A Beautiful Madness

A Beautiful Madness
Interview Session



Jay POV


 


 


 


 


Aku tercenung. Sementara dia masih asyik tenggelam dalam cerita mengenai masa kecilnya yang begitu indah. Entah sejak kapan aku mulai tidak mendengarkan cerita mengenai dirinya. Dan sibuk dengan banyak kalimat yang terngiang di kepalaku. Kalimat-kalimat yang selalu membuatku sesak setiap kali mengingatnya.


 


 


 


“Apa ayah akan pergi begitu saja?”


 


 


Tatapan dingin darinya yang dia arahkan padaku seakan-akan menjawab segala pertanyaan. Pertanyaan polos yang keluar dari bibir anak laki-laki kecil itu.


 


 


“Sehabis ini, kamu akan tinggal bersama paman dan bibimu. Mereka adalah teman ibumu semasa dulu. Dan kamu, tidak boleh berkata tidak mau!” Ada nada mengancam di dalam suara serak itu.


 


 


 


Anak laki-laki kecil itu takut-takut memandanginya. Dan bertanya kembali dengan suara yang serak, hampir tersedak, “maafkan aku, kalau aku membuat ayah marah. Tapi, bisakah kamu memberikanku satu kesempatan lagi? Aku janji, aku tidak akan minta apa-apa dari ayah. Seumur hidup, aku tidak akan minta apapun pada ayah. Tapi, biarkan aku bersama dengan ayah. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Aku mohon.” Setengah terisak pada akhirnya.


 


 


 


Namun, dia hanya berdiri diam disana. Tidak berkata apapun juga.


 


 


 


 


Sentuhan tangannya yang sangat dingin, membuatku terjaga. Aku tersadar kembali. Kembali ke masa sekarang. Terkejut lebih tepatnya. Sonya bertanya pelan padaku, “lo gakpapa?”


 


 


 


 


“Sori, kenapa, Nya?” Aku kembali mengerjap-ngerjapkan kedua mataku. Meminta diriku untuk tersadar. Kembali.


 


 


 


Sonya hanya menatapku diam dan berkata, “lo kok kayak gak konsen gitu sih? Lagi ada masalah emangnya? Atau


cerita gue membosankan?”


 


 


 


 


Aku menggeleng cepat. “Enggak, sama sekali! Tadi emang sempet bengong sebentar. Sori yah. Kita bisa lanjutin lagi kok. Gimana?”


 


 


Cerita mengenai keluarganya sama sekali tidak membosankan. Hanya saja, rasanya sakit sekali. Di dalam sini. Membayangkan cerita keluarga yang bahagia. Membuatku selalu ingin marah.


 


 


 


Kulihat dia mengangguk ragu, namun, tetap meneruskan kembali ceritanya itu.


 


 


 


********************


Medan, 2003


Sonya POV


 


 


 


Hari itu, setelah 2 tahun debutku yang mendulang kesuksesan. Kami memutuskan untuk berlibur sejenak. Menjauh dari padatnya ibukota. Setelah pertimbangan yang cukup matang, kami memilih Kota Medan sebagai destinasi kami. Kata papa, dulu dia berasal dari kota ini. Kota ini merupakan kota kelahirannya, meskipun beliau sendiri bukanlah keturunan asli kota ini.


 


 


 


“Dan kamu tahu, papa juga ketemu mama kamu di kota ini loh, sayang.” Papa memeluk mama yang sekarang balik


 


 


 


“Kita akan seperti ini terus kan yah, pah?” Tiba-tiba saja aku bertanya dengan pelan kepada mereka. Dan lebih


tepatnya kepada papaku. Beliau diam sejenak. Mereka berdua diam sejenak dan akhirnya yang kurasakan adalah pelukan lembut yang dihadiahkan padaku oleh mereka berdua.


 


 


 


“Tentu saja, sayang...”


 


 


Aku merasakan ciuman bertubi-tubi dari mereka berdua. Kami bertiga duduk diam disini, dan menikmati pemandangan landscape danau Toba yang begitu indahnya.


 


 


 


********************


Sonya POV


 


 


 


Aku terdiam. Kurasakan detak jantungku mulai terasa lebih cepat. Darahku mengalir lebih cepat, udara disekitarku tidak dapat lagi menembus paru-paruku. Aku sulit bernapas. Kulihat Jay kini memandangku dengan tatapan bingung. Tidak tahu mengapa aku hentikan ceritanya secara tiba-tiba.


 


 


 


 


“Nya, lo kenapa, Nya?” Dia mendadak panik ketika aku memegangi dadaku.


 


 


Sakit.


 


 


Seluruh tubuhku berkeringat.


 


 


 


Pandanganku perlahan mulai kabur.


 


 


 


Ya Tuhan, mengapa harus datang kembali?


 


 


 


 


Sayup-sayup aku mendengar suaranya memanggil-manggil namaku berulang kali. Mencoba menyadarkanku.


 


 


 


 


Cepat bawa gue ke rumah sakit! Cepat, Jay! Sebelum semuanya terlambat.


 


 


 


 


Dan hening.


 


 


 


Aku tidak ingat apapun lagi.


 


 


 


********************