
Sonya POV
Mendengar kalau dia sudah tidak lagi marah denganku rasanya senang sekali. Akhirnya sekarang aku bisa melihat
tampang jutek itu lagi. Ada sesuatu dari dirinya yang membuatku ingin bertemu lagi. Selain karena dia salah satu laki-laki yang mengerti mengenai emosi dalam karya seniku, ada sesuatu yang lain di dirinya. Dia salah satu teman berbincang yang menyebalkan sekaligus menyenangkan.
Tidak berapa lama kemudian, seorang laki-laki yang teramat tinggi dengan proporsi badan sempurna berjalan memasuki restoran ini. Pandangan matanya yang tidak pernah sekalipun ditundukkan itu, menandakan kalau dia memang manusia yang teramat percaya diri. Tapi, selalu saja ada kesan misterius di matanya yang pekat itu.
“Lama yah?” Sapanya, begitu sampai di mejaku. Meja kami.
Aku menggeleng pelan. Memperhatikan dirinya dari dekat. Dia terlihat teramat segar, berbeda dengan terakhir kali
aku melihatnya di rumah sakit. Dia begitu kucel dan lelah. Kali ini pesonanya yang dingin kembali terpancar keluar melalui tatapannya yang begitu dingin.
“Lo udah pesen?” Tanyanya sembari membolak balikkan buku menu.
“Belom sih. Nungguin lo, pesennya.” Jawabku santai.
Dia hanya mengangguk sekilas. Aku pun kini tenggelam didalam buku menu. Ah, sebenarnya aku sama sekali tidak
perlu melihat menu. Aku akan memesan kesukaanku. Aku mengangkat tinggi tanganku, dan memanggil seorang pelayan yang tengah berdiri tidak jauh dari kami. Dia menghampiri kami dan kemudian bertanya sopan.
“Sudah siap pesan? Mau pesan apa?”
“Abacchio al forno.”
“Abacchio al forno.”
Aku dan Jay saling bertatapan dan kaget. Dia juga suka domba panggang rupanya? Dan seakan bisa membaca pikiranku dia berkata, “Doyan domba panggang juga lo?”
Aku mengangguk.
“Baik, 2 porsi Abacchio al forno. Untuk minumannya?” Sang pelayan bertanya kembali pada kami.
“Chianti..”
“Chianti..”
Lagi-lagi kami berdua menoleh satu sama lain dan terkejut. Chianti bukan satu-satunya minuman alkohol, bukan? Kenapa dia memesan menu yang serupa denganku?
Keterkejutan kami tidak dilanjutkan karena ucapan sang pelayan yang membuyarkan konsentrasi. Setelah sang pelayan pergi, kami duduk dalam diam. Dalam temaramnya penerangan di dalam restoran ini.
“Ehem..” Aku berdeham, mencoba memecah kesunyian yang ada. Uh, aku benci sunyi. “Jadi, apa kabar biografi-nya?” Aku bertanya basa basi.
“Masih proses...” Dia juga menjawab basa basi.
Seingatku, aku sudah cukup banyak membahas mengenai diriku, mungkin, sekarang ini, dia telah mengetahui tentangku lebih banyak ketimbang teman dekatku sendiri. Kemudian, muncul ide iseng di kepalaku. Aku ingin lebih banyak mengetahui tentang dirinya. “Jadi, gimana?”
“Apanya?”
“Hidup, cinta, keluarga?”
Dia hanya diam. Tidak menjawab. Bahkan tidak melihat mataku ketika aku berbicara padanya. Tidak sopan.
“Ayolah, gue bahkan udah cerita detail-detail kecil dihidup gue. Masa lo gak mau gantian sih?” Tanyaku penasaran.
“Emang lo pikir, gue mau tau soal hidup lo? Kalo bukan karna kerjaan juga gak mau. Ikut campur itu sama sekali
bukan sifat gue.”
Tuhkan mulai deh nyebelinnya.
“Ya, paling enggak, cerita apa kek gitu. Pelit banget!” Rengekku padanya.
