
Jay POV
Sonya Adinata. Siapa yang tidak mengenal dirinya? Seorang pelukis berbakat yang berasal dari keluarga yang sungguh sempurna. Percaya padaku, saat kusebut sempurna, memang benar-benar sempurna. Kalau kalian mendengarkan ceritanya bersama dengan keluarganya, rasanya memang kebahagiaan yang ada di dunia ini
memang tercipta untuk mereka. Hanya untuk mereka.
Aku menuliskan paragraf pertama biografi akan dirinya. Aku menggaruk hidungku yang sedikit gatal. Kemudian,
melihat keluar kamar. Melalui jendela. Disana berdiri dengan kokoh, sebuah pohon yang telah kurawat semenjak masih bibit, kini tengah menggugurkan daun-daunnya. Tidak lama lagi, daun-daun yang telah gugur itu perlahan mulai kering.
Berikanlah padanya waktu barang sedikit, maka kebahagiaan akan dengan mudahnya diremuk redamkan menjadi sebuah rasa sakit. Karena yang tertinggal dari itu semua, memang hanya rasa sakit. Satu-satunya.
Aku teringat pertengkaran beberapa hari yang lalu dengan dirinya. Aku juga bingung sendiri, kenapa harus bereaksi
seperti itu. Entahlah.
Aku meminum cangkir kopiku yang kedua. Pahit. Dan tenggelam ke dalam tulisanku. Kembali.
********************
Sonya POV
“Anne, udah di Jakarta, kan? Kesini dong. Bosen nih gue..” Aku menelepon dirinya dan membujuknya untuk menemaniku dirumah sakit.
“Iya, sebentar lagi, aku kesana yah...” Dia menjawab singkat dan menutup teleponnya.
Setelah pertengkaran dengan Sebastian beberapa hari yang lalu itu, dia sama sekali tidak mengunjungiku
lagi. Padahal aku tidak ada teman disini. Bahkan pesan singkat maupun teleponku tidak pernah dibalas olehnya. Dia benar-benar marah rupanya. Meski sampai sekarang, aku tidak merasa menyinggung dirinya. Maka dari itu, aku masih kebingungan. Tidak mengerti.
Sudah 1 jam, namun, Anne belum juga menunjukkan batang hidungnya. Aku benar-benar mulai merasa bosan.
“Udah bosen yaaaaah?” Tiba-tiba suara yang sangat kukenal menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
ANNE!!!
“Yeay! Akhirnya lo dateng juga!” Aku merentangkan tanganku. Aku rindu sekali dengan siapapun itu yang bisa
kurindukan. Aku sudah bosan setengah mati disini. Harus ada yang menyelamatkanku dari sini. Dan melihat wajah manusia yang kukenal, rasanya bahagia sekali.
“Manja banget! Tumben! Sebosen itu yah?” Candanya. Masih di dalam pelukanku.
“Iyalah!”
Kami pun menghabiskan banyak waktu untuk bersenda gurau dan bercerita panjang lebar. Kebanyakan yang bercerita adalah dirinya. Karena tidak ada cerita yang bisa kubagi dengannya selain cerita mengenai laki-laki itu.
“Kok mendadak diem, Nya? Kenapa? Ada yang salah?” Dia bertanya khawatir. Mungkin karena takut jika keadaanku berubah dan turun lagi.
Aku menjawabnya dengan gelengan kepala, menandakan kalau aku baik-baik saja.
“Trus kenapa?” Dia bertanya lagi.
Akhirnya aku menceritakan segala sesuatunya pada dirinya. Mengenai penyakitku yang kumat, Jay yang
membawaku ke rumah sakit hingga pertengkaran kami, yang masih sampai saat ini, tidak kumengerti.
Anne hanya terdiam. Dia tidak mengangguk, juga tidak menggeleng. Bahkan satu katapun tidak meluncur dari
bibirnya. Aku diam memperhatikan dirinya. Entahlah karena sebab apa dia menjadi seperti itu.
“Ibunya meninggal karna gagal jantung, Nya...” Anne akhirnya angkat bicara.
Aku membelalakkan mataku. Hampir tidak mempercayai pendengaranku. “Loh, kata lo, dia anak panti juga? Kok dia tau nyokapnya meninggal karna gagal jantung? Ibu panti yang ngasih tau?”
Anne tersenyum getir padaku, “berbeda denganku yang sama sekali gak pernah tau tentang identitas orangtua
kandungku. Jay berbeda. Dia tau dengan jelas, siapa ayah dan ibunya. Dia ditinggalkan, Nya. Itulah yang menyebabkan dirinya sedingin itu. Karena dia udah mengalami banyak penderitaan.”
