
Pagi ini cuaca di daerah Jakarta lumayan cerah. Mobil Bentley Bentayga milik Daniel Alvarez melaju dengan pelan menyusuri kawasan perumahan Green Resident.
Tidak seperti jalanan kota metropolitan pada umumnya, akhir pekan ini suasana jalan sedikit lenggang karena akses jalan utama di batasi untuk di lalui karena ada car free day.
Mobil Bentley Bentayga hitam milik Daniel Alvarez Tyee berjalan lamat-lamat di trotoar yang mulus.
Seorang perempuan memakai celana jeans bekel dipadukan dengan sweater Hoodie tengah berdiri di depan pagar rumahnya.
Alicia melambaikan tangan ke arah pria yang ada di balik kemudi mobilnya.
Daniel menepikan mobilnya, Alicia membuka pintu samping dan mengucapkan terimakasih ketika pria itu menolongnya membukakan pintu.
"Apakah aku terlambat?" Tanya Daniel setelah Alicia masuk dan mengambil tempat duduk di sampingnya.
"Tidak, aku baru saja keluar." Alicia menyelipkan helaian anak rambut ke cuping telinga nya. Gadis itu membiarkan rambutnya terurai karena masih setengah basah.
Gadis itu menemui kesulitan untuk memasang seat belt miliknya. Daniel mematikan sebentar mesin mobilnya lalu berinisiatif untuk membantu gadis itu memasangkan seat belt-nya.
klik.
Seat belt telah terpasang sempurna.
Dalam jarak sedekat ini,
Daniel dapat mencium aroma shampo gadis itu yang entah bagaimana sangat menenangkan baginya.
Alicia menatap lekat wajah pria di hadapannya. Aroma parfum Daniel menyeruak masuk menginvasi indera penciumannya. Alicia mengenal betul aroma parfum ini, parfum yang sengaja ia pilih dan berikan kepada Daniel sebagai tanda peringatan hari kelahiran pria itu
Dalam jarak sedekat ini, jantungnya berdetak tidak karuan.
Entah siapa yang memulai, ia menyerahkan hal itu kepada panggilan naluriah rasa saat ini.
Ketika mereka semakin dekat, Alicia dapat lebih jelas memperhatikan paras rupawan pria itu yang nyaris tanpa cela.
Alicia tanpa sadar mencengkeram erat seat belt miliknya, ketika pria itu semakin mendekat ke arahnya.
Sangat dekat.
Semakin dekat.
"Halo, selamat pagi?"
Kekacauan muncul secara tiba-tiba.
Alicia dengan cepat memalingkan muka, merapikan rambutnya lalu membenarkan posisi duduknya.
"Kau? Sejak kapan kau ada disini?" Tanya Daniel kesal.
Bianca Maureen tiba-tiba saja muncul dari balik bagasi mobilnya.
Mengabaikan pertanyaan Daniel, Bianca terlalu sibuk mencari cara untuk duduk di kursi penumpang.
Dan akhirnya memutuskan untuk melompati sandaran kursi.
Daniel memalingkan muka, ketika ia tanpa sengaja melihat dress gadis itu tersingkap.
Pria itu dongkol setengah mati dengan sikap Bianca yang sembrono dan tidak tahu malu.
"Yukkk, kita berangkat." Seru Bianca sembari menepuk jok penumpang. Bianca berseru dengan ceria. Seperti seorang anak yang antusias ketika bertamasya. Gadis itu tidak merasa bersalah sedikitpun karena sudah merusakkan momen romantis antara Daniel dengan Alicia beberapa menit yang lalu.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku!" Daniel berusaha bersikap sesabar mungkin agar tidak merusakkan citranya sebagai seorang pria.
"Oh, Aku sudah berada di bagasi mu sejak..." Bianca memberikan jeda pada kalimatnya, ketika memeriksa arloji di pergelangan tangan kirinya.
