
Yogyakarta, 1988
Jay POV
Hari ini ayah akan mengajariku berbagai macam teknik dasar sepak bola. Seminggu yang lalu, kami pergi ke
lapangan bola setempat dan melihat banyaknya anak laki-laki yang berusia jauh lebih tua dibandingkan denganku, tengah asyik saling mengoper bola, bermain dengan penuh canda dan tawa. Tidak jarang bahkan ada yang jatuh tersungkur hingga tubuh dan bajunya dipenuhi oleh lumpur tanah merah. Iya, lapangan ini memang masih berupa tanah merah. Dan pagi tadi kota ini habis dibasuh oleh air hujan dari langit sana.
“Kamu suka, nak?” Ucapannya mengagetkanku.
Aku menoleh pada laki-laki yang menjulang tinggi disampingku, senyumannya selalu saja hangat. Menghantarkan
semua kebahagiaan tepat di dalam hatiku.
Aku mengangguk-angguk. Mengiyakan.
Dia tersenyum lagi, kali ini tatapannya teralih ke anak-anak laki-laki yang tengah berlarian dengan seru di
lapangan itu. Kemudian, kini dia berjongkok disampingku, tangannya yang kekar merangkul tubuhku yang sangat kecil jika dibandingkan dengan dirinya. Dia berdeham pelan kemudian berkata lembut, “kalo gitu, ayah janji, nanti ayah akan ajarkan semua teknik dasar main bola. Mau?”
Aku mengangguk dengan cepat. Takut dirinya berubah pikiran.
Dan kini disinilah kami, di sebuah lapangan yang lebih kecil ketimbang lapangan yang tempo hari kami datangi. Juga di lapangan ini ditumbuhi banyak sekali rumput, bukan tanah merah seperti lapangan itu.
Hari ini dia sengaja membelikan sepasang baju bola yang warna serta desain-nya sama seperti kepunyaannya. Dia
bilang, ini untuk menegaskan kalau kami adalah ayah dan anak. Banyak sekali yang mengatakan kalau aku sangat mirip dengan ibuku, namun, kata ayahku, aku paling mirip dengannya. Entahlah. Usiaku bahkan baru menginjak angka 5, apa yang bisa diketahui anak seumuranku?
“Oke, sekarang, ayo kita ke tengah lapangan itu. Ayah akan ngajarin semua hal yang ayah tau sama kamu, nak!” Dia tersenyum dan menggandeng tanganku. Yang jauh lebih kecil ketimbang miliknya.
Pertama-tama dia memberitahuku mengenai benda bundar seukuran kepala manusia yang dia pegang dan diangkatnya ke udara, untuk diperlihatkan padaku. “Ini, namanya bola..” Ujarnya lagi. Kemudian, dia mulai berbicara mengenai tendangan. Dia bilang, dalam sepak bola, tangan dilarang keras menyentuh bola kecuali, bola tersebut keluar lapangan. Kalau tidak, maka pemain akan diganjar dengan hukuman. Semua teknik yang diajarkan olehnya selalu menggunakan kedua kaki.
Dia menunjuk seorang laki-laki bersarung tangan yang tengah berjaga di depan sebuah benda yang lebih tinggi
ketimbang dirinya, seraya berkata, “itu namanya kiper. Dan benda yang dari tadi ada di belakangnya, yang penuh dengan jaring-jaring, namanya adalah gawang. Hanya kiper yang diperbolehkan menyentuh bola menggunakan tangan. Kalo udah disentuh sama kiper, maka, permainan akan berhenti sejenak, sampai dia mengoper bola itu lagi ke rekan satu timnya. Kamu mengerti?”
Aku hanya mengangguk.
Tentu saja aku tidak mengerti. Paling-paling hal yang kumengerti hanyalah benda itu tidak boleh disentuh oleh
tangan dan hanya laki-laki bersarung tangan yang boleh dengan bebas menyentuhnya. Aku pikir, tidak adil sekali, kenapa hanya dia yang diperbolehkan untuk menyentuhnya?
Karna, kalo dia lari-lari sampe ke situ—dia menunjuk tengah lapangan—maka tidak akan ada yang jaga gawangnya. Terus kalo bola itu sampe masuk kesana, bisa-bisa timnya jadi kalah...” Dia menjelaskan lagi padaku dengan wajah sumringah.
Aku mengangguk lagi. Tadinya kupikir, laki-laki yang menjaga benda itu lebih beruntung dari yang lainnya. Tapi, ternyata tidak juga. Malah lebih menyebalkan jika menjadi dirinya. Bayangkan saja, dia hanya sendirian disana, sementara yang lainnya boleh berlarian kesana kemari.
Dia memulai dengan tendangan-tendangan pendek, dia mengoper benda bundar itu kepadaku, aku mulai
mempraktikkan apa yang dia perlihatkan padaku. Awalnya aku masih payah, namun, lama-kelamaan aku mulai mahir meskipun tendanganku seringkali tidak tepat sasaran. Namun, dengan sigap, ayah langsung menguber bola yang entah kemana larinya itu. Aku tertawa melihat tingkah konyolnya, dia pun tersenyum hingga tertawa
melihatku tertawa, kami berdua tertawa bersama-sama. Dia mengangkat tubuhku ke udara, dan berteriak dengan teramat lantang, “ini baru jagoan ayah! Jagoan ayah!”
Aku tertawa geli. Kegelian melihat tingkahnya dan tangan besar ayahku yang memegang tubuhku. Aku tahu. Bahwa bahagia itu teramat mudah. Semudah menghabiskan waktuku bersamanya.
********************
Beberapa jam bermain dengannya membuat tubuhku penuh dengan peluh. Senang sekaligus lelah. Aku berhamburan masuk ke dalam rumahku. Rumah yang cukup besar untuk ditinggali oleh kami bertiga.
“Ibuuuuuu....” Aku berlari memeluknya yang tengah menanti kepulangan kami.
Dia mengangkatku, kemudian tidak hentinya menciumiku. Aku tertawa-tawa. Kegelian menyikapi tingkahnya itu. Tak
lama, dia berhenti menciumiku, sedetik kemudian, memasang ekspresi lucu di wajahnya. Dia mengerutkan hidungnya dan berujar, “uh, bau acem nih... kamu bau acem...”
Aku sibuk mencium bauku sendiri dan tertawa-tawa mengiyakan. Aku memang bau asam.
Tak lama kemudian, ayahku datang dengan senyum menghiasi wajahnya. “Ayo, kita mandi dulu yuk, sayang...” Ayahku memindahkanku dari gendongan ibu, dan langsung bergegas menuju kamar mandi. Ayah memandikanku dengan teramat telaten.
Usai menyelesaikan tugas mengurusku, setelah kami sama-sama wangi, aku, ayah dan ibuku duduk di meja
makan dan mulai menyantap hidangan yang telah dipersiapkan oleh ibu.
“Kamu harus makan yang banyak yah, sayang. Biar nanti kamu cepat besar...” Ibu mengelus pipiku lembut. Aku
menikmati setiap sentuhan yang dia berikan padaku. Rasanya begitu nyaman. Sentuhannya selalu membuatku jatuh cinta. Betapa beruntungnya aku, memiliki dua orang terhebat didunia sebagai orangtuaku.
Aku tidak ingin apapun lagi, Tuhan. Cukup ini saja. Batinku. Sembari memandangi secara bergantian, kedua
orangtuaku.
********************