A Moment

A Moment
Rapat Angkatan



Sepulang sekolah, Chika tidak langsung pulang atau mengirim pesan pada Tom untuk menjemputnya, dia sekarang sedang mendiskusikan tentang pertunjukan apa saja yang akan diberikan saat upacara terakhir angkatan mereka, namun dalam kepala Chika yang ada hanyalah momen tadi pagi, saat Herman mengajaknya untuk ke pantai, tapi dengan sengaja dia malah menolak Herman. Bukannya tidak mau, hanya saja dia tidak percaya Herman mengatakan itu.


Saat ketua angkatan yang bernama Andika menjelaskan tentang rapatnya, Chika malah melamun. Rapat itu memang hanya dihadiri oleh 20 orang dari 313 murid kelas 12, Chika yang berstatus sebagai ketua organisasi pencak silat diharapkan untuk datang dan mengerahkan anggotanya untuk melakukan aksi berkelahi di dalam drama yang akan mereka buat.


Namun Chika sama sekali tidak mendengar itu semua, lamunannya hanya pada Herman yang tiba-tiba meninggalkannya dan tanpa berfikir panjang Chika pun demikian.


"Bagaimana Chik? Apa kau setuju?" tanya Andika, namun tidak dibalas oleh Chika, yang sedang melamun.


"Chika!"


Seseorang menepuk pundaknya. Sontak Chika terkejut dan langsung saja membulatkan matanya.


"Kenapa?" tanya Chika saat sadar dari lamunannya.


"Kau dan 4 orang anggota terbaikmu, yang juga kelas 12 harus ikut pertunjukan drama yang mempunyai adegan perkelahian, besok kau harus ada di sekolah, kita harus berlatih penuh untuk bisa di hari senin," ucap Andika


"Maksudmu, kita hanya berlatih 2 hari saja?" tanya Chika.


"Iya, semua angkatan seperti itu, kita juga bisa melakukan itu, kau juga pasti suka Chika, karena yang akan melatih kita untuk drama adalah Pak Herman," ucapnya, membuat jantung Chika tiba-tiba berdetak kencang.


"Apa hubungannya dengan Pak Herman, bukankah dia guru sejarah?" tanya Chika lagi.


"Pak Herman pernah mengukuti lomba pertunjukan drama pada tahun 2017, dan timnyalah yang memenangkannya," jawab Andika.


Lalu tiba-tiba saja, seorang pria mengetuk pintu ruangan rapat dan masuk ke dalam, yang ternyata itu adalah Herman.


"Ehm, masih rapat?" tanya Herman.


"Iya Pak," jawab si ketua angkatan.


"Besok latihan jam berapa?" tanya Herman lagi.


"Jam 7 pagi kami sudah ada sini," jawab si Andika lagi.


"Saya bisanya datang jam 5 soreh, keponakanku sedang memiliki masalah di pengadilan aku harus datang ke pengadilan besok, apa bisa kita latihannya malam saja?"


"Boleh tidak?" tanya Herman lagi.


"Kami akan diskusikan Pak," jawab ketua angkatan.


"Baiklah, kabari saya ya, saya harus pergi," ucap Herman terburu-buru. Mendengar itu Chika terdiam, dan melihat Herman pergi Chika langsung saja berdiri dan pergi mengikut pada Herman.


Membuat seisi ruangan rapat heran dengan tingkah Chika.


Chika berjalan di belakang Herman yang menuju ke tempat parkir.


"Ada apa dengan anak Om Tom?" tanya Chika yang juga berjalan lincah di samping Herman.


"Bukan urusanmu Chika, kembali ke ruang rapat, aku harus pergi," ucap Herman. Kesal dengan ucapan Herman, Chika menahan tangan Herman dan menatap Herman dengan tajam.


"Ada apa dengan keponakan Bapak?" tanya Chika tegas.


Tindakan Chika membuat Herman harus mendecak kesal, dan kerutan di dahinya terlihat jelas.


"Chika, kau tidak perlu tahu, ini bukan urusanmu, kau tidak begitu dekat dengan mereka untuk tahu segelanya tentang Tom, sekarang kembali ke ruang rapat, diskusikan atau aku tidak akan melatih kalian!" ucap Herman tegas, itu membuat hati Chika teriris, dianggap tak terlalu dekat dengan Tom itu tidak masalah, tapi dengan Herman, dia merasa bahwa Herman tidak merasakan kedekatannya dengan Chika itu penting.


Sehingga Chika merasa bahwa Herman sama sekali tidak peduli terhadapnya.


Dia kembali ke ruang rapat namun tidak untuk berdisukusi tapi ke sana hanya ingin mengambil tasnya dan pulang ke rumah kakeknya, karena rumah kakeknya jauh dia harus menggunakan kendaraan untuk sampai di sana. Jadi dia harus naik angkot untuk sampai ke rumah kakeknya.


Selalu menyebalkan jika itu tentang kebersamaannya dengan Herman, sikap cuek Herman selalu mampu menyakiti Chika. Sikap cuek Herman membuat Chika untuk tidak lagi mau mendekati pria itu.


Aneh sekali, terkadang Herman ingin dekat dengannya, dan terkadang Herman sendiri yang ingin menjauhinya.


Pagi bersama Herman kalah dengan Sore bersama Herman, saat pagi Herman menganjaknya ke pantai dan saat sore Herman malah mengacuhkannya.


Chika merasa lemas hanya karena sikap Herman, Chika ingin membenci Herman, tapi rasa cintanya pada gurunya itu ternyata lebih besar ke banding, kebenciannya.


Hingga berada di dalam kamar tidurnya dia masih saja kepikiran dengan Herman, Herman, dan Herman. Sampai lupa bahwa Tom sedang dalam masalah.