Awalnya dia sama sekali tidak terganggu dengan kalimatku yang bertubi-tubi, namun, akhirnya dia menyerah
juga, tepat ketika pesanan kami sudah diantarkan.
“FINE! Apa yang lo mau tau tentang gue?” Jawabnya kesal.
Hihihi. Dia lucu sekali kalau sedang kesal seperti itu.
“Emm, apa yah? Oh, ceritain tentang asal usul lo.” Sehabis mengeluarkan pertanyaan itu, mendadak aku terdiam. Aduh, bodoh! Dia kan dari panti asuhan, kenapa kamu menanyakan pertanyaan macam itu padanya?
Dia terdiam dengan pertanyaanku. Sepertinya tidak nyaman. Buru-buru aku meralatnya.
“Sori, sori... gak usah bahas itu kalo lo gak mau. Ceritain aja soal..” Belum sempat aku melanjutkan kalimatku,
seorang laki-laki dengan tangan yang cukup besar, tiba-tiba saja memelukku.
Aku mengerjapkan mataku. Jay yang berada di hadapanku juga sedikit terkejut.
“Nya...Kemana aja sih? Ditelfonin gak pernah bisa gitu?!” Si pemilik suara yang masih memelukku, perlahan
kuketahui siapa gerangan.
Tristan.
Aku melepaskan pelukanku perlahan darinya, “Tan! Ngapain disini?!”
“Makan lah, Nya. Ngapain lagi?! Kamu kesini sama siapa?” Tanyanya dengan lirikan yang tidak lepas pada Jay.
Aku tidak menjawab hanya tertawa saja.
“Dia siapa? Pacar kamu?” Kali ini dia bertanya dengan nada yang mulai menyebalkan di telingaku. Memangnya dia pikir, dia siapa?
“Emang kalo iya, kenapa?” Jawabku sambil tertawa padanya.
Ekspresi Tristan saat ini sama sekali tidak dapat terbaca, namun, ada semburat perasaan kecewa di pandangannya. Kenapa juga dia mesti kecewa?
Tristan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum lemah, dan pergi dari meja kami.
Aku melihat punggungnya berjalan perlahan menjauhi kami.
“Tadi pacar lo?” Tanya Jay sambil memotong daging domba di piringnya.
“Bukan. Temen doang. Gue juga gaktau kenapa dia aneh kayak gitu..” Jawabku sambil memotong daging domba juga di piringku.
“Kok aneh sih?”
“Hemm? Maksudnya?” Tanyaku balik padanya. Tidak mengerti.
“Dia gak aneh kali. Dia tuh suka sama lo. Masa gitu aja lo gak ngerti?” Tawanya.
Aku mengernyit, bingung, “suka? Ngaco lo! Dia tuh temen gue dari lama. Gak mungkin dia ada rasa sama gue..”
Kali ini tawa Jay meledak. “Gila! Lo tuh bener-bener **** tau gak!”
Aku masih bingung menanggapi dirinya yang tak henti-henti menertawaiku itu. Sambil tetap memotong-motong
daging domba di hadapanku.
Bermenit-menit kemudian, kami mulai bertukar cerita. Dari mulai soal buku kesukaan, film kesukaan sampai kemudian saling bertukar pikiran mengenai cinta dan sejenisnya. Tidak kusangka, banyak sekali persamaan dari kami. Dia dan aku sama-sama memiliki ketertarikan terhadap film-film absurd karya David Fincher, kesukaanku adalah se7en sedangkan dia adalah fight club. Kami juga sama-sama menyukai sutradara nyentrik David Lynch.
Meskipun sama-sama menyukainya, namun, ada beberapa karyanya yang tidak sanggup masuk ke dalam kepalaku. Contohnya saja eraserhead. Dan ketika dia tahu kalau aku sama sekali tidak mengerti karya Lynch yang satu itu, dia langsung terpingkal-pingkal menertawakanku. Seperti bahagia sekali melihat wajahku yang kebingungan setiap kali dia memberikan komentar mengenai salah satu scene, bahkan tak jarang dia menjelaskan
padaku, membuatku agar dapat mengerti. Tapi, tetap saja, film Lynch yang satu itu tidak akan pernah bisa masuk kedalam kepalaku. Terlalu rumit.
