A Beautiful Madness

A Beautiful Madness
Who is He?



Sonya POV


Ya Tuhan, pedas sekali rasanya mataku ini! Makiku dalam hati.


Sudah sekitar seminggu, aku sama sekali tidak tidur teratur. Galeri ini sudah seperti tempat sampah. Botol-botol


alkohol milikku, berserakan di lantai. Aku terlalu larut dengan lukisan-lukisanku. Aku tidak ingin penggemar karyaku kecewa lantaran hasilnya kurang memuaskan atau kurang menarik untuk dilihat. Jadilah aku berusaha lebih keras dari biasanya.


“Nyaaa, lo di rumah?” Suara tegas itu berteriak lantang dari arah depan.


“Iya! Masuk aja!” Akupun tidak kalah berteriak untuk menjawabnya.


Tak lama kemudian, seorang laki-laki berparas tampan dan berlesung pipi itu kini sudah ada di hadapanku.


Mengenakan kaos berwarna abu-abu dipadu-padankan dengan jeans berwarna biru gelap, mengenakan apapun itu, dia memang selalu saja seksi.


“Udah berapa hari gak tidur?” Pertanyaan refleks bagi siapapun yang melihatku dalam keadaan seperti ini.


“Seminggu. Makasih loh buat pertanyaannya.” Aku tertawa menjawabnya.


“Jangan kelewat diforsir. Nih, gue bawain kopi! Espresso.” Laki-laki itu tersenyum hingga memperlihatkan lesung


pipinya yang selalu jadi daya tariknya itu.


“Makasih, Tan! Tau aja kesukaan gue! Lo tau gak, kalo ada penghargaan kategori laki-laki paling pengertian sedunia, pasti lo pemenangnya, Tan! Love you!” Aku tertawa dan mengacak-acak rambutnya hingga dia berontak. Dia tidak suka orang lain memegang rambutnya yang super shinny itu.


“Makasih sih boleh aja. Tapi, jangan pake acara pegang-pegang rambut segala dong!” Tristan cemberut dan kesal.


Aku hanya tertawa singkat.


“Gak kerja?”


“Abis dari sini, gue langsung kerja kok. Lo sendiri? Gak istirahat? Tar sakit aja.”


“Ah, nanti aja. Masih tanggung soalnya. Tinggal 1 lukisan ini, baru abis itu, gue istirahat.” Aku mencoba


untuk konsentrasi pada kanvasku.


“Kali ini, tentang apa?”


“Entahlah.”


Kulihat dari sudut mataku, Tristan hanya terpaku disana dan melihatku menggoreskan kuas yang dipenuhi dengan


beragam tinta berwarna, mencoba menyelami dan memahami mengenai apa dan untuk siapa.


********************


Jay POV


Hari ini adalah hari pertamaku bekerja bersama dengan perempuan itu. Entah bagaimana cara kerjanya, namun,


perempuan itu menyetujui begitu saja semua rencana Anne. Anne girang sekali hari itu. Anne benar-benar tulus ingin membantuku. Aku selalu saja tertegun. Anne jauh lebih bersemangat dari diriku sendiri, dia bersemangat untuk menyelematkanku.


Untuk apa menyelamatkan diriku? Bukankah hidupnya sudah teramat sempurna?


Aku memasukkan sebuah buku jurnal baru yang kemarin sengaja kubeli, beberapa alat tulis, tape recorder dan juga sebotol kecil alkohol—just in case—kujejalkan semuanya ke dalam tas ranselku. Aku bangkit dan meraih kunci mobilku. Volkswagen berwarna hitam kesayanganku.


********************


Tristan POV


Setelah berpamitan dengannya aku berjalan menuju mobilku yang kuparkir di luar. Sejak tadi detak jantungku


berdetak lebih keras dan tidak berirama. Sedari tadi juga, aku takut dia mendengar detak jantungku ini. Aku memegangi dadaku. Dan tanpa terasa, sebuah senyuman sedang terukir di wajahku saat ini. Aku tidak bisa berhenti memikirkan perkataannya tadi.


Kalo ada penghargaan kategori laki-laki paling pengertian sedunia, pasti lo pemenangnya, Tan! Love you!


Menyebalkan sekali untuk mengakui semua ini, tapi, sedetik pun aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Perempuan itu selalu saja bersikap manis dihadapanku, aku tahu kalau dia memang tipe manusia yang kadang sangat flirtatious, namun, kenyataan itu tidak merubah debaran jantungku ini. Karena sifatnya itu, sulit sekali rasanya untuk akhirnya tidak jatuh cinta padanya.


Ya Tuhan! Bisa-bisa aku jadi gila sendiri dibuatnya. Sikapku yang sok tidak perduli itu justru untuk menutupi keperdulianku terhadap dirinya yang kelewat besar. Aku tidak mau dianggap terlalu berlebihan dihadapannya. Tapi, lagi-lagi sikapnya yang selalu manis itu, malah membuat diriku jadi semakin memikirkannya.


Sialan!


Ketika hendak masuk ke dalam mobilku yang terparkir di luar rumah, kulihat sebuah Volkswagen berwarna hitam datang dan memasukkan mobilnya ke dalam garasi rumah Sonya. Aku masih berdiri disana, penasaran. Siapa yang mengunjunginya pagi-pagi begini. Setahuku Sonya tidak memiliki teman dekat kecuali Anne. Tapi, seingatku juga mobil yang dikendarai Anne adalah Benz terbaru, bukan mobil jenis itu.


Tak lama kemudian, seorang laki-laki muda turun dari mobil itu. Dia mengenakan kacamata frameless, kaos berwarna army, dan backpack. Dia berjalan masuk begitu saja ke dalam rumah Sonya.


Siapa laki-laki itu?


********