Aku menatap Anne dalam diam. Aku tidak tahu masa lalunya. Yaampun, aku merasa semakin bersalah padanya. Aku menelungkupkan kedua tanganku dan membenamkan wajahku disana.
********************
Anne POV
Bukan salah Sonya. Mana mungkin dia tahu mengenai segala hal yang menimpa laki-laki malang itu. Bahkan, aku yang notabene merupakan manusia yang paling dekat dengannya saja, sampai sekarang, tidak pernah tahu dengan pasti, alasan orangtuanya melakukan itu. Dia sama sekali tidak pernah memberitahukan alasannya pada siapapun. Seakan-akan alasan itu begitu hinanya. Hingga dia tidak ingin membagi dengan siapapun.
Aku sedang dalam perjalanan menuju tempat itu, tempat kesukaan dirinya di kota ini. Sebuah bangunan tua yang sudah tidak terpakai. Di atap bangunan ini, dia seringkali mendengarkan kesunyian dunia, hanya untuk dirinya sendiri. Suatu kali aku pernah membuntutinya, dan ketahuan olehnya. Waktu itu dia hanya tersenyum padaku, dan mengajakku untuk berada di sampingnya. Tidur di lantai seperti sekarang ini, memandangi atap di atas sana. Sang langit.
“Sini, Anne...”
“Kamu ngapain di sini, Jay?”
“Kalo mau tau, kesini aja dulu...” Lagi-lagi dia membentuk seulas senyum disana.
Aku pun menghampiri dirinya. Ikutan memandangi langit diatas sana. Warnanya biru sekali. Indah. Sangat indah. Aku melihat dirinya. Sedang memejamkan kedua matanya. Wajahnya begitu teduh. Aku selalu ingin menggapai dirinya.
“Indah, bukan?” Dia bertanya sembari tetap memejamkan kedua matanya. Aku sampai terhenyak sendiri. Takut-takut dia menyadari tatapanku sedari tadi.
“Bukankah matamu sedang terpejam? Apa yang bisa kau lihat, kalau matamu terpejam seperti itu?”
Lagi-lagi dia tersenyum dan berkata dengan tenang, “aku tidak sedang melihat apapun. Tapi, sedang mendengarkan sesuatu yang sangat indah. Dia berbisik lembut ke dalam telingaku.”
“Benarkah? Apa itu?” Tanyaku penasaran.
“Mendengarkan kesunyian dunia ini, yang dibisikkan dengan teramat lembut oleh sang angin...”
Aku tersenyum. Dia selalu dapat membuat kesakitan menjadi sebuah puisi yang indah. Yang keindahannya melebihi hal yang ada didunia ini.
Aku membuka perlahan pintu tua ini. Bunyinya pun terdengar sangat khas. Aku menyapukan pandanganku. Sensor mataku sibuk mencari dirinya. Dan akhirnya kutemukan! Dia ada di tempat yang sama. Bertahun-tahun yang lalu. Sedang rebahan, seperti dahulu.
Aku melangkahkan kakiku menuju dirinya. Perlahan-lahan. Takut membuatnya terbangun.
“Anne...” Tiba-tiba kalimatnya mengejutkanku. Kedua matanya masih terpejam.
“Kok kamu tau ini aku?”
“Aroma.”
“Aromaku?” Aku langsung sibuk menciumi tubuhku sendiri. Masa iya aromaku bisa tercium olehnya?
“Iya, aromamu. Lavender. Selalu. Dari dulu.”
Aku tertegun. Iya, dia benar. Lavender memang selalu menjadi aroma kesukaanku. Laki-laki ini selalu mengingatnya dengan baik rupanya. Seulas senyum terbentuk dibibirku saat ini.
“Sini. Berbaringlah disini.” Dia memukul lantai tersebut menggunakan tangannya.
Aku berbaring mengikuti keinginannya. Dia masih disana. Terpejam. Dengan wajah tenangnya yang mengagumkan. Aku memperhatikan dirinya. Bekas cukurannya yang tidak terlalu bersih. Rahangnya yang kokoh. Garis-garis wajahnya yang selalu membuatku jatuh hati.
Aku berbalik dan menatap sang langit. Kemudian, memejamkan kedua mataku. Untuk dapat bersama-sama
mendengarkan kesunyian dunia bersama dengan laki-laki ini.
******************