A Beautiful Madness

A Beautiful Madness
Its Getting Worse



Yogyakarta, 1989


Jay POV


 


 


 


 


Setiap hari sejak hari pertengkaran itu, ayahku selalu saja pulang dalam keadaan mabuk. Kadang dia pulang ke rumah sendirian dan akan bertengkar hebat dengan ibu. Namun, terkadang  dia pulang diantar oleh perempuan. Setiap hari pun, perempuan-perempuan yang mengantarnya berbeda. Aku hanya menyaksikan semua itu melalui sela-sela tangga di lantai 2. Biasanya setiap kali habis bertengkar dengan ayah, ibu akan jatuh terduduk sembari menangis. Aku tidak bisa melihat ibu menangis. Jadi, aku selalu menghampiri dirinya dan kemudian memeluknya. Aku tahu, mungkin pelukanku tidak terlalu kuat, namun, aku selalu berusaha untuk memeluk ibuku, setiap kali air matanya jatuh.


 


 


 


 


Seperti hari ini, misalnya saja, ayah datang dalam keadaan mabuk dan dipapah oleh seorang perempuan yang jauh


lebih muda darinya. Perempuan itu mengenakan baju yang sangat pendek, saking pendeknya, aku dapat melihat celana dalamnya yang berwarna terang. Seperti biasa juga, aku akan mengawasi mereka dari atas sini, karena kalau sampai aku turun, pertengkaran mereka akan semakin besar, dan tangis ibu akan semakin pecah dibuatnya.


 


 


 


 


Setelah ayah pergi, barulah aku turun ke bawah. Menghampiri ibuku. “Ibu, jangan menangis lagi yah? Aku ada


disini...” Kataku sembari memeluk erat ibuku. Ibuku masih saja menangis dan terus menangis. Dia sepertinya telah membuat ibu makin sedih. Saking sedihnya, ibu sama sekali tidak membalas pelukanku. Ibu hanya terus-menerus menangis.


 


 


 


 


Aku sedih melihat ibuku seperti ini.


 


 


 


Aku benci melihat kekacauan yang ayahku perbuat.


 


 


 


Dan aku benci, karena aku masih mencintai ayahku, meskipun dia telah berbuat sedemian rupa terhadap ibu.


 


 


 


Aku benci.


 


 


********************


 


Yogyakarta, 1990


 


 


 


“Ayah, ibu kenapa, ayah?...” Aku berkali-kali bertanya padanya, namun, tidak ada jawaban. Dia hanya sibuk


menggendong ibu yang tadi kutemukan tergeletak di dekat ruang tamu. Aku tidak tahu ibu kenapa. Tahu-tahu sudah pingsan seperti itu.


 


 


 


 


Masih dengan wajahnya yang dingin, dia berkata kasar padaku, lebih seperti berteriak sebetulnya, “Masuk sekarang!” menyuruhku yang diam tidak bergerak, untuk masuk ke dalam mobil.


 


 


 


Aku tergugup mengangguk dan langsung berlari masuk ke dalam mobil.


 


 


 


Dia melajukan mobil diatas kecepatan biasanya, sangat cepat. Aku melirik padanya, tidak ada apa-apa di


wajah itu. Di wajah itu sama sekali tidak terlihat kekhawatiran yang berarti. Disana juga tidak terdapat kesedihan sama sekali. Karena kami sama-sama terdiam, dan hanya deru suara kecepatan mobil yang terdengar, kuberanikan diri untuk bertanya kembali padanya.


 


 


 


 


“Ayah, ibu kenapa?”


 


 


 


 


Namun, sama seperti yang sudah-sudah, dia tidak menjawabku sama sekali. Baginya mungkin pertanyaanku


hanya pertanyaan omong kosong anak kecil belaka.


 


 


********************


 


 


 


Kami telah sampai di sebuah rumah sakit. Ayah dengan sigap menggendong ibu yang terkulai lemah itu, aku hanya


memperhatikan gerak-geriknya dan mengikuti mereka dari belakang. Dia menidurkan ibu pada sebuah tempat tidur yang dapat didorong-dorong itu. 2 Suster yang melihat itu langsung cekatan membantu ayahku. Mereka bertanya tanpa suara padanya, “sakit jantung...”


