
Anne POV
Sebenarnya apa yang sedang kamu rencanakan ?
Merupakan kalimat terakhir Jay sebelum aku menutup pintu ruanganku tadi. Aku tidak menjawab. Karena
aku tahu, dia pasti tidak akan setuju dengan rencanaku ini. Aku menyalakan mesin mobilku dan segera bergegas menuju lokasi janji temuku dengan Sonya.
Jarak kantorku cukup jauh dari lokasi temu kami. Aku tahu dia akan memilih restoran itu untuk bertemu. Karena
restoran itu adalah restoran kesukaan kedua orangtuanya selama masa pacaran dahulu, dan sekarang menjadi kesukaannya juga. Hari ini jalanan sangat bersahabat, karena aku sama sekali tidak menemui kemacetan yang berarti. Sehingga dalam waktu hanya 1 jam, aku sudah sampai di restoran ini.
Aku masuk ke dalamnya dan mengedarkan pandanganku, mencari sosok perempuan yang kukenal.
Ah itu dia!
Aku menemukannya! Sesosok perempuan berambut pendek sebahu dengan kulit putih dan kacamata yang bertengger di hidungnya yang sempurna, sedang membaca sebuah buku. Entah buku apa itu. Posisi duduknya yang selalu tegak dengan dagu yang selalu diangkat ke atas, sekilas menyiratkan keangkuhan di dalam dirinya.
Namun, percaya atau tidak, selama berteman dengannya, sekalipun dia tidak pernah sombong, angkuh atau membanggakan dirinya sendiri. Benar memang apa kata orang, jangan pernah menilai seseorang hanya dari tampilan luarnya saja.
“Hay, Nya. Sori, lama yah?”
Sonya mendongakkan kepalanya dan tersenyum padaku sambil menggeleng pelan. Dia menutup bukunya, dan menaruhnya di kursi sebelahnya. “Santai aja Anne. Ohya, gue udah pesen. Lo pesen gih.”
Aku memanggil seorang pelayan dan menyebutkan pesananku. Singkat.
Kini, dia memperhatikanku dan menungguku untuk bicara. Aku melihat matanya yang tajam dan intimidatif. Kalau aku tidak mengenalnya, mungkin saat ini aku sudah ketakutan setengah mati.
Aku berdeham pelan dan memperbaiki posisi dudukku. Kuraih tasku dan kutarik keluar dokumen yang telah kupersiapkan. Aku membukanya dan menyodorkannya tepat di hadapan Sonya.
Dia terlihat bingung, namun, aku memberinya isyarat untuk membaca dokumen yang ada dihadapannya. Masih dengan ekspresi bingung, dia menuruti keinginanku. Dia mulai membaca, sesekali matanya melirik padaku. Aku tahu dia pasti kebingungan, namun, jika dia terus membaca lembar demi lembar, lambat laun dia pasti mengerti.
“Jadi, lo mau minta bantuan apa dari gue?”
Aku tersenyum, aku tahu kalau dia pasti mengerti kesulitanku saat ini. “Ini berkaitan sama Jay. Penulis
yang tempo hari meluncurkan buku di Luminere.”
“Iya, gue tahu. Lalu?”
“Jadi, setelah peluncuran bukunya itu. Salah seorang editor legendaris, Keenan Pranadipa, merilis sebuah artikel yang cukup provokatif di salah satu rubrik yang pembacanya paling banyak di ibukota. Dan hal itu berdampak secara langsung maupun gak langsung, terhadap penjualan buku Jay, dan dalam sejarah One Life Press, kejadian seperti ini gak pernah terjadi sekalipun. Jadi, aku dan timku sedang mengusahakan untuk tetap melakukan promosi untuk buku ini, tapi, aku tau, harus ada seseorang yang punya nilai positif di masyarakat dan media, yang sekarang sedang menjadi media darling, yang bisa membantu kami.”
Sonya terlihat mengernyitkan dahinya bingung dan sedetik kemudian mengerjapkan matanya, “maksud lo... gue?”
Aku mengangguk. Sonya langsung tergelak dan menolak mentah-mentah.
“Anne, lo itu temen deket gue. Dan gue akan ngebantuin lo kalo lo punya masalah apapun itu. Tapi, laki-laki yang
namanya Jay itu, emang pantes dapetin review negatif dari media. Tingkahnya tempo hari tuh membuktikan segalanya. Jadi, untuk kali ini, sori, tapi gue gak mau bantuin lo.” Sonya menyenderkan tubuhnya dan menyesap cocktail miliknya.
“Nya, kali ini aja. Gue gak tahu harus minta bantuan siapa lagi. Tolong lah, Nya!” Aku masih memohon padanya.
Namun, dia tetap tak bergeming. Dia tampak tidak tertarik dengan apapun yang saat ini ada di benakku. Aku menarik tubuhku mundur dan menyenderkannya, persis seperti Sonya.
Sonya melirik padaku, lalu ia menghembuskan nafasnya. Mencoba untuk sedikit mengalah, dan bertanya. “Bantuan jenis apa sih yang sebenernya lo harepin dari gue?”
***************************