A Beautiful Madness

A Beautiful Madness
Heartbeat



Anne POV


Setelah menemaninya beberapa hari yang lalu di tempat kesukaannya, satu pun pesan teks tidak pernah kuterima


darinya. Aku tahu dari dulu dia bukan merupakan manusia yang penuh perhatian. Aku juga sadar akan hal itu. Tapi, kami sudah sama-sama dewasa, masa iya dia tidak bisa melihatku sebagai seorang perempuan yang bisa dia cintai, bukan sebagai teman semasa kecil? Masa iya, dia tidak menyadari perasaanku padanya, setelah sekian lama?


Setelah menghubunginya berkali-kali, dan selalu saja masuk ke dalam kotak suara. Aku jadi khawatir dengannya,


teringat yang terjadi padanya beberapa tahun silam. Dia kutemukan tengah demam tinggi di kamarnya, untung saja aku punya kunci duplikat rumahnya, jadi aku bisa masuk ke dalam dan langsung merawatnya. Aku takut jika kejadiannya akan seperti waktu itu lagi.


“Sya, aku pulang duluan yah...” Setelah merapikan meja kerjaku, aku berpamitan dengan Tasya.


Tasya hanya mengangguk mengiyakan.


Kusambar kunci mobilku dan langsung berlari menuju mobilku di parkiran. Di dalam pikiranku sedang bergelayut manja bayangan dari laki-laki rupawan namun tidak peka itu. Ku-starter mobilku, dan sambil terus merapalkan sebuah doa. Berharap bahwa dia baik-baik saja disana.


********************


Jay POV


Aku terbangun dengan bunyi alarm yang kencang luar biasa. Pukul berapa sih memangnya sekarang? Aku menggeliat, mencoba menyingkirkan botol alkohol yang kupeluk dari semalam. Aku masih belum mau membuka mata, kesadaran masih belum bisa memegang kendali akan tubuhku saat ini. Meski rasanya badanku seperti patah-patah, tapi, badanku terasa telah menempel di lantai ini. Tidak mau lepas. Tidak ada yang bisa membangunkanku. Aku terlelap kembali.


“Cklek...” Sayup-sayup kudengar kenop pintuku dibuka oleh seseorang. Ah, siapa pula yang punya duplikat


kunciku? Pasti hanya perasaanku saja.


Nah, kali ini malah suara derap langkah seseorang mengenakan high heels. Kenapa aku bisa tahu? Mudah saja, langkah kaki dengan mengenakan high heels selalu terdengar feminim di telingaku. Sang pemiliknya berhenti


tepat disamping kepalaku. Entah apa yang dilakukannya. Mungkin sedang memandangi rupaku yang menyedihkan saat ini. Dia meletakkan tasnya sedikit jauh dari tempatku merebahkan diri. Namun, aku masih dapat mendengarkan suaranya.


Kali ini, dia berjongkok, dengkulnya tidak diletakkan dengan hati-hati sehingga menimbulkan suara tubrukan. DUG. Pasti sakit. Gumamku, hanya dalam kepalaku saja.


Ada jeda cukup lama sampai kemudian dia menempatkan punggung tangannya pada dahiku. Hangat dan wangi. Kombinasi yang dapat menenangkanku. Aku suka wangi ini. Lavender. Bahkan ketika dalam imajiku, selalu saja bayangan kelembutan dirinya yang memenuhi ruang kepalaku. Dan kini, suara lembutnya perlahan meminta kesadaranku.


“Jay... Jay...” Begitu dia memanggilku.


Kedua mataku masih terpejam sempurna. Aku masih menikmati sentuhan tangannya yang luar biasa memabukkan


itu. Aku tidak pernah mau mengakui ini dihadapannya, namun, perubahan dalam hidupku terjadi berkat perempuan ini dan tanpa dia sadari, dia telah membuatku jatuh cinta pada semua hal yang dia lakukan untukku.


“Jay... Jay...” Dia memanggilku lagi.


Entah kenapa kali ini terasa lebih nyata dibandingkan yang tadi. Sentuhannya yang semula lembut berubah menjadi


cubitan yang keras di pipiku. Membuatku terlonjak kaget dan mau tidak mau membuka kedua mataku.


“Aduh! Sakit!” Bentakku padanya.


Sementara yang dibentak justru hanya cengar cengir saja. Puas sekali dia membuat pipiku terluka.


“Kenapa jail gitu sih? Ini kan masih pagi!!!” Hardikku lagi.


“Abisnya aku udah ngetok pintu rumah kamu ratusan kali, tapi, gak ada jawaban sama sekali. Yaudah aku masuk


aku, nyelonong ke dalam. Pas aku ke kamar kamu, kamunya kayak orang mati gitu. Gelepar di lantai, dengan botol alkohol yang gak jauh dari kamu, trus seluruh badan kamu bau alkohol. Aku yang tadinya ngira kamu kenapa-napa, kan jadi kesel. Ternyata kamunya malah mabok...” Gerutunya panjang lebar.


Ketika dia akan mulai menggerutu kembali, buru-buru aku membekap mulutnya. Kadang kala dia bisa jadi sangat


berisik seperti saat ini. Kalau cerewetnya sudah kambuh, dia bisa mengomeliku dari A sampai Z, dan tidak henti-hentinya. Kepalaku terlalu pening untuk mendengarkan ocehan darinya. Biarpun dia sangat lembut dan baik hati, namun, perempuan akan tetap menjadi perempuan. Kodrat mereka memang seperti ini. Cerewet.


Aku menyeretnya, setengah menggendongnya keluar dari kamarku, menuruni tangga untuk sampai ke lantai dasar. Aku perlu minum. Dan perempuan cerewet ini perlu berhenti. Setelah sampai di lantai dasar, aku melepaskan gendongan serta bekapanku darinya.


