
Jay POV
BRENGSEK!
Kenapa lagi-lagi bayangan punggung dari manusia itu yang tergambar jelas dihadapanku? Kenapa bukan bayangan ibuku yang Engkau hadirkan wahai Tuhan?
Aku mengacak-acak rambutku sendiri. Geram jika harus berurusan dengan kenangan yang selalu hadir tanpa permisi, membuat suasana hatiku menjadi berantakan, dan membuatku begitu gundah hingga tidak ada lagi yang mampu menarikku keluar dari pusaran itu.
Aku mendekatkan botol alkohol kesayanganku dan meraih remote untuk menghidupkan ipod yang terpasang rapi
di atap sana. Aku memang sengaja merancang kamar yang sangat nyaman dengan speaker yang ada di seluruh ruangan serta ipod yang terpasang dengan cantik di atap kamarku.
Aku menekan tombol on tanpa memilih-milih lagu, aku menenggak alkohol ini langsung dari botolnya. Kubiarkan cairan itu mengalir melalui organ-organ dalamku, aku menikmati sensasi tidak enak yang diberikan oleh alkohol. Perlahan sebuah lagu mulai bersenandung disana. Aku merebahkan diriku diatas lantai kayuku.
I'm jealous of the rain
That falls upon your skin
It's closer than my hands have been
I'm jealous of the rain
I'm jealous of the wind
That ripple through your clothes
It's closer than your shadow
Oh, I'm jealous of the wind, cause
Sialan kau! Bahkan lagu yang terlantun saja seolah-olah sedang mengejekku sekarang ini. Lagu Labrinth berjudul jealous mencabik-cabik kembali diriku. Membantingku pada kesadaran yang penuh, membuatku membuka mataku, hingga seluruh bayangan yang membuat kesakitan ini terasa begitu nyata. Hadir kembali di pelupuk mata.
Ibu kenapa ibu meninggalkanku?
Kenapa ibu membiarkanku kedinginan di dunia yang bising seperti ini?
Tanpa bisa kutahan buliran air mata perlahan jatuh membasahi wajahku. Seperti hari dimana ibu meninggalkanku.
Kalau saja ibu ada disampingku saat ini, ingin rasanya aku mengulang segalanya. Kuperbudak waktu, kuhentikan
jarum jam semauku. Agar yang hadir hanyalah ibu, hanyalah kita, benar-benar tanpa adanya air mata yang jatuh. Jika aku bisa melakukan semua hal itu, mungkin saat ini merindumu tidak semenyakitkan dan sedalam ini, ibu.
I wished you the best of
All this world could give
And I told you when you left me
There's nothing to forgive
But I always thought you'd come back, tell me all you found was
Heartbreak and misery
It's hard for me to say, I'm jealous of the way
You're happy without me
Kali ini jauh lebih nyata lagi, memasuki setiap inchi ruang kepalaku, aku membenci mereka yang meninggalkanku.
Aku benci. Kenapa kalian meninggalkanku, disaat aku masih teramat kecil untuk mengerti apa rasanya kesakitan itu? Kenapa? Kenapa kalian bahagia sementara yang aku rasakan hanyalah kesakitan demi kesakitan yang ditorehkan oleh sang hidup.
I'm jealous of the
nights
That I don't spend with you
I'm wondering who you lay next to
Oh, I'm jealous of the nights
I'm jealous of the love
Love that wasn't here
Gone for someone else to share
Oh, I'm jealous of the love, cause
I wished you the best
All this world could give
And I told you when you left me
There's nothing to forgive
But I always thought you'd come back, tell me all you found was
Heartbreak and misery
It's hard for me to say, I'm jealous of the way
You're happy without me
Kadang, kita melihat dunia tidak seperti yang dahulu pernah kita bayangkan.
Kadang, kita baru menghargai apapun pemberian-Nya tepat didetik setelah Dia mengambil segalanya.
Ayah, ibu, rumah, apapun dulu kala yang pernah aku punya.
Hilang.
Salah siapa?
Salah perempuan-perempuan itukah?
Atau hanya ayahku-lah yang ********?
Kadang aku merindukan segalanya.
Seperti saat aku berusia 5 tahun.
Seperti saat aku berlarian di padang rumput itu bersama laki-laki yang paling penting dalam hidupku.
Atau seperti saat aku bermain sepak bola dengan ayahku di pekarangan rumah.
Atau mungkin, ketika aku memeluk ibuku karena ketakutan dengan suara petir.
Aku hanya anak laki-laki kecil, apa kalian tahu itu?
Aku tidak bisa memikul dosa-dosa yang kalian timpakan padaku. Aku tidak mampu.
Entah berapa kali dalam hidupku, aku tertidur sambil menangis seperti saat ini.
********************