
Hari ini Chika akan mengikuti rapat angkatan, dia tidak berniat menganggu Tom, atau mengirimkan Tom pesan, seperti biasa dia diantar oleh tantenya ke sekolah, hari yang menyenangkan tentu saja, pengalamannya dengan Tom tidak akan dia lupakan, berada di dalam laut bersama Tom dan pengakuan Tom untuk menjaga Chika, itu sudah cukup untuk nya, untuk Chika tersenyum.
Chika turun dari mobil tantenya yang bermerk ayla berwarna merah. Dia menghirup udara segar di SMA Citra Negara, dan merasakan pagi di sekolah yang penuh kenangan dan tak akan pernah dilupakan olehnya.
Chika berjalan dengan wajah yang menampakkan senyum ramah, hari jum'at yang menyenangkan buat Chika, dan hari kamis yang tidak akan dilupakan oleh Chika.
Seperti biasa Chika selalu berjalan dengan earphon di telinganya, mendengarkan lantunan musik, adalah hal yang sangat disukainya apalagi saat sekolah sedang sepi dan tidak ada siapapun selain dia.
Dan tanpa disadari gadis itu, seseorang menarik tangannya dari belakang, dan betapa terkejutnya Chika saat melihat tangan kekar Herman menahan tangan kecilnya.
"Chika!" kata Herman saat membalikkan tubuh Chika tepat di hadapannya.
"Pak Herman," ucap Chika, dia langsung melepas earphone yang tadi berada di telinganya.
"Bapak sejak tadi panggil nama kamu tapi tidak dengar, dan Bapak lihat ternyata kau sedang pake earphone rupanya," ucap Herman melepas tangan Chika.
Tak seperti biasanya, Herman lebih dulu berbicara pada Chika, biasanya Chika yang harus susah payah mencari keberadaan Herman hanya karena dia ingin dekat dengan pria pujaan nya itu.
"Maaf Pak, sudah kebiasaan aku pake earphone, kok Bapak mulai datang pagi-pagi begini sih?"
"Kenapa kalau aku datang pagi? Nggak boleh?" tanya Herman matanya melotot pada Chika.
"Sini duduk di teras, kalau berdiri nanti capek," ucap Herman, menarik tangan Chika untuk duduk di teras sekolah.
Setelah duduk di teras sekolah Herman dan Chika tidak tahu harus bicara apa, karena untuk pertama kalinya Chika tidak tahu cara untuk menggombal guru sejarahnya itu, tiba-tiba saja ia lupa bahwa dia sangat sering menggombal pria yang sekarang berada di sampingnya.
"Eh, aku mau tanya kamu, saat Tom, dia meneleponku untuk membuatkan kamu surat izin sakit, apa kamu betulan sakit? Dan kenapa Tom tahu kalau kamu itu sakit?" tanya nya lagi. Pertanyaan Herman mampu membuat Chika langsung saja kebingungan dan tak tahu harus menjawab apa.
"Hmm, Om Tom, kami berpapasan saat itu, aku tidak sakit Pak, hanya saja Om Tom mau ngantar aku ke sekolah, tapi karena aku merasa lapar jadi Om Tom ngajak aku pergi makan dulu, tapi setelah makan ternyata aku sudah terlambat jadi aku nggak ke sekolah, dan kemarin aku juga ketemu sama Om Tom, kami ketemu di pantai, kata Om Tom dia punya urusan di pantai dan aku juga di sana bersama sepepuku," jawab Chika, dia bahkan menjawab pertanyaan yang tidak ditanyakan Herman.
"Maksud kamu di pantai?"
"Ah, siapa yang tahu Pak Herman akan bertanya padaku lagi tentang pertemuan antara aku dan Om Tom," balas Chika dengan menampakkan senyum manisnya.
"Oh, jadi ke pantainya cuma sama Tom, sama aku enggak?" tanya Herman yang mulai merayu Chika.
"Apa? Gini ya Pak, aku nggak ke pantai sama Om Tom, hanya saja ketemu di pantai," jawab Chika berbohong dengan santai nya. Padahal dia kepantai bersama Tom baru kemarin dia membuat kenangan yang akan sangat susah ia lupakan jika itu tentang bersama Tom.
"Kamu mau ke pantai sama aku Chika?" tanya Herman. Pertanyaan yang kemudian membuat Chika membulatkan matanya, terkejut, kapan Herman ingin bersama dirinya, padahal Herman selalu saja ingin menghindari Chika kapanpun Chika mendatanginya.
"Pak Herman mau ke pantai sama aku?"
"Kalau nggak mau ya udah, aku sama yang lain saja," ucap Herman lalu berdiri dan kemudian berjalan pergi meninggalkan Chika.
Melihat tindakan Herman tentu saja membuat Chika merasa heran dan tak percaya Herman seperti ini.
Biasanya saat Herman pergi meninggalkan Chika, gadis itu selalu mengejar Herman, tapi tidak sekarang, Chika tahu bahwa Herman hanya ingin dirinya mengejar gurunya itu seperti biasa, tapi untuk saat ini Chika tidak ingin lagi mengejar pria itu, bukannya mengejar dia malah menuju ke kelasnya.
Saat Herman menjauh dari Chika, terselip di dalam hatinya harapan bahwa Chika mengejar dirinya namun tidak, gadis itu tidak mengejarnya sama sekali, malahan pergi menuju kelasnya.
Chika tidak mengejarku? Apa yang berubah padanya? Dia tidak menyukaiku lagi?
Batin Herman, yang merasa agak aneh dengan kelakuan gadis itu.