A Beautiful Madness

A Beautiful Madness
FML ?



Jay POV


 


Pernah merasakan kesendirian saat kamu dikelilingi oleh ratusan manusia? Aku selalu seperti itu. Sedari dulu. Aku


memang lebih memilih untuk sendirian ketimbang harus berada di tengah kerumunan manusia. Manusia-manusia yang sama sekali tidak kukenal.


 


Aku menggenggam segelas wine, aku selalu butuh alkohol setiap kali harus bertatapan dengan ratusan pasang mata asing. Untuk meningkatkan ketidakperdulianku pada apapun tentunya. Pandanganku sibuk berkeliling. Mengamati pasang demi pasang mata yang saat ini tertuju padaku. Seandainya saja aku dapat membaca pikiran manusia, pastilah aku bisa dengan mudah harus memasang ekspresi wajah yang seperti apa. Sayangnya, aku hanya dapat menerka-nerka, apa yang sedang mereka pikirkan.


 


 


Aku meneguk habis gelas wine-ku.


 


 


Aku harus mulai menanggapi pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan oleh mulut-mulut asing itu.


 


“Jadi, Mas Jay, kenapa anda memberikan judul buku ketiga anda seperti itu? Apa tidak terdengar terlalu sarkas?”


 


Seorang laki-laki muda berusia 25 tahun-an—mungkin—dengan kacamata yang disangkutkannya di kemeja hitamnya dan juga jangan lupakan seringai di wajahnya itu, membuatnya tampak seperti orang bodoh.


Pertanyaan macam apa itu?


 


 


“Anda pernah menulis sebuah buku?”


 


Dia menggeleng. Ya, aku juga tahu pasti dia tidak pernah. Kalau pernah pertanyaannya tidak akan menjadi sebodoh itu.


 


“Kalau begitu, tulislah sebuah buku, dan beri judul dengan apapun yang anda suka. Kalau ada yang bertanya,


kenapa judul buku anda seperti itu? Bilang padanya, bahwa, itu adalah karya anda, urusan apa mereka dengan alasan anda memilih judul semacam itu.” Aku menjawab pertanyaan bodohnya dengan jawaban yang tidak kalah bodoh.


 


 


Aku melihat ke sekeliling lagi, banyak dari mereka yang memasang ekspresi terkejut, bahkan ada juga yang melihatku dengan sinis. Aku tidak perduli.


 


Kini kembali kuedarkan pandanganku, aku menunjuk seorang wanita yang terlihat lebih tua dariku, mengenakan kemeja berwarna merah muda, rambutnya dikuncir satu, sedari tadi, dia tampak antusias ingin melontarkan pertanyaannya padaku. Jadi, kuberi dia satu kesempatan. Semoga saja kali ini, pertanyaannya tidak bodoh seperti laki-laki itu.


 


“Jadi, Mas Jarjani, apakah karya ini adalah sebuah tulisan yang sepenuhnya fiksi atau ada unsur kisah nyata di


dalamnya?”


 


Aku tertegun. Fiksi atau ada kisah nyata di dalamnya? Aku menunduk dan menyentuh tato di pergelangan tanganku, kasar. Aku sama sekali tidak berminat membagi kisahku dengan siapapun itu, terlebih dengan mereka yang bahkan tidak hidup di dalamnya.


 


“Buku ini sepenuhnya fiksi. Tidak ada keraguan sama sekali.” Aku menjawabnya santai.


Namun, rupanya perempuan itu sama sekali tidak puas dengan jawabanku.


 


 


“Benarkah itu? Karena, seperti misalnya di halaman 35—dia secara tiba-tiba membuka buku yang sedang dipegangnya, bukuku, dan membacakan sekaligus bertanya berdasarkan itu—Aku, seorang anak panti asuhan yang dibuang seperti layaknya seorang binatang—dia menutup buku tersebut, dan menarik napas panjang—berdasarkan dengan informasi mengenai anda, anda juga adalah seorang anak yang berasal dari panti asuhan. Jadi, apakah benar, karakter ‘aku’ di buku anda merupakan karakter yang berdasar dari anda sendiri?”


 


 


Perempuan ini rupa-rupanya lebih cerdas dari perkiraanku. Dan entah dia dapat sumber darimana, namun, jelas


bahwa, informasi yang dia terima adalah benar.


Aku terdiam, menyapukan pandanganku, dan aku melihat dia, tengah berdiri disamping seorang perempuan. Dia hanya terdiam di sana, diantara kami ada jarak yang memisahkan, namun, tatapan itu selalu saja sama.


Begitu hangat.


Di waktu apapun itu.


********************