A Beautiful Madness

A Beautiful Madness
Daydream



Yogyakarta, 1990


Setelah menjalani hari-hari yang begitu berat, tanpa kehadiran dari sosok ibu. Ibu yang selalu saja ada ketika


aku ketakutan, ketika aku bersedih, kini hanya terbaring lemah di tempat tidur itu. Meski ayah tidak melepas semua peralatan yang kini seperti bagian hidup dari ibu, namun, tidak pernah juga dia benar-benar menjenguk ibu. Dia lebih sibuk dengan apapun urusannya selain ibu.


Saat ini aku sedang menjaga ibu di dalam sini, aku melihat kelelahan di wajahnya yang cantik itu. Meskipun kini telah banyak peralatan yang mengganggu penglihatanku untuk benar-benar bisa melihatnya, namun, dia tetap terlihat cantik.


Ketika aku sedang duduk di kursi ini, tahu-tahu saja aku telah terlelap. Tanpa mimpi. Mungkin aku kelelahan.


Entah berapa menit, atau bahkan jam yang kuhabiskan untuk memuaskan rasa kantukku. Aku terbangun oleh suara gaduh dari banyak sekali orang. Aku perlahan membuka mataku, mengerjap-ngerjapkannya perlahan dan kulihat ada banyak sekali laki-laki yang mengenakan baju putih juga perempuan yang mengenakan baju putih. Salah satunya menyadari kehadiranku di sudut kamar ini dan bergegas menghampiriku.


“Adik sayang, kita keluar dulu yah dari sini...” Bujuk seorang perempuan yang mengenakan topi dikepalanya. Aku


langsung protes dengan keras.


“Gak mau! Aku mau disini aja! Aku mau menemani ibuku saja!” Ucapku. Nadaku meninggi, dengan suaraku yang masih cempreng.


Kupikir dia menyerah, namun, yang terjadi kemudian adalah dia memberikan isyarat kepada 1 laki-laki bertubuh


cukup besar di luar ruangan ini. Laki-laki itu langsung mengangguk dan menghampiriku, tanpa aba-aba, aku sudah digendongnya. Dijauhkan dari ruangan tempat ibu dirawat. Aku meronta-ronta sebisa mungkin, namun, percuma. Laki-laki itu terlampau kuat, tubuh kecilku tidak akan bisa menandinginya.


Tanpa kusadari aku telah berada di luar ruangan itu. Dia menurunkanku dan mendudukkanku di sebuah kursi. Dia berjongkok dihadapanku, dia yang semula kukira mengerikan, justru tersenyum dan berbicara dengan teramat lembut padaku, “kamu mau ibumu sembuh bukan?”


Aku mengangguk ragu-ragu.


“Kalau begitu, biarin dokter bekerja. Dan kita hanya bisa berdoa, semoga ibumu diberikan keselamatan oleh Sang Maha Kuasa. Oke?” Dia berkata lagi sambil mengedipkan matanya. Berusaha menenangkanku.


Aku melihat ke dalam matanya. Disana hanya ada kesungguhan. Jadilah aku mengangguk mengiyakan kalimatnya. Dia berdiri kemudian dan duduk dibangku sebelahku. Aku melihat ke sekelilingku, dan diseberang sana ada ayah dengan seorang wanita yang usianya pasti jauh lebih muda dibanding dirinya. Duduk bersebelahan dengan mengisyaratkan gerak tubuh yang terlalu mesra. Pasti perempuan itu adalah salah satu perempuan yang


membuat ibuku sedih. Aku membuang muka dengan cepat. Aku tidak ingin melihat kemesraan yang tidak pantas itu.


