
Kota Jakarta, 1997
Sonya POV
Aku ingat sekali hari itu, hari yang sangat cerah di bulan Agustus. Hari itu usiaku genap 6 tahun. Kata papa,
dia akan menghadiahkan satu set perlengkapan melukis. Aku senang sekali dibuatnya. Pagi ini aku bangun dengan penuh semangat dan bergegas pergi menuju kamarnya untuk menemui papaku.
“Papa.. papa.... Ayo bangun! Ayo bangun, pah! Hari ini hari ulang tahunku... papa ingat kan?”
Papa hanya menggeliat-geliat dari balik selimutnya. Dia masih sangat mengantuk mungkin. Tapi, aku hanya seorang anak kecil. Anak kecil yang selalu menginginkan keinginannya untuk selalu dipenuhi. Maka aku terus menerus meminta papa untuk bangun.
“Oke... oke sayang... papa bangun... aduh... puteri kecil papa sekarang udah cerewet banget yah.....”
Dia menggendongku didudukkan di pangkuannya dan dia mulai membuat wajah-wajah yang lucu guna menjahiliku. Aku tertawa-tawa dan berguling di kasur bersamanya. Gurauan kami itu membangunkan mama yang tengah tertidur pulas, dia berpura-pura marah seperti biasanya, agar kami berdua takut dan bangkit dari tempat tidur. Untuk membiarkannya istirahat sebentar lagi saja.
“Ayo kita ke bawah sayang... Biarin mama tidur dulu...” Papa menggendongku ke bawah dan memasakkan sarapan untuk kami. Selain seorang seniman, papa juga merupakan laki-laki yang sangat ahli dalam memasak. Masakannya sangatlah enak.
Kesukaanku adalah omelet dan daging domba panggang buatannya. “Here’s my signature dish, honey...” Dia menyodorkan ke hadapanku, sebuah piring bergambar disney princess, dengan hiasan dari sayuran yang dia buat di sekeliling omelet buatannya. Sangat kreatif papaku ini.
“Terima kasih, pah...” Kami berdua saling melempar senyuman dan berakhir sibuk dengan makanan lezat di hadapan kami saat itu.
“Kok kalian makannya tanpa mama sih?” Suaranya mengejutkan kami, ternyata mama sudah bangun. Dia melihat kami dari balik tangga.
Kami hanya tertawa menanggapi komentarnya.
Papa bangkit dari kursi dan mengajak mama untuk duduk bersama kami, menyodorkan sepiring omelet buatannya, menatap mama dengan tatapan yang penuh dengan rasa cinta. Mama pun balas menatapnya dengan pandangan yang tidak kalah dengannya.
Aku senang sekali, keluargaku sangat sempurna.
Setelah kami semua selesai sarapan, mereka berdua bangkit dari kursi dan mengeluarkan sebuah kue ulang tahun yang super besar. Dengan senyum lebar di wajah mereka berdua, menyanyikan sebuah lagu ulang tahun untukku.
Aku pun ikut menyanyikan lagu itu bersama dengan mereka.
“Nah, ini kado dari mama... Ayo dibuka...” mama memberikan sebuah kado dengan ukuran super besar yang dibungkus sangat cantik dengan kertas kado yang berwarna pink.
Aku membukanya dengan sangat tidak sabar. Cenderung tergesa-gesa malah. Pertama-tama kubuka pita pembungkusnya yang senada dengan kertas kadonya, barulah kemudian aku merobek lapisan kertas yang membungkus kotak besar ini. Setelah selesai, barulah tepat dihadapanku terdapat sebuah kotak besar berwarna putih polos. Aku tidak sabar. Kubuka dengan cepat-cepat kotak besar itu.
“TEDDY BEAR!!!!!” Aku bersorak kegirangan sambil berlari berhamburan menuju mamaku. Memeluk dirinya dengan teramat kencang. Dia hanya terkekeh dengan dada yang naik turun. Aku dapat merasakannya. Dia menciumiku secara bertubi-tubi. Seluruh wajahku sekarang dipenuhi oleh bibirnya. Aku hanya tertawa dan kesenangan mendapat perlakuan manis seperti itu.
“Nah, sekarang, ayo buka kado dari papa...” Papaku menggeser sebuah kotak yang tidak setinggi yang sebelumnya, namun, teramat lebar.
Aku bersemangat sekali membuka kado darinya. Kado darinya dibungkus menggunakan kertas kado yang tidak se-girly kepunyaan mama. Mereka berdua memang berbeda sekali memperlakukanku. Namun, tidak pernah sekalipun aku protes pada mereka. Karena curahan cinta dan kasih sayang dari mereka sungguh luar biasa untukku. Berhubung aku merupakan anak semata wayang mereka, jelaslah aku adalah harta mereka yang paling berharga. Kadang, aku sering memanfaatkan kesempatan itu untuk memenuhi segala permintaanku.
“Wah, alat lukis baruuuuuuu!!!!!” Aku melompat-lompat kegirangan dan menabrak papa yang sekarang tengah tertawa-tawa. Aku dipeluknya. Kami bertiga saling berpelukan. Sama sekali tidak ingin hari bahagia ini jika segera berakhir.
********************
Jakarta, 2001
Papa bilang, hari ini aku akan dikenalkan dengan semua teman-teman melukisnya dari jaman kuliah dulu kala.
Guna memuluskan karier debutku sebagai seorang pelukis muda. Kami sampai disebuah rumah yang jauh lebih besar ketimbang rumah milik kami. Meskipun rumah kami dikategorikan sebagai sebuah rumah yang besar, namun, rumah ini 2 kali lebih besar dari itu. Kata papa, pemilik rumah ini bernama Om Agus. Meski dahulu kala, dia adalah yang tidak terlalu pandai sewaktu kuliah, namun, nasib berkata lain. Dia menjadi lulusan yang paling sukses dari angkatan papa.
“Om Agus itu adalah konsultan lukisan, sayang. Pelukis-pelukis muda seringkali namanya semakin naik daun
berkat rekomendasi-rekomendasi dari beliau. Jadi, papa akan mengenalkanmu dengannya, supaya dia memberikan banyak masukan untuk karyamu. Oke, sayang?” Papa mengedipkan sebelah matanya padaku dan mengelus ujung kepalaku lembut. Itu yang selalu dilakukannya, setiap kali hendak membuatku tenang.
Aku mengangguk.
Selama ada papa, semua akan baik-baik saja. Ujarku didalam hati.
********************