A Beautiful Madness

A Beautiful Madness
Sober, enough?



Jay POV


 


Apa yang lebih baik dari menulis ditemani oleh secangkir kopi panas di pagi hari seperti ini? Tidak ada kawan.


 


Aku menyesap kopi pagi hariku.


 


Pahit.


 


Namun, selalu lebih manis dibanding hidupku.


 


 


Kupandangi langit di atas sana yang masih enggan merubah warnanya, yang masih asyik diselimuti kelabunya sang awan. Bahkan langit saja masih ingin tertidur beberapa saat lagi.


 


 


Ponselku berdering, dan kudapati banyak sekali pesan teks dari Anne. Sepertinya penting sekali hingga aku harus ke kantornya pagi-pagi begini. Aku mengetik balasannya dan mengatakan aku akan tiba secepatnya.


 


 


30 menit kemudian, aku sampai di sini. Kantor penerbitan paling terkenal di negara ini, One Life Press. Penerbit ini sudah menerbitkan ratusan karya penulis-penulis muda dan kebanyakan merupakan cerita fiksi seperti novel atau


ada juga yang non-fiksi seperti mengenai travelling ataupun gaya hidup. Aku memasuki gedung ini dan bergegas menuju ruang kerja Anne.


 


 


Kubuka pintu kaca ini dan kudapati Anne, Tasya dan Raymond sedang serius mendiskusikan sesuatu, ketika melihat diriku datang, mereka tiba-tiba saja menghentikan diskusi dan menyuruhku untuk duduk bersama mereka. Anne yang wajahnya terlihat paling khawatir, langsung menyodorkan beberapa lembar kertas ke hadapanku.


 


 


“Apa ini?” Tanyaku bingung.


 


 


“Baca aja dulu.” Anne memberikan dokumennya padaku.


 


 


Aku menurutinya dan mulai membaca. Ternyata isinya adalah grafik penjualan buku ketigaku dan perbandingannya


dengan buku-buku sebelumnya. Karena aku tidak begitu mengerti, aku bertanya kemudian pada mereka, “Grafik ini, kenapa memangnya?”


 


Dan begitu saja, mereka menerangkan padaku bahwa penjualan buku ketigaku mengalami kemerosotan dan


mereka percaya bahwa itu semua dikarenakan review buruk dari seorang wartawan kenamaan yang kini telah menjadi seorang desk editor, Keenan Pranadipa, disebuah rubrik terkenal ibukota.


 


Aku menghembuskan nafasku, kemudian memandangi mereka dan bertanya, “Lalu, sekarang rencana kita apa?”


 


Anne melihat padaku, mengetuk-ngetukkan pulpen yang sedang dia pegang di meja kayu ini.


Dia terlihat sedang berpikir.


 


Aku dan mereka—Tasya dan Raymond—menunggu dengan sabar. Aku tidak bisa memberikan masukan maupun ide saat ini, jadilah, aku hanya mengandalkan dirinya.


 


Lama sekali.


 


Sampai kemudian, Anne buka suara.


“Aku ada ide. Tapi, entahlah, bisa berhasil atau tidak.” Dia terlihat khawatir, namun juga seperti senang karena


telah menemukan sebuah jalan dari masalah ini.


 


Dia memandangiku, ekspresi wajahnya selalu sama. Selalu mengatakan padaku tanpa kata-kata, kalau semua


akan baik-baik saja.


 


*********


 


Sonya POV


 


Setiap kali habis pesta seperti semalam, kepalaku selalu saja pengar di pagi harinya. Padahal seingatku aku


tidak terlalu banyak minum. Hanya sebotol vodka. Seingatku, dulu kala, bahkan setelah pesta alkohol berbotol-botol semalaman, pengarku di pagi hari tidak sampai separah ini.


 


 


Aku menyeret kakiku, dengan keadaan masih belum sadar sepenuhnya, membuka pintu kamarku, dan astaga! Aku mendapati sekiranya 10 orang manusia bergeletakan di rumahku.


 


Yang benar saja!


 


 


 


11 siang!


 


 


Dasar pemabuk keparat!   Makiku tanpa suara.


 


 


“Bi.. Bibi!!!!”


 


 


Seorang perempuan berusia lebih tua 20 tahun dariku keluar tergopoh-gopoh dari belakang. “Iya, non. Ada apa?”


 


 


“Aku minta tolong, mereka semua, yang pada tepar di lantai ini, tolong disuruh secepatnya pergi dari sini. Minta


bantuan juga sama Mang Kusni dan Si Sari. Oke bi?”


 


Perempuan dihadapanku hanya mengangguk patuh dengan ekspresi kebingungan namun menurutiku, dia berjalan ke depan, memanggil bala bantuan.


 


 


Kuseret lagi kaki-kakiku, kali ini ke dalam kamar mandi. Aku mengisi bathup hingga penuh dengan air hangat. Kemudian, aku memasukkan jari-jari kakiku yang dingin ke dalam sini. Nikmat sekali rasanya. Seluruh tubuhku seperti dipijat lembut.


 


Aku membenamkan seluruh tubuhku di dalam sini. Sunyi. Aku memiliki caraku sendiri untuk membuat diriku merasa lebih baik. Salah satunya dengan berada di dalam air yang tenang ini, yang sunyi, tanpa suara apapun.


 


Dunia sungguh tempat yang sangat berisik. Tawa manusia, kebohongan yang setiap detik terucap dan jangan lupakan kalimat pedas yang digunakan untuk menusuk manusia lainnya. Aku muak dengan dunia ini. Salah satu tempatku melarikan diri darinya adalah di dalam sini, dengan kesendirianku.


 


 


Namun, bahkan, di tempat yang sunyi seperti ini saja, suara masih mengganggu kepalaku. Suara ponselku. Mau tidak mau, aku mengeluarkan tubuhku dari sini. Menyeka wajahku dan meraih ponselku di sisi kanan bathup.


 


“Halo..” Aku mengangkat telepon tanpa melihat siapa peneleponnya.


 


 


“Sonya, ini aku.” Suara di seberang sana berkata seolah-olah aku tahu dia siapa.


 


 


“Siapa?”


 


 


“Anne. Emangnya kamu gak nyimpen nomorku?” Nada protes diseberang sana nyaring terdengar.


 


 


 


“Oh, Anne. Maaf, maaf... Kenapa, Anne?” Aku bahkan sama sekali tidak berbasa basi padanya.


 


 


“Malem ini, kita bisa ketemu gak, Nya? Ada sesuatu yang mau aku obrolin sama kamu. Ada waktu gak?”


 


 


“Boleh. Di tempat biasa aja yah, Anne. Jam 7, oke?”


 


 


“That would be great. Thanks, Nya!”


 


 


Aku mematikan ponselku dengan tanda tanya. Terdengar dari suaranya barusan, dia sedang sangat membutuhkan bantuan. Aku tahu nada suara itu. Aku cukup yakin. Aku sudah mengenalnya lebih dari 5 tahun belakangan ini.


 


 


Hah, bodo amat!


 


 


 


Aku membenamkan kembali tubuhku di dalam   sini.


 


*******