
Yogyakarta, 1989
Jay POV
“BUK...”
Aku terlonjak dari meja belajarku. Aku terkaget setengah mati. Seperti ada suara hantaman dari lantai bawah. Pikirku. Tapi, siapa ya tengah malam begini? Kulirik jam dinding di kamarku, pukul 12.45 malam.
“DUAR...”
Lagi-lagi aku terkaget-kaget. Aku memeluk tubuhku, ketakutan. Setiap kali hari hujan disertai petir seperti ini,
selalu saja, aku tidak bisa tertidur dengan nyenyak. Aku butuh ibuku.
Perlahan aku mengendap-endap, menuju kamar ibuku. Yang letaknya di sebelah persis kamarku. Ketika kubuka
pintu kamarnya, dia tidak ada disini. Aku mencarinya di kamar mandi juga sama sekali tidak ada. Ayahku juga ikut-ikutan menghilang.
“DUAR...”
Lagi-lagi petir itu menyambar langit. Bagaimana ini? Aku harus mencari ayah dan ibuku. Pelan-pelan, aku
menuruni tangga lantai 2. Mungkin saja, sekarang mereka sedang ada diruang keluarga atau ruang kerja ayah. Pertama, aku memeriksa di ruang keluarga yang ternyata sama sekali tidak ada, berarti mungkin di ruang kerja ayah.
Letak ruang kerja ayah memang agak jauh dibandingkan dengan ruangan yang lainnya, harus melewati sebuah taman kecil dahulu, kemudian akan sampai ke sebuah rumah kecil yang berada di area belakang rumah ini.
Kulihat ada sepatu mereka diluar sini, benar kan? Mereka memang pasti ada disini. Aku berjalan menghampiri pintu
utama rumah kecil ini. Belum sempat aku membukanya, aku sudah mendengarkan teriakan demi teriakan dari manusia-manusia paling aku cintai. Mereka saling memaki satu dengan yang lainnya. Tubuhku bergetar hebat. Aku ketakutan setengah mati.
“DASAR LAKI-LAKI GAK TAU DIRI!!! BAWA PEREMPUAN SEENAKNYA AJA KESINI. GAK MIKIR, KALO SEKARANG UDAH PUNYA ANAK? HAH?”
Itu suara ibuku.
“MAU SAYA SAMA SIAPA PUN, ITU URUSAN SAYA!!! SAYA GAK PERNAH SUDI BUAT HIDUP SELAMANYA DISUSAHIN SAMA KAMU!!! NGERTI???”
Itu suara ayah.
“KALO MAU NGAJAK PECUN, JANGAN KE RUMAH. SANA KE HOTEL!!!”
“THIS IS MY HOME!! I CAN BRING WHOEVER I WANT!!!!”
Setelah itu hening tercipta, sekian detik. Dan kudengar derap langkah kaki menuju pintu ini. Aku masih diam membeku disana. Sampai kemudian,
“CKLEK!”
Suara pintu dibuka dengan kasar. Seorang wanita cantik dengan uraian air mata yang ada di wajah itu, amat sangat
terkejut melihatku disana. Dia hanya diam, namun, kemudian, buru-buru menghapus air mata diwajahnya. Dia tersenyum padaku. Tapi, mata itu terus menerus mengeluarkan air bening disana. Aku menghapus pelan air matanya. Aku tidak ingin dia menangis. Sambil tetap tersenyum, dia membawaku darisana. Dan aku melihat, ayahku hanya berdiri diam mematung. Hanya mengenakan celana pendek kesayangannya.
Ibuku setengah berlari, segera membawaku ke kamarku. Aku masih tidak mengerti apa yang terjadi. Dan apa yang
dimaksud oleh mereka. Tapi, aku sama sekali tidak menyukai suara tinggi seperti tadi. Membuat telingaku sakit.
sama sekali tidak pudar disana. Dia masih membelaiku dengan teramat lembut.
Aku menyentuh lengannya perlahan, “ibu, kenapa ayah seperti tadi?” Itu adalah pertanyaan pertama yang keluar dari bibirku ini.
Dia hanya tersenyum, senyum untuk menenangkanku, dan senyum karena kelelahan. “Ayah hanya sedang capek nak. Besok pasti ayah akan balik seperti biasa.” Dia kembali mencoba membuatku tenang.
Aku hanya menganggukkan kepalaku. Dia tersenyum lagi, dan mengecup keningku. Hendak pergi meninggalkanku. Aku menahannya.
