
Jay POV
“Jadi, sekarang, kita akan coba mulai dari cerita masa kecil lo. Tentang keluarga lo, tentang semuanya. Sekolah,
temen-temen. Hari ini kita punya waktu banyak, seharian penuh. Jadi, lo bisa mulai sekarang...”
Pagi ini, sesuai jadwal yang diberikan oleh Sonya tempo hari, aku menemuinya lagi. Setelah beberapa hari
kemarin, sama sekali tidak bisa fokus dengan apapun. Bahkan satu paragraf pun tidak dapat kuhasilkan. Karena itu, hari ini aku akan berusaha fokus dan produktif untuk menebusnya. Karena kalau sama sekali tidak disiplin, biografi tentangnya tidak akan rampung-rampung.
Namun, perempuan di hadapanku ini sama sekali tidak terlihat antusias dengan perkataanku. Padahal kan yang sedang berusaha kutulis adalah mengenai kehidupannya. Dia seperti enggan untuk berkontribusi lebih pada tulisan mengenai dirinya. Saat ini dia malah asyik tertawa-tawa dengan seseorang di seberang telepon sana. Padahal aku sedang menerangkan apa yang akan kami lakukan hari ini. Namun, meskipun biografi ini mengenai dirinya, tujuan
utama dari ini, aku masih ingat betul. Adalah tentang diriku. Jadi, aku harus pandai-pandai menahan diriku.
Aku menunggu saja sampai dia selesai menelepon. Aku bangkit dari sofa. Kali ini lokasi bincangku dengannya
adalah di galerinya. Rumah ini begitu menarik buatku. Dengan perpaduan etnik jawa yang mendominasi, membuat rumah ini terasa hangat sekali. Seperti rumahku dulu, di Yogyakarta.
Aku berkeliling galeri ini. mengamati lebih dalam lagi, lukisan-lukisan yang dibuat oleh perempuan satu itu.
Kali ini aku berhenti di sebuah lukisan yang sangat menarik buatku. Sebuah gambar tangan yang digambar
sedemikian rupa. Di dalam sana, tangan itu terbuka seperti ingin meraih sesuatu dan di dalam sana diciptakan sebuah dunia yang terasa jauh, jauh sekali dari tangan itu. Sehingga rasanya menjadi tidak mungkin untuk menggapainya. Berkali-kali aku mencoba untuk menyelami setiap emosi yang dibangun olehnya. Emosi yang semula begitu datar tanpa emosi sama sekali menjadi semakin naik dan naik, hingga akhirnya marah dan menggugat dunia beserta isinya.
Kenapa begitu tega membiarkan seorang anak yang kecil dibandingkan dengan dunia, begitu menderita karena tidak ada yang bisa diberikan oleh dunia? Anak itu tidak minta banyak hal. Sama sekali tidak. Kenapa kalian tidak juga mengerti?
Emosi yang ditawarkan padaku melalui lukisan itu begitu indah, begitu sakit, begitu terluka, tanpa sadar, mataku kini berkaca-kaca. Perempuan ini sungguh luar biasa.
“Lo tuh ngerti seni juga?”
Ucapannya yang tiba-tiba, datang entah darimana itu, mengejutkanku. Tentu saja. Aku menoleh padanya dan berkata, “enggak juga sih. Tapi, entah kenapa, lukisan lo itu bicara sama gue. Ngajak gue untuk tau maksud dari goresan tangan lo di kanvas itu tuh, apa.”
Perempuan ini terdiam dan tersenyum mengangguk-angguk. Dia menyentuh permukaan kanvas miliknya itu, “kasar.” Gumamnya sendiri, namun, tetap terdengar olehku.
"Lo tau gak, lukisan pertama yang paling gue kagumi itu apa?"
Aku mengernyitkan dahiku, berusaha untuk menebak-nebak. "The Starry Night-nya Van Gogh?"
Sonya menggeleng.
"Monalisa-nya da Vinci?"
Kembali, Sonya menggeleng.
Aku kembali memutar otakku, berusaha untuk menebak sebanyak mungkin agar probabilitas kebenarannya semakin tinggi. "View of Toledo-nya El Greco, The Liberty Leading The People-nya Delacroix, The Last Supper-nya da Vinci, The Kiss-nya Klimt, atau The Crouching Beggar-nya Picasso?"
Kali ini Sonya tersenyum dengan lebar, lalu memandangiku, dan kembali menggeleng.
Aku cemberut, kesal karena tidak satu pun tebakanku yang benar.
"The Lost Soul..."
Aku menoleh pada Sonya. Lalu kembali berpikir, "The Lost Soul? Lukisan karya siapa itu?"
Seakan bisa membaca pikiranku, dia pun berkata kembali, "The Lost Soul hasil karya papaku."
Aku baru mengerti. Ternyata bukan lukisan milik seniman dunia yang dia kagumi, melainkan lukisan milik ayahnya sendiri. Tanpa sadar aku ikut tersenyum melihat senyumannya.
Dia menoleh padaku dan berkata, “Ayo kita mulai sekarang.”
Aku mengangguk dan meraih tape recorder-ku. Perempuan ini pun mulai bercerita. Cerita yang membuat dia, kini, tampak sangat berbinar-binar. Seperti sedang diliputi kebahagiaan melimpah ruah.
********