
Yogyakarta, 1990
Hari ini adalah hari pemakamannya. Semua orang mengenakan baju yang sama. Baju berwarna hitam. Hitam identik dengan kekelaman. Mungkin itu sebabnya mereka semua mengenakan baju yang sama. Tidak denganku. Aku selalu tahu kalau putih merupakan warna kesukaan darinya. Jadilah aku mengenakan baju putih yang ada di dalam lemariku.
Aku turun ke lantai 1 dan mendapati banyaknya manusia-manusia yang hadir disini. Mereka semua terlihat menyalami ayahku. Tatapan matanya yang dingin itu sama sekali tidak menggambarkan kalau dia telah kehilangan seorang isteri. Aku berjalan dan duduk tidak jauh dari jenazah ibuku, namun, aku tidak mau berada didekatnya. Aku tidak mau kenangan terakhir dengannya seperti itu. Aku mau berpura-pura bahwa kenangan terakhir mengenai dirinya adalah sewaktu dia hadir di dalam mimpiku. Membelai dan mengecupku. Aku hanya ingin kenangan itu bukan yang lainnya.
“APA YANG KAMU LAKUKAN?!” Tiba-tiba saja suara ayahku meninggi dan dia seperti menghardik seseorang. Aku melihat ke sekeliling dan menyadari kalau tatapan mereka semua mengarah padaku.
Jadi, ayah sedang...... menghardikku?
Aku hanya diam saja. Aku tidak tahu apa kesalahanku padanya.
Dia menghampiriku dan berkata kasar, “NGAPAIN KAMU PAKE BAJU INI?!!!”
Dia mempermasalahkan bajuku?
“I-i-ibu suka warna putih. Jadi, jadi.. Aku ingin memakai baju warna ini di hari terakhirnya.” Hampir tercekat aku
mengatakan semua itu.
Namun, lagi-lagi ayahku menatapku dengan tajam, setengah melotot, dia menggeretku ke atas. Ke dalam kamarku.
“GANTI BAJU SEKARANG! ATAU KAMU GAK USAH IKUT KE PEMAKAMAN!!!!”
Kali ini ancaman itu terasa menyakitkan untukku. Sambil mengusap deraian air mata yang turun ke wajahku,
aku mengganti bajuku. Dengan warna hitam seperti yang dia inginkan.
Setelah kejadian dramatis itu, kami semua menuju Tempat Pemakaman Umum. Ibu akan dimakamkan secara islam. Karena itu merupakan agama yang dianutnya. Cukup banyak manusia yang datang ke pemakamannya. Aku berdiri diam jauh dari ayahku, dan juga jauh dari liang lahat. Aku tidak mau melihatnya.
Sedari tadi ada 2 orang laki-laki dan perempuan yang sangat berumur berulang kali mencuri pandang ke arahku,
namun, ketika kualihkan pandanganku kepada mereka, mereka langsung membuang muka. Mungkin mereka hanya satu dari sekian banyak kenalan ibuku.
Selesainya darisana, aku dan ayahku pulang kerumah. Ketika aku hendak mengistirahatkan tubuhku di kasur kamarku, tiba-tiba saja ayahku berkata dingin padaku, “mulai lusa ayah tidak akan lagi tinggal disini. Ayah akan pergi ke luar kota.”
“Jadi, mulai besok kita tidak akan tinggal lagi disini?”
“Bukan kita. Hanya ayah. Kamu tetap tinggal di kota ini...”
Seperti petir disiang yang terik. Ucapannya membuatku diam seribu bahasa. Apa maksudnya? Apakah dia mau
meninggalkanku sendirian dikota ini? Oh Tuhan, apalagi ini?
********************
Yogyakarta, 1990
Hari penentuan telah tiba, kami—aku, ayahku, kak Mi, serta orangtuanya—berjalan memasuki peron kereta api.
Ayahku akan pergi untuk menjalani kehidupannya di kota sana. Aku tidak tahu dimana itu, dia hanya bilang kalau tempatnya teramat jauh.
“Apa ayah akan pergi begitu saja?” Tanyaku pada ayahku.
Tatapan dingin darinya yang dia arahkan padaku menghunus tepat dijantungku dan seakan-akan menjawab segala
pertanyaan. Pertanyaan polos yang keluar dariku.
“Sehabis ini, kamu akan tinggal bersama dengan paman dan bibimu. Mereka adalah teman ibumu semasa dulu. Dan kamu, tidak boleh berkata tidak mau!” Ada nada mengancam di dalam suara serak itu.
Aku takut-takut memandanginya. Dan bertanya kembali dengan suara yang serak, hampir tersedak, “maafkan aku, kalau aku membuat ayah marah. Tapi, bisakah ayah memberikanku satu kesempatan lagi? Aku janji, aku tidak akan minta apa-apa dari ayah. Seumur hidup, aku tidak akan minta apapun pada ayah. Tapi, biarkan aku bersama dengan ayah. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Aku mohon.” Setengah terisak pada akhirnya.
Namun, dia hanya berdiri diam disana. Tidak berkata apapun juga.
Tidak lama kemudian, kereta yang akan ditumpanginya datang. Dia segera mengangkat kopernya dan hendak pergi
bergitu saja tanpa melihatku. Aku memeluknya tanpa aba-aba, secara tiba-tiba. Aku tahu, aku membenci dirinya. Namun, rasa cinta mengalahkan segalanya. Dia hanya memandangiku singkat dan tidak membalas pelukanku. Setelah aku puas memeluknya, dia berjalan pelan untuk masuk ke dalam gerbong kereta api.
Kereta itu melaju dengan lambat, namun semakin lama semakin cepat. Tubuh laki-laki itu memunggungiku, tanpa
terasa air mata di pelupuk mataku menetes. Hanya sebersit, kulihat laki-laki itu berbalik, memandangiku dari dalam kereta api yang dibatasi oleh kaca. Dia berdiri disana. Diam membeku. Menatapku dengan dingin. Tanpa perasaan.
Kereta itu sudah melaju cukup jauh. Namun, bayangan tatapan matanya yang dingin itu terus menerus terulang di benakku. Seperti sebuah kaset rusak. Aku berganti arah pandangan. Memandangi sepasang suami isteri dan juga kak Mi yang kini akan mengurusku. Senyum di wajah mereka entah kenapa terasa aneh buatku, hanya kak
Mi yang tersenyum dengan tanpa dibuat-buat. Namun, aku tahu apa artinya ini semua. Ini menandakan kalau hidupku tidak akan lagi sama.
Ya Tuhan, jangan kau asingkan aku. Jangan Kau tinggalkan aku. Aku tidak sanggup menjalani kehidupan ini seorang diri. Berlebihankah itu, jika kubilang aku ingin seorang teman?
Tapi, jikalau berlebihan, aku hanya meminta, Engkau tidak meninggalkanku, Wahai Tuhan yang Maha Perkasa.
********************