 


 


 


Aku terhenyak. Sakit jantung? Apakah ibuku sakit jantung?


 


 


 


 


Mereka membawa ibu ke sebuah ruangan yang bertuliskan ICU yang tercetak besar-besar. Ayah dan aku menunggu diluar pintu kaca itu. Sama sekali tidak diizinkan untuk masuk.


 


 


 


 


Aku berkeringat hebat. Aku menarik-narik pelan ujung bajuku. Gugup sekali. Ketika sibuk dengan pikiranku


sendiri. Tiba-tiba saja beberapa laki-laki dan perempuan datang menghampiri kami. Aku sama sekali tidak mengenali mereka. Ayah juga hanya tersenyum singkat dan menyalami mereka satu persatu, kemudian mengajaknya menjauh, menjauhiku yang tengah terduduk disini.


 


 


 


 


Dari jauh sini, aku sama sekali tidak dapat mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan, jadilah aku hanya


bermain dengan pikiran yang berkecamuk di dalam kepalaku ini. Aku khawatir sekali pada ibu.


 


 


 


 


Bagaimana kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi? Bagaimana kalau aku sampai kehilangan dirinya?


 


 


 


Membayangkannya saja sudah membuat perutku mual sejadi-jadinya.


 


 


 


Aku masih menunggu di tempatku duduk ini. Mereka masih disana, berbincang-bincang yang sepertinya serius


sekali, aku dapat melihat perubahan ekspresi mereka. Berkali-kali pula mereka menengok ke arahku. Aku tidak tahu kenapa.


 


 


 


 


“Hey, adik kecil, kamu lapar?” Seorang perempuan yang usianya jauh lebih muda dari mereka semua, menghampiriku. Tanpa dikomando, dia duduk di kursi yang bersebelahan dengan kursiku.


 


 


 


 


Aku tidak menjawab. Hanya diam saja.


 


 


 


 


Bisa kulihat dari ekor mataku, kalau dia tersenyum. Dia cantik sekali kalau tersenyum seperti itu. Kemudian,


dia menarik lenganku pelan dan berujar, “ayo , kita cari makan dik...”


 


 


 


 


 


Aku tidak berontak. Karena dalam hatiku, aku juga memang teramat lapar. Kami mampir ke sebuah kantin yang


terletak berlawanan arah dengan ruangan tempat ibu masuk tadi. Dia membelikan 2 buah roti, air mineral dan juga teh hangat.


 


 


 


 


“Ayo, dimakan dan diminum, dik...” Lagi-lagi dia menyunggingkan seulas senyuman yang cantik di bibirnya itu.


 


 


 


 


Aku tidak mengangguk, tidak juga menggeleng. Hanya tanganku yang beraksi. Aku memakan habis roti pertama yang dihidangkan untukku. Terlalu terburu-buru hingga aku tersedak. Dengan sigap, dia menyodorkan air mineral dan membukakannya dihadapanku. “Pelan-pelan dong, kamu, makannya... Jadi, keselek gitu kan...” Kursinya kini ia tarik mendekat dengan kursiku. Dia mengelus-elus punggungku lembut. Ah, aku jadi teringat ibu.


 


 


 


 


 


Tiba-tiba saja aku menangis, bukan tangis dengan suara namun, lebih seperti air mata yang berjatuhan tanpa bisa


kutahan begitu saja.


 


 


 


 


 


 


 


Aku hanya menggeleng. Ibu bilang, aku tidak boleh sama sekali membicarakan hal pribadi terhadap orang asing.


Meskipun orang asing ini sudah memberikan sebuah kebaikan kepadaku.


 


 


 


 


“Kamu bisa bercerita padaku. Namaku Mitchell, panggil aku kak Mi saja yah... Ibu yang ada di dalam itu, ibumu bukan? Aku sering mendengarkan cerita mengenai dirinya dari ayahku. Mereka berteman sejak kuliah dulu...” Dia menjelaskan padaku, hingga akhirnya aku menatap dirinya.


