A Beautiful Madness

A Beautiful Madness
Huh? What? That's Crazy!



Sonya POV


 


"Sederhana, Nya. Aku mau Jay menulis biografi tentang kamu."


Untung saja aku sedang tidak meminum minuman apapun, kalau tidak bisa-bisa aku tersedak.


"Biografi? Yang benar saja, Anne! Jangan bikin aku tertawa!"


Anne menggelengkan kepalanya. "Aku nggak bercanda. Kamu masih sangat muda, tapi amat berbakat. Memiliki segalanya, dan profesi kamu terbilang jarang di Negri ini. Oke-oke, maksudku pelukis itu banyak, tapi yang memiliki ketenaran di usia muda itu hanya segelintir bahkan hampir tidak ada. Tapi kamu mendobrak semua itu."


Anne terlihat sangat antusias sekali. Kedua matanya tampak berbinar.


"Semua orang mencintai kamu, Sonya. Semua orang mengidolakan kamu. Dan jika semua orang mencintai kamu, berarti semua orang juga ingin melihat seperti apa perjalanan hidup seorang Sonya Adinata sampai bisa sukses seperti sekarang."


Aku masih menggelengkan kepalaku, tidak habis pikir dengan ide gila yang baru saja dicetuskan oleh Anne.


 


Biografi? Yang benar saja. Lantas apa isinya?


 


Bekerja sama dengan manusia yang sinis seperti penulis itu tidak akan membuatku semakin terkenal atau semakin baik di mata dunia. Bisa-bisa yang ada malah hanya kalimat-kalimat sinis yang laki-laki itu tuliskan mengenai diriku. Enak saja! Aku tidak akan membiarkannya menghancurkan karier yang sudah kubangun bertahun-tahun lamanya dengan kucuran keringat dan tetes darahku.


 


 


Tapi, ada satu hal yang sedikit menggangguku. Jika memang Jay adalah sahabat lama Anne di panti asuhan dulu,


berarti dia tidak akan pernah menyerah untuk terus meminta bantuanku untuk menyelamatkan laki-laki itu.


 


 


 


********************


Jay POV


 


“Iya... Sebentar!!!”


 


 


Siapa sih pagi-pagi buta begini mengetuk pintu seperti orang kesetanan saja? Aku berlari dari kamar mandi, hanya


mengenakan handuk yang kulilitkan pada tubuhku. Aku memang hidup sendirian di rumah ini, jadi aku harus mengurus keperluanku dan juga tamuku.


 


Aku membuka pintu kayuku dan kudapati seorang perempuan dengan rambut bergelombang dan kulit putih pucat mengenakan kacamata hitam, memekik seperti melihat hantu ketika melihatku berdiri di hadapannya. Dia melemparkan tasnya ke arahku dan berlari menjauhiku. Astaga, perempuan ini, benar-benar, deh!


 


 


“Anne, kenapa sih?” Bukannya menjawab, dia hanya menunjuk diriku, aku melihat diriku sendiri dan tertawa.


 


“Gue kira apaan! Udah sini masuk. Lo duduk aja dulu. Gue ganti baju.” Aku menaruh tas Anne di sofa dan berjalan menuju kamarku, untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.


 


 


Tidak lama kemudian, aku keluar dan menghampiri dirinya yang kini pandangannya tidak mau bertatapan denganku. “Anne, liat gue. Gue udah pake baju sekarang. Mata lo jangan ngeliat kebawah terus kenapa sih?”


 


 


Dia tidak menggubrisku dan kemudian, dia berdeham dan berkata, “emm, aku udah temuin solusi buat kita semua.


Tapi, kamu harus janji, kamu akan setuju. Apapun itu solusi yang mau aku kasih. Oke?”


 


 


“Solusi apa dulu?”


 


 


“Kamu gak perlu banyak nanya, kamu cukup janji, untuk setuju, oke?”


 


 


Aku mengangguk. Rasanya memang tidak ada sama sekali alasanku untuk tidak menyetujuinya, bukan?


 


 


Dia menarik napas perlahan, “Aku mau kamu nulis sebuah biografi.” Dia berkata santai, seakan-akan bukan hal yang mengejutkan.


 


 


 


 


Terkejut? Jelas!


Lagipula kenapa biografi? Biografi siapa yang akan kutulis? Bapak proklamator kita? Atau penyanyi terkenal? Atau mungkin juga pebisnis sukses yang menguasai dunia? Siapa? Dan kenapa? Untuk apa juga?


 


 


Anne tidak banyak bicara, hanya menyodorkan padaku lembaran kertas yang sudah dibundel menjadi satu. “Baca,


Jay.”


 


 


Aku meraih bundelan kertas itu dan mulai membaca paragraf pertamanya.


 


 


 


Sonya Adinata. Seorang seniman sejati negeri ini. Dia memulai debutnya sebagai seorang pelukis di usianya yang baru menginjak 10 tahun, sehingga menjadikannya sebagai salah satu pelukis termuda Indonesia bahkan dunia. Dia beraliran ekspresionisme yang mengarah kepada kecenderungan seorang seniman yang dalam upayanya untuk mendistorsi kenyataan dengan berbagai macam efek emosional. Sampai saat ini, jumlah lukisan yang telah dia hasilkan lebih dari 81 buah. Di usianya yang desember nanti genap 25 tahun, dia akan membuka galeri terbarunya di kawasan Senopati, dan akan memamerkan lebih dari belasan karya terbarunya, yang saat ini sedang dipersiapkannya.


 


 


“Dia siapa?” Aku menaruh bundelan kertas itu di atas meja dan menatap dengan penuh tanda tanya pada Anne.


 


 


“Dia Sonya. Pelukis muda dan paling berbakat yang dimiliki oleh negeri ini, Jay.”


 


“Lalu, apa hubungannya sama gue?”


 


 


“Tentu ada. Dia adalah solusi dari masalah kita Jay.”


 


 


“Pelukis ini? Maksudnya?”


 


 


“Aku mau kamu nulis biografi tentang dia. Seorang pelukis muda nan berbakat yang menawarkan dunia dengan bakatnya. Aku mau kamu menulis tentang dia.”


 


 


 


“Yang bener aja! Enggak! Gue gak mau! Kenal sama dia juga enggak, Anne!” Aku mengelak.


 


 


 


“Harus! Kamu harus mau! Kamu gak liat grafik yang kemaren aku tunjukin? Kita, kamu, aku dan semua tim, lagi


dalam masalah besar. Aku gak mau perusahaan keluarga yang udah susah payah dibangun sama papa kehilangan reputasinya, dan aku, juga gak mau kamu kehilangan reputasimu. Jadi, ini adalah win win solution, demi kebaikan kita bersama, Jay! Dan aku gak nerima penolakan kali ini!” Dia terlihat sangat menggebu-gebu.


 


 


 


Aku jarang sekali menyaksikan dirinya yang dipenuhi semangat yang membara sekaligus terlihat agak kesal


denganku. Aku terdiam. Cukup lama untuk memutuskan menerima atau menolak. Namun pada akhirnya, aku menuruti keinginannya.


 


 


“Yasudahlah, terserah lo aja," kataku akhirnya. Mencoba mengalah.


 


 


Dia tersenyum senang dan langsung berkata, “Kalo gitu, sekarang, ayo kamu rapi-rapi, kita pergi ke rumahnya.”


 


 


********