“Bolehkah, ibu menceritakan sebuah cerita untukku?” aku bertanya takut-takut. Aku takut dia menolaknya. Tapi, aku
masih membutuhkan dia untuk berada disini.
Dia tersenyum lagi dan mengangguk. Dia berjalan ke sebuah rak di samping tempat tidurku. Untuk mengambil sebuah buku cerita. “Malam ini, kira-kira enaknya baca cerita apa yah??” Dia pura-pura berpikir dahulu. Padahal dia selalu tahu, cerita kesukaanku itu apa.
“Kancil menipu buaya, bu!” aku berteriak girang.
Dia hanya menoleh sebentar padaku, dan langsung mengambilkan buku cerita kesukaanku. “Oke, oke, ibu mulai ya, nak...”
Dia membuka buku itu perlahan dan mulai membaca, “pada suatu hari yang sangat terik, si kancil sedang
tergopoh-gopoh menuju hutan dimana ia tinggal. Hari itu tidak biasanya panas sekali. Kancil baru saja memetik beberapa timun milik pak tani yang ada di sebelah hutan. Tapi, kali ini ia tidak bisa makan timun pak tani yang terkenal sangat enak dan besar-besar. Kali ini musim panas berlangsung lama, sehingga banyak timun milik pak tani yang rusak. Terpaksa si kancil kembali ke hutan untuk mencari makanan yang lainnya. Ditengah perjalanan ia harus melintasi sungai yang begitu besar. Tiba-tiba, muncul seekor buaya dari dalam air di hadapan si kancil. Ci luk baaa..! Halo, cil..dari mana kamu? Sudah lama gak jumpa, mau menyebrang ya?...pasti kamu ga bisa, ya kan?. Si buaya meledek si kancil yang ingin menyebrang sungai itu. Lalu, dijawab oleh si kancil, sebenarnya aku ingin menyerahkan diriku untuk menjadi santapan kalian, tetapi aku ragu apa tubuhku ini cukup untuk kalian semua? Kata si kancil pasrah.”
Ibuku masih meneruskan ceritanya, dan aku masih mendengarkan dengan seksama. Meskipun cerita itu telah diputar berulang kali.
“Hahaha...ya cukup lah cil, kita semua adalah buaya yang akur dan tidak ada yang serakah.. kata si buaya bilang
kepada si kancil. Wah, si buaya akhirnya akan terkena jebakan dariku. Baiklah tapi ijinkan aku untuk menghitung kalian semua dulu, sebab aku takut kalau tidak cukup. pinta si kancil yang cerdik kepada para buaya yang sudah tidak sabar. Akhirnya para buaya berjejer memenuhi sungai mulai dari tempat si kancil sampai ujung sungai seberang sana. Baiklah cil, silahkan kau menghitung jumlah kami. pinta buaya dengan sedikit nada memaksa. Oke deh, aku hitung ya...satu...duaa...tiga..empat... Si kancil mulai menghitung satu persatu para kawanan buaya dengan melompati dari satu buaya ke buaya yang lain. Sampai akhirnya si kancil sampai di buaya terakhir di ujung sungai, si kancil yang cerdik dan suka mencuri timun ini langsung lompat ke darat dan sambil berkata, oke...jumlah kalian memang cukup......cukup untuk aku bodohi...hahahaha.. Kata kancil sambil berlari masuk kedalam hutan dengan selamat.”
Ibuku menutup buku itu. Menandakan ceritanya telah berakhir. Aku kecewa. Aku masih ingin mendengarkan apapun yang keluar dari bibir itu. Aku masih ingin mendengarkan suaranya yang menenangkan itu.
Kini dia menatapku, dengan teramat lembut, dibelainya kepalaku. “Ibu pergi yah dan sekarang, kamu bobo ya,
anakku..”
Aku menggeleng kuat-kuat dan balik menatapnya, “bisakah ibu tidur disini bersama denganku?”
Mendengar permintaanku yang begitu tiba-tiba dan teramat manja, dia mengangguk dan tersenyum padaku, mata itu tidak lagi bersedih, sudah ada senyum ketulusan disana. Aku senang sekali. Aku memeluknya. Tidak ingin dia bersedih lagi. Tidak ingin dia pergi lagi.
“Aku sayang ibu...” Ucapku tulus.
“Ibu juga sayang padamu, nak...” Dipeluknya kuat-kuat tubuhku.
********************