 


 


 


 


Aku memutar otakku, berarti dia bukan orang asing. Mungkin saja aku bisa menceritakan dan bertanya sedikit


padanya, mengenai apa yang terjadi dengan ibuku.


 


 


 


“Apakah ibuku akan baik-baik saja?” Aku bertanya padanya.


 


 


 


Kulihat dia agak terkejut dengan pertanyaanku barusan. Mungkin tidak menyangka jika yang ingin kutahu adalah


mengenai hal itu. Perlahan dia menarik napas, cukup panjang dan terdengar berat, kemudian berujar, “kita doakan yang terbaik saja yah, dik. Untuk kesembuhan ibumu..”


 


 


 


 


Aku kalut. Aku sedih. Apa benar hanya doa saja yang bisa menyelamatkan ibuku? Kalau memang benar, akan kulakukan apapun untuk dirinya. Aku akan berdoa sekarang juga.


 


 


 


 


 


“Kak Mi...”


 


 


 


 


“Ya, dik?...”


 


 


 


 


“Antarkan aku ke Masjid atau Musholla, yah...”


 


 


 


 


Dia menaikkan sebelah alisnya, “untuk apa?”


 


 


 


 


“Tadi, kakak bilang, kita harus mendoakan yang terbaik untuk kesembuhan ibuku, maka sekarang, aku ingin berdoa


kepada Tuhan...”


 


 


 


 


Dia tadinya bingung namun, aku dengan sangat amat kekeh berkali-kali menyuarakan keinginanku, dan jadilah dia


mengantarkanku. Ke sebuah Musholla kecil di rumah sakit ini. Aku masuk ke dalamnya dan mengambil air wudhu,


kemudian mengambil tempat di shaf paling belakang di pojok sini. Kak Mi menunggu diluar. Dia bilang, dia bukan


seorang muslim. Aku hanya mengangguk saja.


 


 


 


 


 


Aku pun mulai sholat. Sebelum sholat tadi, aku melihat jam dan jarum jam menunjukkan pukul 8 malam hari.


Jadilah aku, sekarang ini menunaikan sholat isya.


 


 


 


 


Ibu selalu mengajariku sholat sedari dulu. Ibu mengajariku mengenai bacaan-bacaan sholat, gerakan, juga waktu-waktu sholat wajib.


 


 


 


Sedangkan, ayah beragama protestan. Dia juga tidak jarang mengajakku untuk ke Gereja di hari minggu, maupun


hari-hari besar umatnya.


 


 


 


 


Sedari kecil, aku bingung, mana yang harus kuikuti. Menjadi seorang muslim seperti ibuku atau seorang kristen


seperti ayahku. Namun, kini otakku mulai bekerja.


 


 


 


 


Aku ingat dulu kala ketika opa—ayah dari ayahku—meninggal, ibu hanya berdiri di luar Gereja. Ketika aku


menghampirinya dan bertanya kenapa diluar sini, kenapa tidak ikut berdoa dan memberi penghormatan terakhir di dalam sana. Dia hanya tersenyum dan mengatakan bahwa tidak bisa. Karena doa yang akan dia panjatkan di dalam sana berbeda dengan doa-doa yang mereka panjatkan. Saat itu aku tidak mengerti.


 


 


 


 


Dia lagi-lagi tersenyum dan berjongkok dihadapanku seraya menjelaskan perkataannya dengan menggunakan perumpamaan, “begini sayang, misalkan hari ini kamu mengerjakan tugas matematika, lalu, ternyata, guru yang masuk ke dalam ruang kelasmu adalah guru bahasa inggris, dan semua teman-teman sekelasmu mengerjakan tugas dari guru bahasa inggris-mu. Ketika kamu bertanya padanya kalau yang kamu miliki adalah tugas matematika. Maka kamu harus berdiri diluar. Gurumu berkata bahwa tugas yang kamu kerjakan cocok untuk kelas matematika, bukan kelas miliknya. Karena berbeda sayang. Tidak akan pernah menjadi satu kesatuan. Sekuat apapun kamu meyakinkan dirinya, dia tidak akan mendengarkan jawaban yang keluar darimu. Karena kamu mengerjakan soal yang bukan miliknya. Begitu sayang. Kamu mengerti?”


