169 Days With Mr. CEO

169 Days With Mr. CEO
18. Pertemuan Kebetulan



Esok harinya, Bianca pergi ke tempat kerja Daniel seperti biasanya. Kali ini Bianca membawa beberapa potong toast dan salad.


Sepanjang perjalanannya, Bianca menebak-nebak apakah Daniel sudah berada di kantornya atau tidak.


Tebakan gadis itu tidak meleset.


Daniel Alvarez Tyee sedang duduk di kursi kebesarannya, tengah berkutat dengan laptopnya.


"Hai, selamat pagi." Sapa Bianca ceria.


"..." Daniel tidak memberikan jawaban sama sekali.


"Selamat pagi tuan Daniel?" Bianca mengulangi sapaannya.


"Hmm." Balas Daniel setelah menghela nafas.


"Ini aku bawakan sarapan untuk mu, toast dan salad." Bianca meletakkan paper bag di sisi kiri meja kerja Daniel.


Jika seperti hari sebelum-sebelumnya Bianca akan mengambil duduk di kursi sofa dan akan memandangi gerak gerik dan wajah tampan Daniel tentunya dari kejauhan.


Namun, sekarang ini Bianca mengambil duduk di depan Daniel, diantara mereka hanya terpisah meja kerja pria itu.


Bianca menumpukan kedua tangannya dan memandang Daniel lekat-lekat.


"Apa kau tidak punya pekerjaan lain selain menatap ku seperti itu?" Tanya Daniel tanpa menatap Bianca. Jari-jarinya dengan cekatan mengetik kumpulan huruf pada keyboard laptopnya.


"Ada. Pekerjaan ku adalah memastikan Daniel tetap baik-baik saja." Balas Bianca tersenyum.


Daniel menghela nafas pelan. Ia kembali fokus untuk mengetik beberapa laporan yang sempat tertunda karena masa cutinya beberapa hari.


"Dua Minggu lagi hari ulang tahunku. Kira-kira permohonan ku untuk bisa menikah dengan mu dikabulkan tidak ya?" Tanya Bianca kepada Daniel yang lebih mirip bermonolog dengan dirinya sendiri.


"..." Daniel tetap sibuk dengan kegiatannya.


"Jangan lupa ya ulang tahun ku dua Minggu lagi tanggal 16 Maret. Aku selalu berusaha menjadi orang pertama yang mengucapkan ketika orang-orang terdekat ku berulang tahun. Nanti kalau tanggal 9 Desember aku juga akan menjadi yang pertama mengucapkan 'selamat ulang tahun' untuk mu." Ucap Bianca.


"..." Daniel tidak berkomentar apapun. Dirinya agak sedikit terkejut ketika Bianca mencondongkan tubuh ke arahnya untuk mengambil pena di sakunya.


Bianca mengambil kertas di sisi kanannya. Gadis itu mulai menggambar


"Tidak apa-apa kalau menikah cuma 169 hari saja. Kau bisa menceraikan ku setelahnya. Aku cuma ingin menikah dengan mu saja." Di tengah kesibukannya mencoreti lembar kertas di tangannya, Bianca tetap mengoceh.


"Kau pikir menikah sama hal nya dengan bermain?" Daniel mencibir pemikiran gadis di hadapannya yang ia nilai bersumbu pendek.


"Ya tentu saja berbeda, tapi kalau kau mau menikahi ku untuk seterusnya tidak apa-apa aku akan bahagia." Jawab Bianca masih tekun menyelesaikan gambarnya.


"..." Daniel menghela nafas. Tidak tahu harus berkomentar apa.


Setelah beberapa lama, Bianca telah selesai dengan pekerjaannya.


"Kau mengetik apa? sibuk sekali?" Tanya Bianca penasaran.


"Laporan." Jawab Daniel singkat.


"Bukankah itu tugas sekertaris mu?" Tanya Bianca.


"Stella, cuti hari ini karena sakit." Jawab Daniel yang di balas dengan ucapan 'Oh' oleh Bianca.


"Kenapa tidak kau suruh karyawan lainnya?" tanya Bianca sekali lagi.


"Mereka juga mengerjakan hal yang lain, kau jangan bertanya lagi. Aku harus menyelesaikan laporan ini supaya dapat menghadiri acara Alicia." Ucap Daniel kesal.


Bianca yang mendengar bahwa Daniel memiliki janji dengan Alicia tersenyum kaku.


'Oh rupanya supaya bisa cepat-cepat pergi bersama Alicia.'


"Pergi ke acara apa?" Tanya Bianca dengan suara di lembut-lembutkan. Ia berusaha mendapatkan informasi kemana pria itu pergi bersama Alicia.


Daniel menatapnya tajam.


"Kalau kau tidak ada urusan segera pergi dari ruangan ku." Ucap Daniel ketus.


Merasa usahanya gagal, Bianca beranjak pergi dari kantor Daniel dengan rasa kesal di hatinya.


Daniel tidak beranjak dari kursinya sampai sore hari. Sarapan yang di bawa oleh Bianca baru ia makan di pertengahan siang hari karena lapar.


Daniel menyelesaikan pekerjaannya pukul 16.11. Beberapa karyawannya memberi salam dan berpamitan pulang.


Pria itu segera membereskan meja kerjanya dari remah-remah roti dan membuang bungkus bekas makanannya tadi ke keranjang sampah yang letaknya tak jauh dari meja kerjanya.