Sekitar beberapa jam kemudian, di tengah malam, di tengah lelapku, aku mendengar suara pintu dibuka, aku tidak


menggubrisnya. Aku mengantuk sekali. Namun, sebuah belaian lembut diseluruh wajahku, seketika itu juga menyadarkanku. Aku tahu betul siapa pemiliknya. Aku membuka mataku dan kulihat ibuku berdiri disana. Dia cantik sekali. Mengenakan baju berwarna putih. Dengan senyuman yang tak henti tersungging di bibirnya itu, dia masih terus membelaiku. Aku bangkit dan langsung berhamburan ke dalam pelukannya.


“Aku pikir ibu akan meninggalkanku sendirian! Ibu membuatku khawatir!” Aku menangis sesenggukan di pelukannya. Dan belaian itu tak henti-hentinya di hadiahkan untukku.


“Kata siapa ibu akan pergi meninggalkanmu? Itu tidak mungkin, sayang. Kemanapun ibu pergi, ibu akan selalu


berada disini.” Ucap ibuku sembari melepas pelukanku dan menunjuk ke dalam dadaku.


“Apa maksud ibu?” Aku tidak mengerti.


“Sayang, waktu ibu sudah tidak banyak lagi. Tapi, ibu mau kamu tau, kalau kemanapun ibu pergi, sejauh apapun


itu, meskipun kamu sudah tidak bisa melihat ibu lagi, ibu akan tetap berada didalam hati kamu. Ibu tidak akan kemana-mana, sayang...” Lagi-lagi dia membelai wajahku dan mengecup wajahku bertubi-tubi.


“Aku tidak mengerti apa maksud ibu. Apa maksudnya, bu?” Aku menagih penjelasan darinya.


Lagi-lagi dia hanya tersenyum. Dan kemudian berkata, “sayang, berjanjilah satu hal padaku, maukah?”


Aku mengangguk kuat-kuat.


“Hidup ini sama sekali tidak jahat, Allah sama sekali tidak jahat. Ketika kamu mengalami banyak kesusahan di dalam hidup, percayalah, bahwa itu hanya satu dari sekian banyak hadiah yang akan dihadiahkan padamu di masa depan. Percayalah bahwa selalu ada makna dibalik setiap kesusahan. Jadi, ketika kesusahan, kesulitan menyerangmu, berjanjilah bahwa menyerah tidak akan menjadi keputusanmu. Kamu boleh marah, tapi, pastikan


kemarahan itu tersalurkan dengan baik. Jangan mengambil langkah yang salah jika kamu tidak bisa bertanggung jawab akan hal itu. Mengerti, sayang?” Dia membelaiku lagi.


Aku hanya dapat terus mengangguk-angguk. Mengiyakan, apapun yang diinginkannya. “Aku sudah berjanji


padamu, ibu. Jadi, apakah ibu juga akan berjanji satu hal padaku? Jangan pernah tinggalkanku. Berjanjilah. Aku mohon...”


Dia hanya tersenyum dan mencium keningku sekali. Kemudian, berjalan pergi menuju kepada sebuah cahaya disana.


Terang sekali.


Aku berkali-kali berteriak memanggil namanya. Namun, dia tidak menoleh lagi. Aku terbangun oleh guncangan


dari seseorang, ketika kubuka mataku. Seorang dokter sedang berbincang dengan beberapa orang yang sedari kemarin menunggu disini. Ada seorang perempuan yang jatuh terduduk sambil berlinangan air mata, ada juga seorang laki-laki yang kemudian menangis tanpa suara. Hal itu sangat kontras dengan ayahku yang hanya


diam mematung, tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya. Aku menghampiri mereka, bertanya ada apa. Namun, yang kudapat hanya pelukan juga ciuman diseluruh wajahku sambil terus-menerus berkata, “kasian kamu nak, kamu masih sangat kecil...”


Aku tidak tahu apa yang terjadi.


Namun, ketika kulihat peralatan ibuku satu persatu dilepaskan dan kemudian tubuhnya ditutupi dengan kain. Aku mulai mengerti.


Ciuman di kening itu adalah sentuhan terakhir dari ibuku.


********************