"Sejak di apartemen tiga puluh menit yang lalu, ahh tidak-tidak empat puluh menit ahh atau satu jam mungkin? Hmm entahlah aku ketiduran di bagasi mu jadi tidak tahu sudah berapa lama." Jelas Bianca mengendikan bahu.
Gadis itu sudah lama berada di sana dan dengan bodohnya ia tidak mengecek keseluruhan mobilnya pagi tadi.
"Keluar sekarang, aku akan memesankan taxi untuk mengantar mu pulang." Perintah Daniel mencoba bersabar.
"Tidak, aku mau liburan di puncak." Bianca melipat kedua tangannya di dada, tetap pada keputusannya.
Daniel mengerutkan keningnya, ketika gadis itu tahu kemana tujuannya bersama Alicia akhir pekan ini.
Daniel hendak bertanya siapa yang memberitahu gadis itu, namun ia urungkan mengingat betapa keras kepalanya gadis itu.
Namun ia tidak kehabisan akal untuk membuat gadis itu berbicara yang sejujurnya.
"Tidak, kau salah tidak ada yang akan berpergian ke puncak hari ini."
"Kau bohong."
"Kami tidak sedang ingin kepuncak. Tujuan mu salah. Sekarang kau turun dan pulang ke rumah." Elak Daniel.
"Ta—tapi kata sekretaris mu jadwal mu akhir pekan kau akan pergi bersama Alicia kepuncak." Gadis itu merasa bingung memilih siapa yang hendak ia percayai perkataanya.
Daniel menggertakkan gigi ketika mendengar penuturan gadis itu.
'Stella, kau harus membayar harga untuk mulut besarmu itu'
"Meskipun tidak kepuncak, a-aku akan ikut kalian kemanapun kalian pergi." Ucap Bianca bersikukuh.
"Turun sekarang!" Perintah Daniel menekankan setiap kata pada kalimatnya.
"Tidak."
"Turun!" Daniel sedikit menaikan nada suaranya.
"Tidak."
"Sudah, tidak apa-apa Dani biarkan Bianca ikut bersama kita." Alicia yang melihat perilaku kedua orang di hadapannya sekarang tidak jauh beda dengan karakter Tom and Jerry, maka ia berinisiatif untuk memberikan konklusi bagi keduanya. Meskipun mengetahui pria di sampingnya sama sekali tidak suka dengan keputusan yang sudah ia ambil.
"Alicia saja memperbolehkan aku dan tidak mempermasalahkannya, kurasa tidak masalah kalau aku bergabung dalam perjalanan kali ini."
Ucap Bianca bangga.
Daniel menyerah, memilih untuk bersikap tidak peduli dengan kehadiran gadis itu.
Pria itu segera mengatur duduknya senyaman mungkin meskipun ia merutuki kehadiran gadis itu yang merusakkan segalanya. Daniel memasang kembali seat belt dan menyalakan mesin mobilnya.
Mobil itu kembali melaju membelah jalan.
Daniel merasa hari ini adalah hari terburuk sekaligus hari memalukan baginya.
Bianca memalingkan muka ketika Daniel menatapnya lewat kaca spion tengah dengan pandangan menusuk.
'Aku tidak akan membiarkan kalian berdua mengalami hari membahagiakan dan melalui hal-hal romantis tanpa kehadiran ku.' Kata Bianca dalam hati.
Daniel mencengkeram erat kemudinya, jika ia bisa ia ingin sekali menurunkan gadis itu di tepi jalan, di tengah hutan atau di manapun yang membuatnya tidak lagi bertemu dengan gadis itu.
Mobil itu semakin melesat, memasuki kawasan tol Jagorawi.
Alicia menatap pria di sampingnya, lalu beralih menatap Bianca yang tengah sibuk memperhatikan hiruk pikuk jalan lewat jendela dari kaca spion.
Hening.
Canggung.
Suasana seperti ini bukanlah yang ia inginkan.
Namun ia tidak mampu mengendalikan situasi semacam ini.
