A Moment

A Moment
Latihan



Hati Chika sudah lama resah, dia terkadang tidak ingin bertemu dengan Herman, tapi lihat dia sudah menanti Herman di depan gerbang sekolah, dia duduk di atas motor salah satu kawan nya.


Sudah sangat sore namun Herman belum juga menampakkan mobilnya di jalan raya. Sesekali tangan Chika memainkan ponselnya, mengotak-atik kontak yang sangat ingin ia telpon.


Dan tanpa sengaja ia tiba-tiba saja memencet nomor Herman untuk menelpon Herman, matanya langsung melotot dan dengan lincahnya dia mematikan Kembali hubungan ponsel itu yang sudah sejak tadi berdering.


"Kau ini bagaimana Chik, dasar bodoh!" ucapnya dengan nada yang kesal. Lalu matanya menangkap mobil yang berplat nomor 1831 yb akan masuk ke gerbang sekolah.


Langsung saja Chika lompat dari tempat duduknya dan bersembunyi di samping motor yang tadi ia duduki. Matanya mengintip di sela-sela motor, melihat mobil Herman memarkirkan mobilnya.


Matanya menangkap Herman keluar dan pergi dari sana.


Setelah melihat Herman sudah menghilang, Chika berjalan ke tempat latihan dramanya akan dimulai.


"Atur nafas baik-baik Chika, ingat jangan sedikitpun bicara pada Herman, lupakan bahwa kau tadi menelponya," monolog Chika.


Chika berjalan dengan ransel biru di bahunya. Sesakali menarik nafas dalam-dalam.


*******


Herman bergegas pergi dari kediaman Arfinjaya, dia kemudian menuju ke SMA Citra Negara, namun dalam perjalanan dia mendengar ponselnya berdering dan itu dari Chika.


Herman menatap sesaat layar ponselnya dan dia berniat mengangkatnya namun dengan seketika panggilan itu berakhir sebelum Herman mengangkatnya.


Dia akhirnya sampai di depan gerbang SMA Citra Negara, Herman memarkirkan mobilnya, dan keluar dari mobil tersebut menuju tempat latihan drama.


"Pak Herman!" sambut Andika, dia langsung menyalami tangan Herman saat Herman tiba di tempat itu.


Mata Herman mengelilingi tempat itu dan tak menemukan gadis yang membuat matanya harus memutari seisi ruangan.


"Chika belum datang?" tanya Herman pada Andika.


"Hm, belum Pak, tapi 4 anggotanya sudah datang, naskahnya pun sudah dipelajari oleh kami, tinggal bagaimana nanti cara pertunjukannya," jawab Andika.


"Baiklah kerahkan semua anggotamu ke lapangan," perintah Herman dengan nada lembut dan senyum di bibirnya.


"Lapangan?" tanya Andika heran.


Tidak lama kemudian Chika berjalan masuk ke aula sekolah, dia berfikir bahwa latihannya akan dilakukan di aula, namun ternyata dia sudah melihat teman-temannya dan juga Herman berada di lapangan.


Kenapa mereka semua di lapangan? batin Chika.


Andika yang sadar bahwa Chika sudah datang dan berada di pintu aula kemudian memanggilnya.


"Chika!" panggil Andika dengan nada suara meninggi.


Chika berjalan ke arah lapangan dan berhadapan langsung dengan Andika.


"Kita akan melakukan pertunjukannya di sini, setelah upacara penaikan bendera kita sudah siap dan penari daerah akan langsung melakukan pertunjukannya setelah diarahkan oleh protokol, akan ada tribun di sisi barat untuk para guru-guru," jelas Andika saat Chika baru sampai di hadapannya.


"Lalu para peserta upacara?" tanya Chika lagi.


"Akan disediakan karpet untuk mereka duduki, tidak ada yang bisa kembali ke kelas, atau pulang sampai pertunjukannya selesai," jawab Andika.


"Apa itu juga berlaku untuk guru-guru?" tanya Chika lagi.


"Maksudmu?"


"Tidak ada yang bisa pulang sampai pertunjukan selesai, apa itu juga berlaku untuk para guru?"


"Tentu saja tidak Chika!" jawab Andika tegas.


Andika meninggalkan Chika yang berdiri sendirian, dia terlihat berbicara dengan Herman tentang apa yang harus ia lakukan.


Dan Chika dia duduk di tengah lapangan terlihat sangat kesal, dia menampakkan wajah lelah, sampai seseorang mengagetkannya.


"Kenapa menelponku?" tanya Herman yang berdiri di belakang Chika.


Mendengar itu Chika langsng berdiri dan menjawab pertanyaan Herman.


"Salah pencet," jawab Chika dan berjalan pergi meninggalkan Herman.