“KAMU! IH, TERLALU!!!” Bentaknya, tak mau kalah dariku tadi.


Aku tidak perduli. Aku berjalan menuju lemari pendingin, untuk mengambil minuman. “Kamu mau minum apa?” Aku


bertanya padanya sembari melihat ke arahnya.


Namun, dia sedang melakukan aksi tutup mulut dan balik badan, dia tidak ingin melihat ke arahku. Jadilah, aku


mengambil satu minuman hydrate untukku dan satu kaleng cola untuknya. Lalu, menghampiri dirinya yang kini duduk di sofa yang langsung mengarah ke patio yang dibatasi oleh pintu kaca ini.


“Nih buat kamu...” Aku menyodorkan cola tepat dihadapannya.


Dia menggeleng dengan bibir yang cemberut seperti sekarang ini, dia terlihat lucu sekali.


“Kalo kamu gak mau, aku juga bakal ikutan ngambek sama kamu..” Aku berbicara seperti itu namun, kontras dengan senyuman yang tidak henti tercipta di bibirku.


“Kok gitu?! Kok jadi kamu yang marah sama aku?!” Dia terpancing.


Ah, mudah sekali memancingnya untuk bicara. Dasar manusia mudah terbaca. Aku hanya senyum-senyum saja, tak menanggapi ucapannya dan tetap menyodorkan minuman kaleng itu tepat dihadapannya. Dia masih terus diam. Tidak lama lagi. Tunggu saja. Nah! Benar kan apa kataku? Tidak sampai semenit, dia sudah meraih minuman kaleng itu. Dasar. Aku senyum-senyum sendiri. Lagi.


Dia masih cemberut saja disana.


Kami masih saling diam, sibuk dengan minuman masing-masing. Hanya suara air yang mengalir tepat dihadapan


kami yang memenuhi ruang-ruang pendengaran kami. Tidak ada yang lain.


“Jay...” Kalimat pertama darinya setelah—aku melirik jam dindingku—mungkin 2 jam lamanya.


“Hemmm...” Aku menjawab sambil terus meminum minumanku yang anehnya tidak habis-habis ini.


“Kamu udah gak marah kan sama Sonya?” Tanyanya. Kali ini dengan nada takut-takut.


Aku menaikkan sebelah alisku. Memangnya kenapa aku harus marah dengan Sonya? “Maksudnya?” Itu respon pertama dariku.


“Jadi, kamu udah gak marah kan sama dia?” Mendengar respon dariku, pertanyaannya kali ini diutarakan dengan nada yang jauh, jauh lebih riang.


“Kenapa aku harus marah sama dia?” Kataku dengan nada yang seperti orang bingung.


“Kok kamu malah nanya sama aku sih?” Giliran dia yang menjadi kebingungan.


“Yaiya, soalnya aku gak ngerti, kenapa aku mesti marah sama dia?”


“Bukannya terakhir kamu ketemu sama dia, kalian berdua berantem, yah?”


Ohiya yah! Aku menepuk dahiku. Pertanyaannya kali ini mengingatkanku mengenai pertengkaran dengan Sonya di rumah sakit waktu itu. Benar juga yah, aku sampai lupa habis bertengkar dengannya. “Udah enggak kok, Anne..” Akhirnya jawaban itu yang kuberikan padanya.


Dia selalu aneh. Padahal aku dan Sonya yang bertengkar, namun, dia akan menjadi manusia yang paling senang mendengar bahwa aku sudah tidak marah pada Sonya. Manusia yang aneh.


Saking anehnya dia sampai memelukku. Sentuhannya yang tiba-tiba itu membuat darahku berdesir sampai ke dalam kepala, jantungku berdetak jauh lebih cepat, dan aku tidak bisa fokus sama sekali pada semua kalimat yang dia ucapkan ketika memelukku. Kenapa begini? Aduh, kamu bisa kehilangan wibawamu kalau sampai terlihat salah tingkah di hadapannya.


“Jay, kamu denger gak sih?” Dia melepaskan pelukannya padaku yang berujung pada kekecewaanku.


Dan kenapa juga aku mesti kecewa seperti ini sih? Jangan bodoh, Jay.


“Kenapa, Anne?” Tanyaku kembali. Mencoba menutupi kegugupanku akibat pelukannya yang tiba-tiba itu.


“Lagi mikirin apa? Sampe omonganku aja sama sekali gak kamu dengerin gitu, hmm?...” Dia memiringkan kepalanya, guna memeriksa kondisiku.


“Enggak, enggak mikirin apa-apa kok..” Jawabku cepat. “Jadi, tadi kamu ngomongin apa?” Sambungku lagi.


Dia menghembuskan napasnya, tanda tidak mempercayaiku tapi, terpaksa mempercayaiku, “aku bilang, besok malem, kamu bisa gak ketemu sama Sonya di Luminere?”


“Luminere? Kenapa gak dirumahnya kayak biasa?”


“Katanya sih dia lagi mau ganti suasana. Lagian dia bosen di rumah sakit, terus di rumahnya juga...”


“Oh gitu... Yaudah, aku sih oke-oke aja terserah dia..”


Setelah mendengar jawabanku, lagi-lagi dia menyentuhku. Kali ini di tanganku yang bebas, yang sedang tidak


memegang kaleng minuman. Dan lagi-lagi, desiran seperti tersengat listrik mengaliri darahku.


Kupandangi diam-diam perempuan yang sedang sibuk dengan ponselnya sekarang. Dan menyadari sesuatu. Sepertinya aku telah jatuh begitu dalam sekarang.


SIALAN! Batinku.


********************