Alicia memilih diam dan terpaksa menikmati kebisuan dalam perjalanan mereka bertiga.
***
"Jadi kemana perginya Daniel?" Tanya Bianca kepada Stella, setelah sampai di kantor untuk mengantarkan sarapan seperti biasanya. Gadis itu terkejut ketika mendapati pria itu tidak ada di ruang kerjanya.
Bianca ingat hari Sabtu adalah hari lembur bagi pria itu.
Di saat semua menikmati akhir pekan bersama keluarga, pacar dan sahabat, ia akan menemukan Daniel mencumbu tumpukan kertas-kertas dengan barisan tulisan yang membosankan.
Tetapi justru di hari Sabtu ini pria itu tidak ada di ruang kantornya, tas hitam yang selalu di bawa pria itu juga tidak berada di atas meja kantornya.
"Sa-saya tidak tahu nona." Ucap Stella terbata-bata, tidak berani menatap Bianca.
Bianca yakin kalau sekretaris Daniel sedang berbohong dan sudah di suap oleh pria itu untuk tidak mengatakan kebenaran kepada nya.
Namun, percikan ide datang menghinggapi kepalanya.
"Tidak apa, aku hanya membantunya agar dapat menjalin mitra dengan grup Terrence. Aku memerluhkan tanda tangan Daniel untuk mencapai kesepakatan itu sebelum Tuan Terrence berubah pikiran. Tapi tidak apa-apa, kau juga tidak tahu kemana perginya Daniel bukan? Yasudah aku mau pergi menemui papa terlebih dahulu." Stella meremas ujung blazer nya dengan ragu-ragu.
"Aku akan menemui papa dan menyerahkan kembali surat perjanjian yang belum di tanda tangani ini kepadanya." Bianca menarik beberapa kertas dari tasnya dan berbalik pergi.
Gadis itu terus menghitung dalam hati.
1
2
3
4
Langkahnya lebih ia pelankan.
'Sekretaris ini tidak mudah ditaklukkan rupanya.' Pikir Bianca putus asa.
"N—nnona..."Panggil Stella membuat langkah Bianca terhenti. Seutas senyuman terpatri di bibir gadis itu. Bianca segera berbalik menghadap gadis itu dengan wajah dan senyuman yang biasa saja.
"Pak Daniel ada janji pergi ke puncak Bogor bersama nona Alicia pukul delapan."
Bianca tersenyum.
Namun ia terkejut ketika melihat jam di dinding ruangan itu menunjukkan pukul 07.10.
Dia tidak memiliki cukup banyak waktu untuk sampai di kediaman pria itu.
"Baiklah terimakasih, ini untuk mu saja." Bianca mengambil tangan Stella lalu memberikan sarapan Daniel dan kertas yang ia bawa tadi kepada sekretaris itu dan berlari pergi.
"Terimakasih nona..." Ucap Stella ketika Bianca berlarian memasuki lift.
Stella mencium aroma makanan dari kantung berwarna putih yang ia dapatkan.
Namun ia tersentak ketika menerima satu bundel kertas yang di bawa gadis itu tadi dan membacanya:
...**Hadirilah Promo Besar-Besaran Kedai Ayam Kwok-Kwok🐔 Menu Ayam Panggang Madu Saus Barbeque, Beli Ayam Utuh Gratis Hamburger🍔 Jumbo...
...Buruan Datang sebelum kehabisan...
...(Hanya Tersedia 30 Porsi)📌***...
Stella menjatuhkan satu bundel kertas brosur putih itu ke lantai karena shock. Brosur itu bertebaran di lantai kantor atasnya.
Bianca menjebaknya dan ia tanpa sadar sudah masuk ke dalam permainan gadis itu.
Ia sudah membocorkan rencana atasannya kepada Bianca, gadis yang sangat dibenci oleh bossnya.
"Oh tidakk, aku akan jadi ayam panggang setelah ini. Stella bodoh....bodoh..." Stella merutuki kebodohannya dan mengacak rambutnya frustasi.