
Adrianne POV
Anne, ada kabar buruk. Cepat datang ke kantor yah.
Itu pesan singkat dari pegawaiku yang juga adalah wakil editor, Tasya. Pesan singkatnya yang sangat provokatif itu, mau tidak mau membawaku datang ke kantor 2 jam lebih awal dari biasanya. Aku menaiki lift dan pemandangan sepi langsung menyambutku begitu masuk ke kantorku ini.
Terang saja.
Sekarang masih pukul 6 pagi!
Siapa juga yang akan datang sepagi ini?
Aku membuka ruanganku dan mendapati Tasya beserta Raymond—yang merupakan kepala bagian marketing perusahaan ini—duduk di sana dengan wajah kusut.
“Ada apa? Kok pagi-pagi gini muka kalian kayak gitu sih?” Aku meletakkan tas tanganku di meja dan menggantung jaketku.
“Coba lo baca ini Anne.” Tanpa intro, tanpa tedeng aling-aling Tasya menyodorkan sebuah majalah padaku yang sudah dilipat.
Jakarta Now. Halaman 36-37. Rubrik ‘What’s up, world?’.
Rubrik ini sangat terkenal. Serta memiliki jumlah pembaca yang fantastis. Di dalam rubrik ini memiliki konten mengenai segala sesuatu yang menarik di kota ini maupun kota-kota lain di seluruh dunia. Dari mulai gaya
hidup, makanan, film, busana, buku, bahkan festival-festival besar yang mendunia, selain dikarenakan faktor konten yang menarik, tidak tanggung-tanggung juga, rubrik ini juga dibawahi alias dikepalai oleh seorang wartawan kenamaan ibukota yang kini telah menjadi seorang desk editor legendaris.
Keenan Pranadipa. Seorang wartawan yang sudah berkarier lebih dari 10 tahun di dunia media cetak maupun elektronik. Sampai saat ini, apapun yang ditulis juga dibahas olehnya, akan menjadi trend dan dibicarakan seluruh ibukota.
Aku mulai membaca kalimat demi kalimat di dalam artikel ini.
F.M.L or F.Y.L, Jay?
Aku mengernyitkan dahi. F.Y.L? Apa itu?
Aku meneruskan membaca kalimat demi kalimatnya yang teramat provokatif dan baru sadar akan artinya. F.Y.L
(****.Your.Life). Dia bukan hanya membahas mengenai buku terbaru Jay tapi, juga soal attitude tempo hari. Bagaimana cara Jay memperlakukan para jurnalis yang datang pada acara peluncuran bukunya. Dan yang paling parah adalah artikel ini juga membahas mengenai kedekatan antara petinggi perusahaan penerbitan dengan Jay, menghubungkannya dengan kemampuan Jay dalam menulis dan beradaptasi dengan lingkungan sosial. Bagaimana Jay mendapatkan perlakuan istimewa bahkan tim promosi yang gila-gilaan dalam memasarkan buku-buku karya Jay.
Astaga!
Ternyata dampak akan promosi tempo hari jadi sebesar ini. Biasanya sikap sarkastik Jay tidak berdampak sampai sebegitunya.
Mungkin, kemarin Jay minum alkohol terlalu banyak, hingga tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Aku menoleh pada mereka berdua, dan Raymond menyodorkan beberapa lembar kertas padaku.
“Bukan itu aja Anne. Liat grafik penjualan buku milik Mas Jay.” Raymond dan tim marketing telah membuat sebuah grafik mengenai turunnya angka penjualan buku ketiga Jay dibandingkan dengan buku-buku sebelumnya. Angkanya bahkan lebih dari angka yang bisa ditolerir.
Aku bertanya pelan, tanpa mengalihkan pandanganku dari kertas itu, “Berapa total buku yang terjual selama
2 bulan ini?”
“Hanya, 800 buku. Sementara di minggu pertama buku milik Mas Jay yang pertama sudah terjual lebih dari 15500 dan di bulan pertama buku Mas Jay yang kedua sudah terjual lebih dari 25000 buku. Dan ini merupakan salah satu kemunduran dari penjualan bukunya, dan juga—Kulihat Raymond terdiam, dan menjawab dengan nada yang lebih pelan dari sebelumnya—merupakan kemunduran dari perusahaan kita Anne.”
Yaampun, bagaimana ini? Aku menelan ludah.