A Beautiful Madness

A Beautiful Madness
His name is Jay



Adrianne POV


 


“Namanya Jarjani Wicaksono. Dia biasa dipanggil Jay.”


Aku mengawali ceritaku pada perempuan yang sedang haus akan rasa penasaran itu. Sedari tadi pandanganku memang tidak pernah benar-benar melepaskan laki-laki satu itu. Jadi, saat ini aku sedang dalam situasi interogasi yang diciptakan olehnya.


 


 


“Gue udah tahu namanya. Gue bisa baca dengan jelas di banner-banner itu, yang mau gue tahu, hubungan kalian itu apa?” tanyanya dengan nada yang tidak sabar.


 


Astaga, perempuan ini sangat tidak sabaran. Tidakkah dia tahu kalau aku sedang menyampaikan kalimat pembuka dari keseluruhan ceritaku tentang laki-laki itu?


 


Namun, aku hanya tersenyum menanggapinya dan meneruskan kembali ceritaku, berpura-pura tidak terganggu dengan perkataannya barusan.


 


“Kamu ingat gak kalau sebelum aku diangkat sebagai anak dari orangtuaku sekarang, aku adalah seorang anak yatim piatu. Sebelum aku pindah ke Jakarta, aku hanya seorang anak panti asuhan di Jogjakarta. Ingat?”


 


Dia terlihat berpikir sebentar, lalu mengangguk, mengiyakan.


 


Aku menarik napasku perlahan dan melanjutkan dengan kalimat, “aku dan Jay, kami adalah kawan lama di panti


asuhan itu. Kami berasal dari sebuah panti asuhan yang sama.”


 


Perempuan dihadapanku mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Ekspresinya terlihat lucu, “Jadi kalian itu temen dari kecil?”


 


Aku mengangguk.


 


Dia terdiam sebentar lalu bertanya kemudian, “Lalu, gimana caranya kalian ketemu lagi? Jogjakarta dan Jakarta kan dua kota besar yang berbeda. Apa kalian bertemu di Jogja, atau di sini? Di Ibukota?”


 


 


Perempuan ini lagi-lagi hanya mengangguk-angguk dan terdiam, lama. Sampai dia mengalihkan lagi tatapannya ke arah laki-laki itu. Dan aku pun mengikuti arah pandangannya. Laki-laki itu sedang menatap lama ke arah kami. Ekspresi di wajah itu selalu sama. Selalu tidak pernah dapat terbaca olehku. Namun, guratan kesedihan selalu tak pernah absen di mata itu.


Mata yang mampu membuatku jatuh hati, mata yang mampu membuatku berdebar tak karuan, mata yang sama yang sanggup membuatku kembali jatuh cinta sekalipun kami tidak bertemu untuk waktu yang sangat lama.


 


 


“Jay, apa yang akan kamu lakukan kalau suatu saat nanti aku sudah tidak ada di sini?” Aku tiba-tiba bertanya bodoh pada dirinya.


 


 


Jay hanya menoleh sebentar padaku, diam, lalu tetap melanjutkan hobinya. Menulis.


Dan aku dengan sabar, akan tetap bertanya padanya. “Jay, ayolah jawab.” Lagi-lagi Jay hanya memandangiku dan lagi-lagi dia mengalihkan pandangannya, namun, kali ini ada jawaban darinya.


 


“Entahlah. Mungkin akan tetap seperti ini. Menulis di halaman belakang sini, bedanya, hanya tidak ada dirimu disampingku. Di sini.”


 


Aku hanya tertegun hari itu. Tidak ada kalimat apapun lagi yang mampu keluar dari bibirku.


 


Aku tersenyum, masih memandangi laki-laki itu, namun, khayalanku melayang jauh menembus dimensi waktu. Berada jauh sekali dari waktu sekarang.


 


Kami masih salah melemparkan pandangan. Aku akan tetap tersenyum padanya, dan dia hanya akan memandangiku dengan tatapannya yang datar.


Dari dulu aku selalu tahu. Sampai kapanpun, diantara aku dan laki-laki itu, selalu dan selalu, aku yang akan jauh lebih mencintainya.


 


Lebih dari apapun yang kumiliki di dunia ini.


 


***********************