 


 


 


Aku hanya mengerjap-ngerjapkan mataku. Tidak terlalu mengerti sebetulnya, tapi aku tetap menganggukkan kepalaku.


 


 


 


 


Jadilah aku disini, memanjatkan semua permohonanku kepada Tuhan Yang Maha Satu, yang selalu dipercayai oleh ibuku. Aku memang belum menentukan, apa yang ingin kupercayai, tapi, aku selalu percaya dengan perkataan ibuku. Jadi, aku memohon kepada Sang Maha Satu, dengan apapun yang bisa kumohonkan pada-Nya.


 


 


 


 


Aku menengadahkan kedua tanganku ke atas dan mulai berdoa, “YaAllah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tidak pernah ada sekutu bagi-Mu, YaAllah, Yang Maha Menguasai hari esok, mungkin aku hanyalah seorang anak kecil yang belum mengetahui apa yang sebenarnya kupercayai, namun, ibuku adalah hamba-Mu yang selalu beribadah siang dan malam, memuji nama-Mu, mempercayai mengenai hari akhir, percaya bahwa setiap ada malam maka selalu ada pagi, percaya jika ada sakit maka akan datang sehat, percaya bahwa setiap kali keburukan mengatasnamakan hal apapun maka kebajikan akan menangkalnya cepat ataupun lambat. Ibuku adalah sebaik-baiknya hamba-Mu. Lihatlah dirinya disana, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Perkenankanlah kesembuhan baginya, karna hanya Engkaulah Sang Maha Penyembuh, obat dari segala obat.


Bantulah dia wahai Tuhan Yang Maha Baik. Amin YaRabbal’alamin...” Aku mengakhiri doa-doaku kepada Tuhan Yang Maha Esa yang dipercayai oleh ibuku.


 


 


 


 


 


 


Kemudian, aku berjalan keluar dari sini, mendapati kak Mi yang sedari tadi berdiri dan memperhatikanku. Mungkin. Dia menggandeng tanganku. Dan kami berjalan beriringan bersama menuju ruang tempat ibuku dirawat itu.


 


 


 


 


 


Ketika kami sampai disana, sudah ada begitu banyak orang yang menunggu diluar ruangan ibuku. Ketika aku berjalan semakin dekat, ayahku tengah berbincang dengan laki-laki yang mengenakan baju hijau dari atas sampai bawah. Pembicaraan mereka begitu serius. Tapi, aku ingin mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan.


 


 


 


 


Sayup-sayup kudengar seperti, “kondisinya akan stabil bila ditopang oleh semua alat yang dipasangkan ditubuhnya.” Dan ayahku bertanya, “bagaimana kalo semua peralatan itu dicabut, apa yang akan terjadi dengannya?” dan si laki-laki berbaju hijau menjawab, “kemungkinan besar keadaannya akan memburuk, dan mungkin saja nyawanya yang akan menjadi taruhannya disini...”


 


 


 


 


OH TIDAK! Apa yang sedang mereka bicarakan adalah ibuku? Tidak! Tidak ada yang boleh mengambil dirinya dariku.


 


 


 


Setengah berlari, kuhampiri mereka berdua, setengah tercekat kukeluarkan kalimat pertanyaanku, “ayah, ayah... ayah jangan membiarkan ibu pergi yah... ayah... selamatkan ibu yah, ayah?”


 


 


 


 


Laki-laki yang kupanggil ayah itu hanya berdiri diam memandangiku dengan tatapan mata paling dingin yang pernah kulihat seumur hidupku. Aku berdiri dihadapannya. Memohon dan mengemis padanya. Dan disana, tidak ada satupun manusia yang membantuku.


 


 


 


 


Tidak ada satupun yang menginginkan kesembuhan ibu.


Aku benci mereka semua.


 


 


 


********************