A Beautiful Madness

A Beautiful Madness
She... Left Handed Too?



Jay POV


 


 


 


Perempuan ini terlihat begitu serius dan tenang ketika sedang melukis. Aku memang baru mengenalnya. Namun,


aku sudah membaca beragam artikel mengenai dirinya. Itung-itung riset kecil-kecilan sebelum benar-benar mengenal dirinya secara langsung.


 


 


Dari banyaknya artikel itu, dirinya seringkali direfleksikan sebagai seorang seniman penggila pesta, seorang perempuan muda kaya raya yang diusianya yang masih belia sudah memiliki segalanya. Dari semua artikel itu, aku percaya satu hal. Perempuan ini jelas bukan perempuan yang memiliki sifat tenang dan serius dalam dirinya. Dia


jenis manusia yang bisa melakukan apa saja. Dia Sonya Adinata. Seniman terkenal.


 


 


 


Aku memperhatikan tangannya yang lihai menggoreskan ratusan garis di sana. Dia begitu berani mencampurkan segala macam warna, hingga seolah lukisan itu begitu hidup.


 


 


Warna yang begitu cerah, namun, lagi-lagi yang dilukis olehnya adalah sebuah mata berwarna abu-abu itu. Dia


sedang melukis sepasang mata berwarna abu-abu. Dia sering sekali melukis mata berwarna abu-abu. Yang menurutku sangat kontras dengan nuansa yang dia bangun diluar mata itu. Suasana yang dia bangun melalui campuran warna-warna yang berani seolah menunjukkan adanya kebahagian disana. Jelas hal itu kontras


dengan mata yang dia lukis. Mata itu selalu melambangkan sebuah kesedihan yang teramat dalam.


 


 


 


Tapi, pertanyaannya, kenapa harus warna abu-abu?


 


 


 


“Kenapa warna abu-abu?”


 


 


 


Dia menoleh padaku dan terkejut, “sejak kapan disini?”


 


 


 


 


“Cukup lama, untuk ngeliat lo serius kayak gitu. Jadi... kenapa abu-abu?”


 


 


 


Dia tertegun, cukup lama, sampai kemudian, dia menatap sepasang mata abu-abu itu dan berkata, “Karena gue gak pernah tahu warna yang sebenernya.”


 


 


“Warna apa?”


 


 


 


 


“Warna mata seseorang, yang pernah gue liat di masa lalu.” Pandangannya seperti melayang jauh entah kemana.


 


 


 


 


Aku tertawa di dalam hati. Untuk apa melukis sepasang mata yang tidak familiar. Kenapa juga manusia mesti


repot-repot mengenang masa lalunya. Dengan manusia yang bahkan sama sekali tidak kamu kenali dengan baik.


 


 


 


Aku tertegun melihatnya, aku baru menyadari sesuatu. Dia kidal ternyata.


 


 


Jarang sekali ada  manusia kidal yang kutemui dalam hidupku.


 


 


Ah ya, kecuali orang itu, tentu saja.


 


 


 


 


********************


 


 


 


 


 


 


Setelah selesai melukis, aku mengajaknya untuk berjalan mengikutiku, ke ruangan yang jauh lebih nyaman. Kami


duduk berhadapan. Dia mengeluarkan perlengkapannya. Sebuah jurnal, beberapa alat tulis, tape recorder, dan


sebotol kecil alkohol.


 


 


 


“Yang ini gunanya buat apa?” Aku mengangkat botol alkohol miliknya.


 


 


 


Dia hanya melihat sebentar dan berujar, “just in case.”


 


 


 


Aku tertawa.


 


 


 


Laki-laki ini kemudian menyetel tape recorder miliknya dan memulai sesi wawancaranya, “selamat pagi, apa kabar?”


 


 


 


“Baik.”


 


 


 


“Baiklah, hari ini, saya akan mencoba menulis, membuat bersama dengan dirinya, dengan narasumber saya, sebuah biografi dari seorang pelukis berbakat. Sonya Adinata."


 


Kemudian ada jeda di sana, sebelum dia melanjutkan, "Kalo boleh tahu, bagaimana awal mula, anda mulai tertarik


dengan seni lukis dan apa yang mendasari anda pada akhirnya, untuk menjadi seorang profesional dibidang ini?”


 


 


 


Ternyata laki-laki sinis ini, bisa juga bertanya dan berbicara dengan nada yang cukup menyenangkan.


 


 


 


“Mungkin saya punya bakat. Bakat yang diturunkan oleh orangtua saya. Dari kecil, saya selalu melihat bagaimana ayah saya melukis, bermain dengan warna, dan ibu saya yang menjadi modelnya. Dari pengalaman itu, saya mulai tertarik dengan warna, cat air, kanvas, saya diajari oleh ayah saya, bagaimana menghasilkan warna yang menarik, yang menggugah siapapun yang melihatnya. Jadilah saya disana, pada usia 10 tahun, memamerkan karya saya yang pertama, yang ternyata mendapatkan respon yang sangat positif dari Indonesia maupun dari dunia. Dari situ, saya yakin, karier yang ingin saya tapaki adalah menjadi seorang pelukis. Pelukis semacam da Vinci maupun Van Gogh.” Aku mengakhiri kalimatku.


 


 


 


Laki-laki ini hanya mengangguk-angguk, dan bertanya kembali, “selain karna bakat, apa ada hal lain lagi yang menunjang kemampuan anda saat ini?”


 


 


 


Aku terdiam dan seolah sedang benar-benar berpikir aku berkata, “kerja keras dan pantang menyerah.”


 


 


 


“Oh bukan itu, maksud saya, pendidikan?” Dia meralat ucapannya, dan menambahkannya, agar aku mengerti


maksud pertanyaannya barusan.


 


 


 


“Nope, saya bukan berasal dari background seni. Saya bahkan gak menamatkan kuliah saya.” Aku menjelaskan padanya.


 


 


 


Dia mengangguk-angguk dan menuliskan beberapa kalimat di jurnalnya.


 


 


Aku tertegun.


 


 


Dia. Left handed juga ternyata?


 


 


***************