
Sonya POV
Aku membuka mataku perlahan. Dan seketika bau yang sangat tidak asing mencengkeram ingatanku. Kenapa aku harus kesini lagi?
Ketika hendak bangun untuk membereskan posisi tidurku, aku melihat dirinya. Tidur dengan dengkuran yang agak kencang.
Untuk apa dia di sini?
Ah ya, tentu saja. Aku kan memang habis bersama dengannya.
Jadi, dia yang dengan berbaik hati membawaku kesini?
Aku tersenyum.
Ternyata manusia menyebalkan seperti dirinya, bisa juga berubah menjadi baik kalau dalam keadaan mendesak.
Aku memperhatikan dirinya. Dia tertidur seperti malaikat saja. Wajah tampannya tampak begitu teduh ketika sedang tertidur seperti saat ini. Aku tertawa. Memang sepertinya dia lebih baik tidur dan diam seperti sekarang ini. Daripada
bangun dan tersadar, kalimat yang keluar dari bibirnya juga tidak pernah menyenangkan sama sekali.
Aku terkekeh geli. Dan mungkin karena suara tawaku yang seperti itu, dia tiba-tiba saja terbangun. Cara bangunnya pun begitu lucu. Pertama-tama dia mengerjapkan kedua matanya, kemudian mengerutkan dahinya, lalu merentangkan kedua tangannya dan membentuk wajah aneh. Lagi-lagi aku tertawa.
“Apanya yang lucu?” Dia bertanya ketus padaku.
Ah, laki-laki ini memang benar-benar lebih baik jika tidur saja seperti tadi. Tidak menyebalkan. “Gak ada.” Aku menjawab tidak kalah ketus.
Dia bangkit dan mengambil sebotol air mineral di kulkas. Meneguknya hingga isinya hanya tinggal setengah. Mungkin dia begitu kehausannya di alam mimpi.
“Mau?” Tanyanya, tanpa mengalihkan pandangannya dari kulkas.
“Mana boleh gue minum air dingin. Baru juga sadar, Jay.” Aku berkata singkat.
Dia terdiam, namun meneruskannya dengan sebuah kalimat, “Jadi, sebenernya, lo tuh sakit apa sih?” Pertanyaan
tiba-tiba itu membuatku sedikit tidak nyaman.
Dia memandangiku yang terdiam, hingga kini dia berjalan perlahan menuju tempat duduknya, pertama kali. Kali
ini tanpa melepaskan tatapannya dari kedua bola mataku. Ah, mata itu warnanya sungguh pekat. Baru kali ini, aku melihat warna matanya dari jarak sedekat ini.
Karena aku sama sekali bukan orang yang lemah.
Dia hanya diam.
“Kok diem?”
Dia masih tidak menjawab.
“Yaampun, jangan terlalu dipikirin kali, Jay. Dari dulu juga gue udah punya penyakit ini. Dari kecil. Jadi, penyakit kayak gini doang sih bukan hal besar kali, Jay. Hahahaha...” Aku mencoba tertawa guna mencairkan atmosfer yang terasa kurang nyaman ini.
Yang terjadi kemudian adalah dia mendadak seperti menahan amarah. Wajahnya memerah, seperti kepiting rebus. Lucu sekali.
“Muka lo merah gitu tuh. Udah kayak kepiting aja tau...” Candaku.
Kalimat yang berisi candaan itu ternyata dibalas dengan amarah yang hampir meledak, namun, seperti mati-matian dia tahan, “penyakit kayak gini doang, kata lo?!! Apa lo tau, ‘penyakit kayak gini doang’ yang barusan lo bilang itu, gatau udah berapa banyak nyawa yang direnggut. Gaktau udah berapa banyak keluarga yang berantakan karna salah seorang anggota keluarganya meninggal. Lo sadar gak sih, barusan ngomong apa?!!!!” Dia menghardikku. Menekankan beberapa suku kata dalam kalimatnya agar aku mengerti perkataannya. Dia seakan ingin menyemburkan kemarahan kembali padaku, namun, rupanya dia mulai pintar mengatur emosinya.
“Kenapa lo tiba-tiba marah sih? Santai kali, Jay. Gue yang sakit, lu yang marah-marah!” Gantian kali ini aku yang tenggelam dalam emosi.
Dia hanya berulang kali mengerjapkan kedua matanya, benar-benar berusaha untuk menahan emosinya. Dan
kata-kata terakhir darinya yang diucapkan hari itu, sedikit banyak menempel pada dinding otakku.
“Anak yang berasal dari keluarga yang sempurna kayak lo, gak akan pernah tau yang namanya kehilangan itu,
sesakit apa rasanya!”
Dia pergi dari sini. Membanting pintu dengan teramat keras, meninggalkanku yang terbengong-bengong dibuatnya.
Aku memainkan selimutku, dan berusaha menerka-nerka ucapannya barusan.
Tahu apa sih dia? Aku hanya membuka bagian dari diriku yang ingin kubuka. Sisanya adalah urusanku dengan Sang Pencipta.
********************