
Sonya POV
Aku sudah membuat seluruh jadwal pertemuanku dengan penulis itu. Bukan karena aku sok sibuk, namun, pembukaan galeriku benar-benar memakan waktu. Jadi, mau tidak mau, aku harus menjadwalkan ulang seluruh kegiatanku. Benar-benar Melelahkan sekali.
“Non, sarapannya udah siap, dan mas Jay udah sampe. Dia sudah menunggu di bawah.”
“Ohiya, bentar yah bi.”
Aku sengaja menyuruhnya kesini pagi-pagi. Karena siang hingga malam nanti, aku akan ke luar kota sebentar. Aku membawa kertas-kertas yang sudah kupersiapkan untuknya.
“Pagi, Jay!”
“Pagi. Jadi, kenapa gue disuruh ke sini pagi-pagi gini?” Dia bertanya tanpa basa basi.
“Sabar dong.”
Aku menyodorkan padanya beberapa lembar kertas.
“Ini apa?”
“Baca aja.” Aku memberikan perintah padanya.
Dia pun mulai membaca kalimat demi kalimat, hingga akhirnya setelah beberapa saat dia telah selesai membaca. Dan bertanya seperti orang dungu, “untuk apa semua ini?”
Aku menepuk jidatku. Kesal dengan kedunguannya.
“Jay, ini adalah seluruh jadwal temu kita. Untuk setahun ke depan. Kenapa gue buat ini? Sederhana, karna jadwal
gue itu cukup padet, gue gak bisa ngeluangin waktu sama lo setiap hari. Jadi, kita akan ketemu dan ngebahas proyek ini hanya di jadwal yang udah gue tentuin. Ngerti?”
Kutunggu jawaban yang keluar dari mulutnya.
Jay terlihat berpikir sejenak, mengangguk-anggukkan kepalanya, namun, matanya berputar-putar kesana kemari,
memaju-mundurkan kursi yang sedang didudukinya. Kalau melihatnya sedang seperti saat ini, seperti melihat seorang anak laki-laki dengan tingkah kekanakannya.
Aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya memiliki seorang saudara, tapi, pasti sangat menyenangkan, memiliki seorang adik atau seorang kakak. Setidaknya ada manusia lain yang mungkin mengerti tentang diriku.
Dia berhenti dan menoleh padaku kemudian menganggukkan kepalanya seraya berkata, “oke, gue ngerti dan setuju. Kalo lo nyaman dengan yang seperti ini, gue oke oke aja.”
Dia mengakhiri kalimatnya dengan senyuman yang tersungging di wajahnya. Manusia sinis ini lambat laun bisa juga menjadi seorang yang menyenangkan. Apalagi dengan senyuman di wajahnya yang menarik itu.
*********************
Jay POV
Dunia ini selalu dipenuhi oleh banyaknya kejadian yang tidak terduga. Runtutan kejadian yang menyeret dirimu
yang kini berdiri tegak hingga jatuh tersungkur ke dalam lumpur dosa yang kamu tanam sedikit demi sedikit pada masa lalumu. Entah karena alasan apa. Atau mungkin hidup sedang bosan-bosannya, hingga dia menginginkan sesuatu yang menyenangkan untuk menghiburnya.
Aku selalu saja tidak pernah tahan dengan aturan apapun yang dibuat untuk mengekangku. Percuma. Karena pada
akhirnya ketidakperdulian ini lah yang akan memenangkan pertarungan itu.
“Ada lagi yang mau lo bahas selain hal ini, Nya?”
Perempuan ini hanya menoleh padaku sebentar, dengan mulut dipenuhi oleh makanan yang tengah dikunyahnya, matanya melayang-layang kesana kemari, alisnya yang cukup tebal untuk seorang perempuan dinaikkan ke atas satu hingga membuat wajahnya terlihat lucu. Akhirnya, dia menggelengkan kepalanya.
Aku hanya tersenyum singkat dan berpamitan dengannya. Aku berjalan menuju mobilku, membuka pintu pagar rumah ini terlebih dahulu. Ketika tengah mendorong pintu pagar yang super berat ini, aku melihat sebuah mobil terparkir di luar rumahnya, sama sekali tidak ada yang aneh dengan mobil itu. Satu-satunya hal yang aneh adalah seorang laki-laki muda, lebih muda dariku—kutebak—sedang memperhatikan gerak gerikku, tidak ada ekspresi apapun di wajah itu. Dia hanya berdiri diam di sana.
Aku terbiasa diacuhkan oleh orang lain, sehingga akupun menjadi dengan mudah mengacuhkan orang lain. Aku masuk kembali ke mobilku dan melajukannya keluar dari rumah ini.
Kulihat dari spion mobilku, laki-laki tadi, masih berada di tempatnya awal mula. Hanya terdiam dan membeku.
********
Kulajukan mobilku dengan kecepatan yang stabil. 60 km/jam. Kulirik arloji di tangan kananku. Sudah menjelang siang hari rupanya. Aku memutuskan untuk menulis paragraf pembuka, malam hari ini. Jadi, aku menyempatkan diri, untuk mampir sebentar di kedai kopi langgananku. Aku butuh kafein untuk terjaga penuh malam ini.
Aku menepikan mobilku. Aku telah sampai di tempat tujuanku. Aku melangkahkan kakiku ke dalam. Bermaksud untuk memesan 2 gelas kopi hitam. Kenapa harus 2 gelas? Karena segelas kopi tidak akan membuatku terjaga secara optimal.
“Hot black coffee. 2 gelas. Medium.”
Sang bartender hanya tersenyum dan mengangguk. Dia membuatkan pesananku. Sementara aku menunggu dan melihatnya meracik bahan-bahan untuk membuat segelas
kopi.
“2 gelas hot black coffee ukuran medium. Semuanya 65 ribu rupiah.” Aku menyerahkan uang kertas senilai 100 ribu padanya, dia segera menghitung kembalian dan menyerahkannya padaku. “Terimakasih.” Dia tersenyum singkat, aku membalas dengan senyuman basa basi.
Aku hendak memasukkan uang kembalian ke dalam sakuku hingga tidak melihat jika ada orang lain yang
berjalan di hadapanku. Akibatnya, aku menabraknya dan 2 gelas kopiku yang masih panas itu tumpah semua ke pakaian yang sedang kukenakan.
“Maaf... maaf... saya gak sengaja. Anda gak apa-apa?” Suara seorang perempuan yang tadi secara tidak sengaja telah kutabrak, meminta maaf padaku. Padahal jelas-jelas aku yang salah.
“Gakpapa.. Gakpapa...”
Aku masih membersikan tumpahan kopi di bajuku dan ketika akan mendongak, melihat siapa gerangan perempuan yang telah aku tabrak.
Aku membeku.
Diam di tempat.
Tidak satu patah kata pun keluar dari bibirku.
Astaga!
********