita bikin hebo sekolah ini!" Uni yang sudah gregetan ingin merekam Chika yang menurutnya saingan berat di kelasnya.


Sedang Adel, dia percaya bahwa Chika pasti bisa melakukannya tanpa merasa berat sedikitpun mengingat Chika sering ngegombalin Pak Herman. Lalu kalau itu om-om yang tidak dikenalnya mengapa tidak.


Lalu pria yang sedari tadi terlihat menunduk memainkan ponselnya, dan terduduk di atas mobil yang terbuka kini keluar dan menunjukkan seluruh tubuhnya.


"Buset, Omnya mirip David Bekham!" Mata Rahman melotot dan bibirnya menganga tipis.


"Kok Omnya bisa seganteng itu sih!?" Mata Sabrina menyipit.


"Ini mah lebih keren dari Pak Herman!" Adel kini menampakkan senyum dan untuk pertama kalinya membuka suara saat sedang bersama anak-anak orang kaya nan sombong itu. Serentak semuanya menatap pada Adel, yang hanya tersenyum menatap Chika.


Dan Chika? Dia mematung ditempatnya melihat pria jangkung yang barusan turun dari mobilnya, membuat pria itu malah kebingungan memadang Chika.


Pikiran Chika kosong, bahkan Pak Herman pun hilang dari benaknya.


"Hei!" Pria itu menepuk bahu Chika dan membangunkan Chika dari lamunannya.


"Oh, iya Om," ucap Chika yang baru tersadar dari lamunannya.


"Ngapain? Dari tadi Om liatin kamu cuman bengong di hadapan Om," ucap pria yang membangunkan Chika itu.


"Eee, apa ya?" Chika memelas dan tidak tahu harus ngapain.


"Kalau begitu Om duluan ya." Pria itu menghindar menjauhi Chika yang masih terdiam mamatung di tempatnya.


Sementara teman-temannya asik menertawai Chika yang terlihat terpesona dengan wajah gentle pria tadi.


"Dasar penggemar om-om, sudah kuduga dia tidak akan sanggup melakukannya," sahut Sabrina, dan dia kemudian berkata, "Sudahlah Rahman matikan saja kameranya!" suruh Sabrina.


Namun Chika yang baru mengingat bahwa dia sedang dalam tantangan tak ingin berhenti di tengah jalan.


"Om!" panggilnya membuat pria jangkung itu menoleh padanya.


Chika melambai dengan senyum percaya diri pada pria itu.


"Chika nggak selembek itu Sab!" Arsy menambahkan setelah mendengar Chika memanggil si pria jangkung.


Chika sekarang berada dekat di hadapan pria tadi.


"Iya kenapa?" tanya si pria, matanya memandang mata sipit Chika dengan senyum ramah.


"Eh tunggu sebentar ya om!" Chika mencari-cari uang di saku bajunya, dan mendapatkan uang senilai 2000 rupiah.


"Ini Om, uang 2000 buat Om," ucap Chika tiba-tiba, dia membuat pria di hadapannya mengerutkan dahinya dan menganga tipis melihat tingkah konyol Chika.


"Untuk Om?" Senyum pria itu menghilang diganti dengan wajah kebingungan. Dan Chika mengangguk dengan senyum percaya diri.


"Buat apa?" tanya pria itu bersuaha tetap tenang.


"Ya buat aku parkir di hatinya Om," jawab Chika, senyum menyeringai masih terlihat, dan mata sipitnya memancarkan cahaya keceriaan, membuat pria itu sontak kaget dan dialah yang saat itu terdiam di tempatnya berdiri, sedang Chika berbalik dan berlari meninggalkan pria itu, sesekali Chika menoleh ke belakang memadang pria yang masih terpaku di tempatnya dan menunjukkan senyum memperlihatkan gigi ratanya.


Pria itu masih terpaku memandang Chika yang masih berlari, bibir tipisnya membentuk senyum tipis dan matanya tampak tatapan tulus pada gadis yang barusan mengucapkan rayuan padanya.


Chika menuju teman-teman sekelasnya yang masih menganga melihat aksi berani Chika, sedang Adel tersenyum bangga pada Chika bisa menyelesaikan tantangannya apalagi dia bisa menggombal om-om yang ternyata tampan.


"Ayo Del, kita pulang!" Chika menarik tangan Adel dan menuju motor Adel yang terparkir dibagian sudut parkiran. Hanya Adel yang tidak terkejut akan hal itu, karena gombalan itu adalah gombalan pertama Chika pada Pak Herman yang dipelajarinya di youtube.


Adel menancap gas motornya dan pulang bersama Chika, namun senenarnya rumah Chika dan rumah Adel berlawanan arah dan berjauhan, tapi karena Chika yang selalu membantunya menyelesaikan tugas sekolahnya maka balasan Adel harus mengantar Chika pulang setiap hari.


Sedang pria jangkung itu, dia menggelengkan kepalanya dan pergi menuju tempat yang ingin ditujuinya, melihat pakaiannya, jas bergaris putih dengan latar hitam, kemeja putih dan celana kain hitam serta mobil mewah yang dikendarainya membuktikan bahwa pria itu datang bukanlah untuk olahraga seperti yang dilakukan pria paru baya yang lainnya.


"Oh, gadis itu penuh dengan kejutan!" Adli yang masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, dan seketika lupa dengan ejekan Chika tentang dirinya.


"Kau betul Uni, besok kita akan gemparkan sekolah ini," ucap Rahman, dia yang dari tadi merekam apa yang dilakukan Chika saat menggombal pria tadi.


"Menyebalkan, aku kira dia akan menggombal om-om buncit atau botak!" Sabrina masih kesal. Lalu dia pergi menuju mobil sopir yang sudah disiapkan setiap dia pulang sekolah oleh orang tuanya.


"Dasar anak manja!" Alman yang sebenarnya tidak suka dengan Sabrina.


Semua bubar, dan menunggu bagaimana Rahman akan menggemparkan SMA Citra Negara.