Kami pun dengan sangat menggebu-gebu, antusias dan seru-serunya membahas mengenai musik. Kali ini, aku pro terhadap klasik, sedang dia lebih suka alternative-rock. Kami bertengkar, membahas mana yang lebih kece, antara Maksim Mrvica dengan Foo Fighters. Dan berakhir berdarah-darah. Tidak ada yang mau mengalah.
“Yang lagi kita omongin ini Foo Fighters, Nya! Dave Grohl! Jangan bandingin sama pianist itu lah!” Dia memutar matanya.
“Heh! Kalo lo udah liat permainan dan kelihaian Maksim di tuts-tuts piano, kalo gak jatuh cinta berarti lo buta dan budeg!” Aku membalas tidak kalah menyakitkan darinya.
Perdebatan itu berlangsung tidak tahu berapa jam lamanya. Tidak ada yang dapat menghentikanku dan dia. Kami terus adu mulut. Padahal orang bijak pernah bilang, manusia yang berdebat dengan menggunakan emosinya hanya akan terlihat bodoh dan tidak berguna. Tapi, itulah yang kami lakukan.
Sampai kemudian, perdebatan itu berhenti oleh sebuah suara perempuan yang membuyarkan konsentrasi. Bukan konsentrasiku melainkan konsentrasi laki-laki yang ada dihadapanku.
“Hay, Jay...”
Suara itu membuatnya menoleh. Aku yang sama sekali tidak menggubris apapun, hanya fokus pada perdebatan kami, jadi ikut menoleh mencari asal muasal dari suara tersebut. Kudapati seorang perempuan yang berusia jauh diatas aku, bahkan Jay, namun, terlihat masih teramat cantik, mengenakan dress berwarna putih dengan perhiasan yang cukup banyak melingkari tubuhnya. Dia terlihat amat sangat glamour.
Tapi, bukan itu yang menarik minatku. Melainkan ekspresi laki-laki di hadapanku yang sulit untuk terbaca. Jelas bahwa ada ekspresi terkejut, pucat pasi bahkan ada sedikit luapan energi kemarahan di mata itu.
Pertanyaannya kemudian, siapa perempuan ini?
Jay yang tampak masih terkejut, tiba-tiba saja berdiri dan meraih tangan perempuan itu, dia menariknya dan keluar dari restoran ini. Ponsel miliknya tidak dia bawa, dan dia sama sekali belum berpamitan denganku, jadi, dia pasti kembali. Mungkin dia hanya ingin berbicara secara pribadi dengan perempuan yang tadi.
Aku masih bertanya-tanya didalam pikiranku, mengenai siapa perempuan itu. Sampai di satu kemungkinan, sekelebat kemungkinan yang buruk menghinggapi kepalaku. Tapi, aku langsung cepat-cepat mengusirnya. Tidak
mungkin! Tidak mungkin! Bisikku berulang kali.
Tidak lama berselang, Jay kembali masuk kedalam. Tampangnya kusut sekali. Berbeda dengan pertama kali dia datang kesini. Dia hanya diam dan duduk dihadapanku, kembali menyantap makanannya. Seakan-akan tidak ada yang terjadi tadi.
Aku bukan orang yang suka jika ada sesuatu yang menghinggapi kepalaku dan menggangguku, jadilah aku bertanya padanya. Dengan kalimat yang sehalus mungkin, “dia siapa, Jay?”
Tidak ada jawaban.
Baiklah aku menyerah, mungkin memang aku tidak perlu ikut campur mengenai masalahnya. Tapi, kemudian, jawabannya itu membuatku mengingat kemungkinan terburuk itu.
“Dia perempuan dari masa lalu gue...”
Hanya itu. Tapi, mungkinkah itu berarti Jay adalah...?
*******