A Beautiful Madness

A Beautiful Madness
Damn it!



Jay POV


 


 


 


“Jay!” Perempuan dihadapanku awalnya memang memasang ekspresi terkejut, tapi, beberapa saat kemudian, dia


sudah kembali lagi ke sifat asalnya.


 


 


 


Lain dengan diriku yang tidak dapat merespon kalimatnya dengan apapun. Aku benar-benar hanya terdiam disana. Sampai-sampai perempuan ini harus menggoyangkan tubuhku perlahan.


 


 


 


“Hey! Kamu kenapa? Kita udah lama kan gak berbincang-bincang? Duduk dulu yuk! Kita ngobrol-ngobrol aja dulu.”


 


 


 


 


Dengan sikap refleks yang sama sekali sedang tidak bekerja dengan baik, perempuan ini dengan sangat mudahnya dapat menarikku dan membuatku duduk di salah satu bangku yang ada di sana.


 


 


 


 


Dia duduk di hadapanku. Mengenakan perhiasan yang terlihat sangat mahal. Persis seperti terakhir aku melihatnya dulu. Rambutnya yang hitam pekat dibiarkan tergerai begitu saja, membuatnya terlihat jauh lebih muda dari usia yang sebenarnya. Senyuman yang dia sunggingkan untukku di bibir itu masih sama persis seperti yang kuingat.


 


 


Aku tidak suka mengakui ini. Namun, dia terlihat sangatlah cantik. Seakan tidak mengalami penuaan sama sekali.


 


 


 


 


Aku masih diam di sana. Dia juga diam memperhatikanku, aku tidak tahu apa yang sekarang sedang melayang-layang di kepalanya. Yang jelas dikepalaku saat ini, ada begitu banyak hal yang ingin kulakukan segera. Seperti pergi dari tempat ini secepat mungkin misalnya. Namun, tubuhku terasa sangat lemas. Ini benar-benar menyebalkan. Tubuhku sama sekali tidak terkoordinasi dengan baik.


 


 


 


 


“Jay.... Kamu kenapa?”


 


 


Tangannya tiba-tiba saja membelai lembut tanganku yang ada di atas meja, aku terkejut, tentu saja, dan secara refleks membuat tanganku menjauh darinya. Dia terdiam. Dia mungkin semakin menyadari, kalau aku sangat terkejut dengan kehadirannya di kota ini.


 


 


Kenapa perempuan ini harus ada disini?


 


 


 


 


“jay... Aku akan bercerai dengannya...” Kalimat mengejutkan itu diluncurkan olehnya dengan nada yang sangat santai. Bukan seperti nada tercekat atau memendam kesedihan yang luar biasa. Aku hanya terdiam, menunggunya menyelesaikan kalimat yang telah dia mulai. “Aku sama sekali gak cinta sama dia.... Jadi, aku udah ngajuin surat


cerai.... Bulan depan, sidangnya akan digelar di Jakarta. Karena itulah aku kesini...”


 


 


 


Jadi karena hal itu, perempuan ini ada di kota ini. Gumamku tanpa suara.


 


 


 


“Jay... Kamu mau kan, nemenin aku di sidang itu?”


 


 


 


Permintaan darinya itu membuatku ingin tertawa terbahak-bahak. Maksudku, ayolah! Jangan gila!


 


 


 


“Kamu udah gila?” Hanya itu kalimat yang kutawarkan sebagai jawaban akan rangkaian kalimatnya yang terdengar sama sekali tidak masuk akal di kepalaku.


 


 


 


“Sama sekali enggak! Kamu tau, aku gak pernah berenti cinta sama-”


 


 


 


“CUKUP!” Aku tidak mau mendengarkan kalimat yang sama sekali tidak berarti itu.


 


 


 


 


 


 


 


Aku tidak mengucapkan sepatah kata pun padanya. Aku tidak mau jatuh ke dalam lembah dosa yang sama, yang telah dengan susah payah kutinggalkan bertahun-tahun lamanya.


 


 


Aku pergi. Berharap, tidak akan pernah melihat wajah itu lagi.


 


 


 


********************


 


 


 


 


Aku melajukan kendaraanku seperti layaknya orang gila. Aku menempuh kecepatan hingga diatas kecepatan normal. Aku seperti kesurupan. Aku hanya ingin cepat sampai di rumah, tidur, hingga tanpa sadar, hari sudah berganti. Dan mimpi buruk ini akan pergi dengan cepat.


 


 


 


 


Aku tiba di tujuanku. Membanting pintu dengan keras. Dengan bergegas, aku mencari persediaan alkohol di lemariku. Ah, ini dia! Sebotol vodka. Aku tertawa sendirian. Akhirnya, didalam hidupku, ada juga yang menyenangkan.


 


 


 


 


Aku berjalan dan menaiki tangga putarku, untuk sampai ke kamarku. Aku membuka kemejaku dan menjatuhkannya di atas lantai. Aku terduduk di lantai kayu ini. Tepat berhadapan dengan diriku yang dipantulkan oleh cermin di kamar ini.


 


 


 


Aku menenggak sebotol alkohol yang ada ditanganku. Rasanya luar biasa! Tidak ada yang lebih baik ketimbang rasa sakit yang disembuhkan oleh alkohol.


 


 


 


 


Oh, aku salah.


Aku keliru.


 


Aku tertawa seperti orang gila.


 


 


 


Bertahun-tahun aku selalu melarikan rasa sakitku dengan alkohol, namun, aku menyadari bahwa luka-ku tidak akan pernah sembuh. Satu hal yang kupelajari, alkohol tidak pernah menyembuhkan, alkohol hanya membuatmu lupa. Lupa kalau di dunia ini ada yang namanya rasa sakit.


 


 


 


 


Aku menyentuh leherku yang terdapat tatto. Kasar sekali. Aku membuka kausku. Dan melihat seorang laki-laki muda dengan kulit kecokelatan, bahu yang tegap, dan tubuh yang didominasi oleh tatto. Aku menyentuh tubuhku. Menyentuh tatto pertamaku yang kubuat bersama dengan perempuan itu.


 


 


Aku tersenyum. Rasanya telah bertahun lamanya aku tidak pernah tersenyum karena seseorang, dan dia


adalah satu-satunya alasan yang bisa membuatku tersenyum.


Tersenyum dengan begitu tulus, dari dalam hati.


 


 


 


Aku bangkit dan melihat pantulan diriku yang kini sedang kuamati disana.


 


Di mataku saat ini, bukan seorang laki-laki muda yang berdiri disana, melainkan seorang anak laki-laki kecil, berambut cokelat, dan bermata hitam pekat. Mata pekat itu selalu menangis. Wajahnya selalu bersedih. Dia menatapku kembali, anak laki-laki itu ingin diselamatkan.


 


Oleh siapapun itu, yang mampu menyelamatkannya.


 


 


 


Aku tertawa getir.


 


 


Jari-jariku yang dingin perlahan menyentuh tubuhku lagi.


 


Kasar.