A Beautiful Madness

A Beautiful Madness
Again?



Jay POV


 


 


 


Dia kenapa?


 


 


Aku panik sekali, bahkan sampai tidak sempat menelepon ambulance. Di dalam otakku suruhannya hanya satu dan begitu terdengar jelas.


 


 


 


 


Pergi! Bawa perempuan ini ke rumah sakit!


 


 


 


Jadilah aku menurutinya.


 


 


 


Kini kulajukan kendaraanku dengan kecepatan diatas kecepatan biasa. Aku tidak perduli. Aku tidak bisa membiarkan ada manusia yang lain, mati dihadapanku. Lagipula, rasanya seperti déjà vu'. Keadaan ini entah kenapa terasa sangat sama dengan waktu itu. Dan, tidak akan ada korban untuk kedua kalinya. Makiku dalam hati.


 


 


 


 


Aku menggenggam setir mobilku dengan teramat kuat. Geram sendiri.


 


 


 


 


Tidak berapa lama kemudian, aku telah sampai di sebuah rumah sakit premium yang cepat dalam menangani pasien. Langsung kugendong dirinya dan membawanya ke dalam ruang pemeriksaan.


 


 


 


 


Aku menunggu dengan sangat tidak sabar di luar sini. Dan berusaha mengingat-ingat, kenapa hal tersebut dapat


terjadi. Dia sedang bercerita dengan sangat antusias mengenai masa lalunya, lalu, tiba-tiba, dia diam. Pandangannya kosong, dan segalanya terjadi begitu cepat.


 


 


 


 


 


Aku menegakkan bahuku, tegang, astaga, apakah mungkin? Jangan lagi, Tuhan. Runtukku sendiri. Jangan lagi kau pertemukanku dengan penderita yang sama dengan dirinya. Aku tidak sanggup jika harus melihat kematian lagi dihadapanku.


 


 


 


Tidak berapa lama, seorang dokter dengan pakaian serba hijau keluar dari ruang UGD. Dia bertanya padaku, pelan,


“anda keluarga pasien?”


 


 


 


Aku bingung harus menjawab apa. Sementara aku sama sekali tidak kenal dengan keluarganya. Satu-satunya orang yang mengenal dirinya lebih baik dariku, sedang tidak ada di kota ini. Anne.


Yasudahlah kalau begitu. Mau bagaimana lagi.


 


 


 


“Iya, dok. Saya kakak sepupunya.” Aku menjawab.


 


 


 


Sang dokter hanya mengangguk-angguk singkat dan berkata, “pasien sudah tidak apa-apa, namun, masih benar-benar harus istirahat dengan tenang.”


 


 


 


Ketika sang dokter akan pergi meninggalkanku, aku menahannya, dan bertanya pelan, “dia kenapa dok?”


 


 


 


 


 


 


Aku menggeleng.


 


 


 


Sang dokter mengambil napas panjang dan berujar, “hal seperti ini memang sering terjadi. Si pasien sengaja


merahasiakan penyakitnya, agar keluarganya tidak khawatir. Adik kamu menderita penyakit kelainan jantung. Dan meskipun belum dapat dipastikan, tapi, sepertinya, dia menderita penyakit ini, sedari kecil dulu.”


 


 


 


 


Aku terdiam. Tertegun. Pandanganku sekarang pastilah teramat kosong. Aku bingung, harus bereaksi seperti apa.


Terkejutkah? Biasa saja kah?


 


 


 


 


“Kalau gitu, saya permisi dulu yah. Kamu bisa ke dalam kalau mau.” Sang dokter tersenyum singkat padaku dan pergi berlalu.


 


 


 


 


Sakit jantung? Kelainan jantung? Dari kecil?


 


 


 


Aku tertawa.


 


 


 


Lagi-lagi kau pertemukanku dengan penderita yang sama dengannya.


 


 


 


Aku masih terdiam, duduk di bangku besi ini. Ragu untuk menemuinya, yang kini sedang terbaring tak sadarkan diri


di dalam sana. Aku membenamkan wajahku dalam kedua tanganku. Pusing.


 


 


 


 


Setelah kesadaran penuh menguasaiku, barulah aku menuju kamarnya. Membuka pintu itu dengan perlahan.


Takut membangunkannya.


 


 


Dia sedang mendengkur pelan disana. Aku tertawa. Manusia terkenal sepertinya bisa juga melakukan hal memalukan seperti itu. Aku mengangkat kursi perlahan dan kutaruh disamping persis tempat tidurnya. Aku diam disana.


 


 


Disaat-saat seperti ini, ingatan mengenai dirinya kembali memenuhi ruang kepalaku. Aku benci rumah sakit. Aku tidak pernah ingin menghabiskan malamku di rumah sakit. Karena dengan mencium baunya saja, mimpi buruk itu hadir dengan sangat cepatnya ke hadapanku.


 


 


 


 


Aku terdiam dan memandangi dirinya.


 


Aneh, ada rasa tenang, melihatnya seperti itu.


 


 


 


Aku lelah, kusandarkan kepalaku.


 


 


 


Dan tahu-tahu aku sudah terlelap.


********************