A Beautiful Madness

A Beautiful Madness
Maybe, It Will Work Out



Sonya POV


 


 


 


Meskipun opening gallery masih lama, namun, sekarang aku cukup panik. Sampai saat ini, aku baru menghasilkan 1 lukisan. Pikiranku saat ini sangat terganggu, namun entah karena hal apa. Sudah 2 bulan ini, pikiranku selalu saja tidak fokus. Sepertinya aku butuh semacam suasana baru atau bahkan orang-orang yang baru. Tinggal seorang diri dan hanya ditemani oleh pelayan dan sopir yang bekerja disini, kadang membuatku merasa kesepian.


 


 


 


Aku sedang mencampur warna-warna dasar yang akan kugunakan untuk mewarnai dasar kanvas ini, sampai kemudian suara yang sangat kukenal menyapaku dari arah luar galeri.


 


 


 


“Sibuk, Nya?”


 


 


 


 


Ah, Anne rupanya. Aku melongokkan tubuhku untuk tersenyum balik padanya, dan aku terkejut. Dia membawa serta laki-laki itu. Anne tersenyum seperti biasa padaku, namun, laki-laki ini hanya melihatku sebentar dan kemudian, perhatiannya teralihkan pada lukisan-lukisanku yang tergantung di dinding.


 


 


 


“Nya, ini Jay. Jay, ini Sonya.”


Anne memperkenalkan kami singkat yang hanya dibalas dengan pandangan datar dari laki-laki ini.


 


 


 


“Ngapain sih bawa dia ke sini?” Aku berbisik pelan. Untuk apa coba aku pakai berbisik padanya?  Bodoh!


 


 


 


“Aku mau ngeyakinin kamu, satu kali lagi, kalo Jay itu beneran penulis yang baik dan berbakat. Dia emang


kadang suka sinis, tapi, dia beneran baik. Aku janji sama kamu, kalo emang nanti di tengah jalan, dia senyebelin itu, kita langsung udahan. Gimana?”


 


 


 


Aku hanya diam saja.


 


 


 


Diam-diam aku memperhatikan laki-laki ini. Untuk ukuran seorang perempuan, aku mungkin terbilang cukup


 


Oke, raksasa terdengar kasar, seperti pemain basket, sebut saja.


 


Mungkin tingginya sekitar 185-190 cm. Aku saja hanya sebahunya. Laki-laki ini tergolong cukup menarik. Dengan kulit kecokelatan sempurna, tatto yang mendominasi tangan dan juga lehernya—biasanya aku sangat terganggu dengan manusia yang memiliki tatto sebanyak dirinya, namun, dengan tatto-tatto itu, dia justru terlihat semakin


menarik—rambut yang dipotong rapi seperti potongan rambut tentara namun, sedikit agak panjang, alis yang tegas serta memiliki kepribadian dan juga jangan lupakan sorot mata yang begitu dingin, seolah tidak pernah ada


kehangatan didalam hidupnya. Caranya mengamati lukisanku begitu tenang dan seolah tidak terganggu oleh dunia. Dia tenggelam di dalamnya begitu saja.


 


 


 


Tingkahnya itu sedikit banyak mengingatkanku akan seseorang yang kukenal dengan baik.


********************


Jay POV


Ternyata perempuan ini benar-benar berbakat. Kupikir, tulisan di dokumen itu hanya melebih-lebihkan saja. Namun,


tulisan tentangnya sama sekali tidak berlebihan. Karena dia tahu benar caranya bermain dengan emosi.


 


Seperti misalnya saja lukisan yang sedang aku amati saat ini. Diberi judul olehnya ‘Scars’. Didalam sini, aku bisa merasakan betapa kepedihan itu sangat menusuk ketika melihat mata didalam lukisan ini. Mata berwarna abu-abu. Mata itu tidak menangis. Namun, mata itu berbicara padaku bahwa dia telah melihat lebih dari kepedihan, hingga


rasanya air mata di seluruh bumi ini, tidak akan sanggup meneteskan kepedihan yang telah dia lihat dan rasakan. Indah sekali.


 


 


“Yang ini, bagus. Menyentuh. Sekali.” Aku menunjuk lukisan yang dari tadi menarik minatku dan menatap lekat-lekat perempuan itu. Tersenyum singkat padanya.


 


 


“Makasih. Mata lo ternyata jeli juga.” Perempuan itu berkata singkat padaku.


 


 


“Maksudnya?” Aku bertanya tidak mengerti.


 


 


“Kalo da Vinci punya Monalisa, Van Gogh punya Twelve Sunflowers in a Vase, Michaelangelo punya Sistine Chapel


ceiling, maka gue punya Scars. Karya ini adalah yang terbaik yang pernah gue hasilkan.”


 


 


 


Perempuan itu berjalan perlahan mendekatiku dan kini, dia berdiri di sampingku. Kami berdua sama-sama


memandangi lukisan ini. Lukisan yang bisu namun mampu membisikkan kalimatnya pada kami berdua.


 


 


 


********