
03:50 Am, Tom dan Dinda berada di atas mobil mencoba untuk melupakan hal yang
baru saja terjadi. 3 pria sekaligus berniat mencumbui Dinda di sebuah kamar hotel, hal yang tidak pernah disangka oleh gadis yang berusia 21 tahun itu.
Tom menghentikan mobilnya dan menepi, matanya sudah lelah menyetir, dan juga sudah lelah dengan apa yang terjadi pada hari ini.
Semua sudah tahu bahwa Tom melakukan pengkhianatan, lalu sekarang putri sulungnya hampir saja kehilangan virgin miliknya.
Hal itu tentu saja membuat Tom merasa hidupnya betul-betul sial.
"Dinda minta maaf Pa," ucap Dinda dengan nada seduh dan menyesal.
Mendengar itu Tom menghela nafas panjang dan perlahan mengeluarkannya.
"Bagiamana ini bisa terjadi?" tanya Tom, menatap Adinda dengan mata penuh kelelahan dan tak percaya.
"Aku pikir hanya Randy," jawab Dinda.
"Randy, walaupun hanya Randy, kau tidak harus melakukan ini, menginap di hotel, bersama seorang pria, bayangkan jika Papa tidak datang, bayangkan! Kau tidak akan sama lagi, kau..., berani sekali," ucap Tom dengan nada suara yang agak besar.
"Papa bilang berani sekali?"
"Apa?"
"Pa, bagiamana bisa pria lain tidak akan berani menyentuhku jika Papaku sendiri berani melakukan perselingkuhan dengan gadis lain, kenapa? Kenapa Papa memandang ku seperti itu, bukankah Papa sendiri yang yang mencontohkan ini? Bukankah Papa sendiri yang--"
plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Dinda, Tom yang sudah dari tadi khawatir akan Dinda, yang bahkan nyawanya pun ia pertaruhkan demi menyelamatkan sang putri, dan sekarang, putrinya malah menyalahkan dirinya.
Dinda mengangkat kepalanya, memandang Tom yang sudah menamparnya barusan. Tom membalas pandangan itu dengan tatapan yang lebih tajammnya pada putri sulungnya.
"Ya Tuhan, Papa minta maaf," ucap Tom setelah menampar Dinda barusan.
"Kalian salah paham, Papa tidak melakukan apapun dengan siapapun, Papa hanya beberapa hari dengannya--"
Tak sempat melanjutkan bicaranya Dinda langsung memotong.
"Beberapa hari bermalam di hotel maksudnya?"
"Apa?"
"Papa tega sekali pada Mama, padaku, dan pada Karina, Papa tahu, saat Om Herman mengetahui ini semua, dia akan membunuh Papa!"
"Apa maksudmu mengatakan itu, ini tidak ada hubungannya dengan Herman!"
"Siapa yang bilang bahwa ini semua ada hubungannya dengan Om Herman, aku bilang jika Om Herman tahu ini semua-- Eh tunggu, Papa takut jika Om Herman tahu ini semua?"
"Jangan bicara omong kosong Dinda, Herman tidak boleh tahu ini semua, Herman tidak boleh mengetahuinya!"
"Kenapa?"
"Untuk siapa? Papa khawatir pada gadis itu, gadis yang menghancurkan rumah tangga Papa--"
"Rumah tangga Papa sudah lama hancur bahkan sebelum kau dilahirkan!" Suara Tom membesar.
"Dinda, Papa tidak melakukan perselingkuhan, tidak!" Tom meremas rambutnya, kebingungan harus bagaimana lagi.
"Lalu apa? Lalu kenapa Papa bersama gadis itu?"
"Karena.., Papa tidak tahu kenapa Papa ngin selalu dekat dengannya," jawab Tom, dia seperti sedang tidak berdaya di hadapan putri sulungnya.
"Karena cinta?"
"Tidak Dinda, bukan begitu."
"Lalu? Karena nafsu Papa?"
"Karena Pap hanya ingin, dan hanya ingin dekat dengan Chika!" ucapnya, Tom kembali mengeraskan suaranya.
"Oh, jadi namanya Chika, sekarang aku mau pulang," ucapnya membuat Tom keheranan.
"Apa? Pulang? Dinda hari ini hampir saja, hampir saja kau kelihalangan hal yang paling berharga dalam dirimu, dan kau ingin pulang seperti tidak terjadi apa-apa?"
"Aku minta maaf, tapi Pa, aku lelah, aku butuh tidur," ucapnya sambil menguap dan menyandarkan kepalanya di kursi mobil milik Tom.
"Tidurlah, Papa akan menggendongmu jika sudah sampai di rumah."
Lalu Tom kembalu melajukan mobilnya.
"Apakah ini karma Pa? Karma karena Papa sudah berani melakukan perselingkuhan dengan gadis SMA dan aku yang jadi sasaran empuk untuk membawa pesan bahwa Papa harus berhenti melakukan perselingkuhan itu?" ucap Dinda dengan mata yang masih tertutup.
"Ini bukan karma atau sejenis yang lainnya, ini hanya pelajaran untukmu untuk tidak melakukannya lagi."
Sesampai di rumah, Tom menggendong Dinda masuk ke dalam rumah dan menaiki tangga menuju kamar Dinda, waktu sudah pagi, namun Tom belum juga tertidur. Sesampainya di atas ranjang, Tom membuka sepatu dan kaos kaki Dinda, menyelimuti putri sulungnya dan dia sendiri tidur di atas sofa di ruang tamunya.
Tom tertidur karena sangat lelah, matanya yang kelelahan langsung saja tertutup saat badannya membentur sofa.
8:09 Am
Tom yang masih tertidur langsung terbangun saat seseorang menyalakan telivisi. Asmi, dia baru saja menyalakan televisinya dan melihat berita, Thomas Arfinjaya memukul 3 pria sekaligus yang ingin melecehkan putrinya, melihat itu Asmi hampir saja jantungan dan kehilangan keseimbangan tubuhnya.
Tom langsung saja terbangun saat mendengar suara bising televisi.
"Asmi..."
Suara Tom saat baru saja membuka matanya, dan melihat Asmi yang sudah duduk dengan nafas tersengal-sengal dan tak teratur.
Tom membangunkan tubuhnya dan melihat berita yang menampakkan dirinya sedang menyeret pemuda bernama Randy, dia tidak percaya berita itu akan sangat cepat menyebar.
Tom, dia hanya dapat menonton dan menganga tipis melihat berita itu.