A Moment

A Moment
Di pengadilan



"Ini semua salahmu Tom," ucap Asmi, dia duduk di dekat Tom di kursi yang sudah disediakan pengadilan.


Namun tak dipedulikan oleh Tom. Dia sibuk memandang Randy yang ingin sekali ia bunuh sekarang juga tepat di tempat dia berada.


Jika bukan anak orang kaya, Randy akan membusuk bersama kedua temannya itu dipenjara tanpa harus ada banding dipengadilan.


Saat itu hati dan kepala Tom sudah ingin meledak. Tom duduk di tengah antara Dinda dan Asmi. Tom menggenggam tangan Dinda erat, menandakan bahwa Tom begitu takut terjadi apa-apa pada Dinda.


Saat sidang dimulai, saat pengacara Randy berbicara, ingin sekali Tom memukul wajah pengacara itu.


Lihat dia, dia rela berbohong demi mendapatkan upah yang bukan main, batin Tom.


"Ayah aku takut," ucap Dinda yang berada di samping Tom.


"Tenang, semua akan baik-baik saja," bujuk Tom.


Lalu tiba-tiba Herman datang membuka pintu pengandilan dan berjalan ke arah Dinda, sekarang dia duduk di dekat Dinda.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Herman yang langsung memeluk Dinda dan bersalaman dengan Tom, dia juga menyapa kakaknya dengan senyum.


"Aku merasa gugup Om," jawab Dinda.


Herman kemudian mengelus lembut bahu Dinda, dan tersenyum padanya, tanda bahwa Herman ingin menenangkan keponakannya itu.


"Dimana Karina?" tanya Herman.


"Dia bersama pembantu kami, dia berada di rumah," jawab Asmi.


"Aku juga seharusnya melatih anak kelas 12 hari ini, pasti Chika akan sangat marah padaku karena aku kemarin agak kasar padanya," ucap Herman membuat Tom langsung membulatkan matanya, begitu pun Dinda yang sudah tahu nama itu sejak kemarin malam.


"Chika?" tanya Dinda, tangan Tom langsung meremas tangan Dinda, agar Dinda tidak membahas tentang Chika dan kejadian di hari kamis.


"Iya, Tom mengenalnya--"


Tak sempat melanjutkan ucapan Herman, hakim langsung meminta pernyataan dari Dinda.


"Naiklah, jelaskan yang sebenarnya," ucap Tom saat Dinda hendak berdiri, hampir saja Asmi bertanya soal Chika pada Herman, akhirnya tidak jadi.


"Siapa Chika?" tanya Asmi pada Herman.


"Sudahlah jangan bahas Chika, kita harus mendengarkan penjelasan Dinda," ucap Tom memotong, hatinya sedikit gugup karena mungkin akan terjadi sesuatu jika Asmi tahu yang sebenarnya.


hingga sidang selesai, tak ada hasil, karena kedua pihak sama-sama kuatnya, Tom menatap Randy dengan sangat tajamnya, luka yang disebabkan pukulan Tom di malam itu belum hilang dan masih membekas. Sementara luka Tom hanya sedikit goresan di bagian bawah matanya.


Dinda dan Asmi naik ke atas mobil dan Tom mengikuti, juga Herman, dia pikir akan pulang sore tapi ternyata sidangnya selesai sebelum jam 4 sore, saat itu dia mengikut pada mobil Tom karena ingin bersama sang ponakan untuk sementara waktu.


Herman sangat peduli pada kedua ponakan nya, Dinda dan Karina. Dia mengikut ke rumah Tom karena sudah lama tak bertemu dengan Karina, lalu setelah itu dia akan ke SMA Citra Negara.


Angkatan kelas 12 sudah mendiskusikan bahwa mereka akan melaksanakan latihannya di malam hari dan beberapa di antara mereka akan menginap di sana, dan sebagainnya dibolehkan pulang.


Setelah sampai di rumah Tom, dia langsung berlari dan memeluk Karina yang sudah menunggunya.


"Aku baik, tapi ya Om aku dengar Om udah putus ya sama tante Arinda?" tanya Karina tiba-tiba membuat Herman langsung merasa sedikit lemas.


"Oh, iya aku tidak cocok dengannya, jadi kami memutuskan untuk mengakhirinya," jawab Herman dengan sedikit pura-pura.


"Herman apa kau akan makan malam bersama kami?" tanya Asmi yang sudah bersiap untuk memasak bersama pembantu rumah mereka.


"Ah, aku akan pergi sebentar lagi, aku harus melatih anak-anak kelas 12 untuk pertunjukan drama nanti Kak," jawab Herman.


Karina dan Herman berjalan menuju sofa dan duduk berdua di sana. Berbincang dan bercanda bersama ponakan nya itu.


Sedang Dinda dan Tom, mereka masih berada di atas mobil, membecirakan soal Chika.


"Dengar Dinda, jangan bahas tentang Chika di hadapan Herman, dan jangan katakan pada siapapun bahwa nama gadis yang ibumu lihat itu adalah Chika," bujuk Tom dengan sembari menggenggam tangan Dinda.


"Kenapa? Kenapa Om Herman tidak perlu tahu? Apa Ayah takut kalau Om Herman tahu semuanya?" tanya Dinda.


"Ya, Ayah takut!" jawab Tom spontan.


"Sudah kuduga," ucap Dinda mengangguk ungguk.


"Ayah takut Herman akan melakukan sesuatu yang buruk pada Chika, karena..., karena kelemahan Chika adalah Herman, Chika tidak mencintai Ayah, Chika juga tidak menginginkan Ayah, tapi Chika mencintai Herman, dan hanya Herman, kami tidak melakukan perselingkuhan Dinda, aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan gadis itu, bukan untuk bersenang-senang, hanya saja sehabis bekerja Ayah tidak ingin pulang ke rumah yang tidak pernah menyambut kedatangan Ayah, Dinda," jelas Tom dengan menatap lekat-lekat mata coklat milik Dinda.


"Tetap saja, gadis itu masih pelajar," ucapnya dan pergi meninggalkan Tom.


"Namanya Chika, Chika Kayla Arif, Dinda! Bukan gadis itu!"


"Terserah!"


Dinda masuk ke dalam rumah nya lalu menyapa Herman yang asik menonton televisi bersama Karina.


Lalu tiba-tiba saja mata Herman tersangkut pada ponsel genggam milik Karina yang tergeletak sedari tadi di atas meja di depan sofa yang sedang ia duduki.


Entah kenapa, Herman merasa ada yang Karina sembunyikan sejak tadi, dia juga melihat Karina terlihat gugup saat membalas pesan dari seseorang.


Karena penasaran Herman berniat meminjam ponsel Karina.


"Karin, boleh Om pinjam ponselmu sebentar?" tanya Herman, dengan nada lembut.


"Buat apa?"


"Ponsel Om jaringannya lalot, Om harus mengirimi pesan ke salah satu murid Om bahwa mungkin Om akan terlambat datang ke sekolah untuk melatih mereka," ucapnya, alasan yang cukup mampu untuk menipu gadis berkepang dua itu.


"Tapi jangan buka aplikasi lain ya Om," ucap Karina sambil menunjuk-nunjuk Herman dengan telujuknya.


"Baiklah tuan putri."


Akhirnya Herman mendapatkan apa yang dia inginkan. Karena Herman tahu sedikit tentang teknologi, dan tentang ilmu It, dia membuat akun whatsApp baru menggunakan nomor aktif Karina, tanpa harus menghilangkan nomor telpon yang digunakannya.


Herman kini akan mendapatkan pesan apa saja yang masuk ke dalam whatsApp Karina.