
Sonya POV
“Kayaknya gue gak bisa deh. Gue ada acara abis dari sini.” Dan seperti yang sebelum-sebelumnya, aku selalu menolak ajakan dari laki-laki ini. Karena memang benar aku ada acara lagi sehabis dari tempat ini.
Kali ini aku sama sekali tidak berbohong. Tidak sepenuhnya berbohong
Laki-laki dihadapanku hanya cemberut, dia kesal karena aku selalu menolak ajakannya untuk kencan. Aku tahu
itu. Tapi, aku malas menggubrisnya.
Aku masuk ke dalam mobil dan kuturunkan jendela mobilku, “Lain kali, kita pasti bisa jalan deh. Janji.” Sembari mengumbar janji padanya, dia tersenyum.
Dan aku pun pergi dari hadapannya, dengan melajukan kendaraanku.
Di dalam kehidupan ini seringkali bahkan selalu sepertinya, tokoh jahat atau manusia tidak berperasaan jatuh
kebanyakan kepada kaum lelaki. Tapi, dalam kehidupanku, mungkin si tokoh jahat ini bukanlah lelaki. Melainkan perempuan. Aku sendiri.
Jalanan kota ini dari hari ke hari selalu saja membuat kesal. Berkali-kali aku melihat arlojiku. Bisa-bisa dia marah karena aku datang terlambat ke acaranya. Masa iya aku pakai alasan ‘jalanan macet’ lagi?! Seperti tidak ada alasan lain saja.
Selagi mobilku tidak bergerak, aku menatap bayanganku di kaca mobil yang berembun ini. Ternyata kota ini sedari
tadi dibasuh air hujan dari langit sana. Aku sama sekali tidak menyadarinya. Kelewat sibuk dengan pikiranku sendiri.
Tidak lama kemudian, aku sampai di sebuah jalan yang akan menuju ke lokasi janji temuku. Ah! Itu dia! Luminere Restaurant & Bar. Aku memarkir mobilku tidak jauh dari pintu masuk. Malas rasanya kalau harus berjalan jauh dan mencari-cari mobilku di antara banyaknya mobil lainnya.
Aku keluar dari mobilku dan melangkah masuk. Diam-diam berdecak kagum. Tempat ini benar-benar megah dan
mewah, tak heran jika masuk ke dalam daftar 100 Restoran terbaik di ASEAN.
Seorang pelayan menghampiriku. “Untuk berapa orang?” Tanyanya ramah.
Aku menggeleng pelan dan berkata, “One Life Press.” Aku menyebutkan nama penerbit paling terkenal di negara ini sambil menyerahkan sebuah undangan berwarna gold pada sang pelayan.
Dia tersenyum, mengangguk dan memberiku isyarat untuk mengikutinya. Aku berjalan mengekor di belakangnya.
Salah satu yang menjadi daya tarik dari restoran ini selain bangunan dan interior yang mengagumkan adalah halaman belakangnya yang sangat mempesona. Dengan luasan yang jauh lebih luas ketimbang bangunannya itu sendiri, halaman belakang ini pun seringkali disulap menjadi tempat untuk gathering, maupun peluncuran buku seperti sekarang.
Aku melihat beberapa medium standing banner dan juga sebuah banner yang besar tergantung di atas meja yang saat ini dihuni oleh 3 orang laki-laki. Seperti yang kuduga, laki-laki yang ditengah itu, merupakan sang penulis.
Aku membaca tulisan di banner tersebut. Peluncuran perdana, Jarjani Wicaksono: F.M.L (**** My Life).
Aku sampai sedikit tersedak, dan kemudian tertawa saat membaca judul buku ini.
Benar-benar berani sekali memberi judul seperti itu. Namun, aku jadi penasaran hingga akhirnya mengikuti sesi tanya jawab awak media dengan penulis itu. Jarjani.
memalukan?” Salah seorang jurnalis bertanya lantang padanya.
Astaga, pemuas nafsu? Buku apa itu sebenarnya? Aku mengernyitkan dahiku.
Si Empunya buku yang ditanya hanya memandang sang jurnalis dengan tatapan dingin, dan berkata santai, “Pertanyaan selanjutnya!” Si jurnalis rupanya hendak mengajukan protes yang lalu disela oleh laki-laki itu lagi, “Saya tidak akan menjawab, pertanyaan yang sifatnya provokatif seperti yang anda lakukan.”
Woah! He’s really something.
Bahkan belum terlalu terkenal saja dia berani mengatakan hal semacam itu di hadapan media massa. Benar-benar bernyali.
Aku tertawa sembari menggelengkan kepalaku. Berkali-kali dia memperlakukan dan menjawab pertanyaan para jurnalis itu, dengan sangat dingin. Peluncuran buku ini kan bagian dari promosi, bukankah akan lebih mudah baginya jika dia mencoba untuk ramah, barang sedikit?
“Kenapa sih, kok ketawa sendiri?” Suara yang sangat tidak asing menyapaku.
Aku tersenyum padanya dan menjawab ringan, “Itu, cowo itu, si penulis itu. Sinis banget sih dia. Gue udah di sini
lebih dari 15 menit, dan jawabannya itu gak kayak orang yang mau promosiin bukunya. Bisa-bisa gak laku itu bukunya.” Aku tertawa-tawa berkomentar panjang lebar.
“Ohiya, Jay emang kayak gitu orangnya.” Perempuan ini berkata pelan, sembari menatap lekat-lekat laki-laki
yang saat ini masih menjawab berbagai macam pertanyaan yang dilontarkan, kadang juga memilih untuk tidak menjawabnya, dan membalas dengan ucapan yang ketus.
Aku tercenung memandangi perempuan ini. Pandangannya pada laki-laki ini seakan melayang jauh entah kemana. Aku sampai harus berkali-kali membuatnya tersadar kembali. Kembali ke masa sekarang.
“Ah, maaf, Nya. Aku ngelamun tadi.” Dia tertawa kecil dan merapikan rambutnya perlahan.
“Dia—aku menunjuk laki-laki itu—lebih dari sekedar seorang penulis? Kamu kenal sama dia lebih dari itu?”
“Kok nanya nya gitu?” Dia menyunggingkan seulas senyum penuh arti.
“Yaaaaa, entahlah, firasat aja. Kayanya ada sesuatu yang lebih diantara kalian.” Aku memicingkan mataku dan
bertanya penuh selidik padanya.
Dia hanya tertawa lebar.