Setelah memasukkan laptopnya, pria itu meraih jasnya yang tersampir di pundak kursi.


Sebelum ia meninggalkan ruang kerja, langkah Daniel terhenti ketika melihat selembar kertas dengan beberapa corak gambar.


Tangan pria itu terulur untuk meraih selembar kertas itu. Kemudian ia mengamati apa saja yang di gambar oleh Bianca sedari tadi.


***


Thomas datang lebih awal dari janjinya semula. Pukul lima sore ia sudah datang di depan rumah Bianca dengan setelan jas berwarna merah. Namun salah satu pembantu rumah yang membukakan pintu untuknya mengatakan bahwa Bianca masih membasuh tubuhnya di kamar mandi dan menyuruh pria itu untuk masuk dan menunggu di ruang tamu.


"Eh, Thomas ayo masuk." Nyonya Liliana yang melintas dari taman belakang terkejut ketika Thomas, teman anak perempuannya itu datang berkunjung.


"Iya Tante.." Thomas berjalan di belakang nyonya Liliana yang tampak santai membawa keranjang berisi mawar merah yang baru saja di petiknya dari taman belakang.


Thomas berpikir dia mungkin harus membawakan sebuket bunga untuk Cherry-nya nanti.


Setelah cukup lama berbincang dengan nyonya Liliana dan menikmati aneka kue dan teh di atas meja. Thomas melihat Bianca menuruni anak tangga dengan hati-hati. Saat ini, Bianca memakai warna dress senada dengan atribut miliknya. Clutch berwarna perak tampak manis dan berkilauan dalam genggamannya.


Thomas beranjak dari tempat duduknya dan mengucapkan rasa terimakasih atas jamuannya, pria itu meminta izin nyonya Liliana untuk membawa Bianca menghadiri acara temannya.


Nyonya Liliana mengantar kepergian mereka sampai di depan pintu dan mengingatkan untuk tidak pulang terlalu larut.


Mobil Volkswagen Beetle hitam milik Thomas Fodao itu sudah melesat meninggalkan halaman rumah Bianca.



"Yahh mungkin sebelum aku berangkat ke Australia untuk kuliah." Jawab Thomas Fodao ketika lampu lalu lintas menunjukkan warna merah dan mobilnya berhenti.


"Wah, mobil ini masih kuat dan bagus juga yaa." Puji Bianca sembari mengusap bagian dashboard yang tampak bersih.


Mendengar perkataan Bianca membuat Thomas tersenyum bangga. Mobil warisan mendiang kakeknya masih tampak stylish di mata Bianca.


Sesaat bayangan Laura melintas di kepala Thomas. Laura hampir sering menumpangi mobilnya. Namun Thomas seringkali merasa kesal ketika Laura memaki-maki mobilnya dengan sebutan mobil butut dan tidak modern sama sekali.


Kakek Thomas tidak salah menamakan mobilnya dengan sebutan Schmecker¹, setiap kali orang-orang menyebalkan ikut serta dalam mobilnya, maka setiap kali itu juga mobilnya mogok secara tiba-tiba.


Berapa kali Laura mengalami hari itu? jangan tanya lagi bahkan Laura sudah menganggap Schmecker sebagai musuh bebuyutannya.


Mungkin anggapan Thomas bisa jadi benar. Bahkan di tengah arus jalan yang macet sampai tiba di lokasi acara, mobil yang di tumpanginya bersama Bianca itu masih berfungsi dengan baik.


Mereka tiba pukul enam kurang sepuluh menit. Kawasan Jakarta Selatan khususnya daerah Kemang pada jam-jam keberangkatan mereka tadi adalah waktu yang ideal bagi para pekerja yang hendak pulang ke rumahnya.


Thomas dan Bianca melihat dari dalam kaca mobil mereka, beberapa orang dengan dresscode warna merah tampak memasuki gedung galeri.


Bianca lebih dahulu turun dari mobil, sementara Thomas melihat kaca mobil sebentar untuk menyisir rambutnya yang tadi ia beri sedikit minyak rambut dari rumah.


Setelah memuji dirinya dengan kalimat 'Thomas Fodao memang pria terkeren abad ini.' Pria itu segera turun dari mobilnya dengan membawa buket bunga mawar yang ia beli di pinggir jalan dalam perjalanannya menuju tempat acara. Setelah mengunci mobil kesayangannya dengan pengamanan ganda, Thomas berjalan bersama Bianca menuju pintu gedung.


Hal seperti ini bukanlah kali pertama bagi Bianca untuk mendatangi acara pameran. Beberapa kali ia pernah diajak serta oleh Kakek dan juga ayahnya dalam acara peresmian gedung galeri di Tiongkok ataupun acara lelang lukisan untuk donasi kemanusiaan.


Bianca tidak pernah mengira bahwa dunia akan menjadi begitu sempit dan tampak seluas sehelai daun yang dihuni seekor ulat saja, yang kemanapun ulat itu pergi akan tampak sesak karena bertemu dengan hal-hal yang sama.


Dan diantara kemungkinan-kemungkinan yang ada, ia tidak pernah mengira bahwa akan bertemu dengan seseorang yang ia sangat kenal dengan baik tengah berbicara dengan beberapa pria. Memilih untuk mundur? sudah terlambat. Pilihan terbaik adalah menundukkan kepala.


"Halo Tomi.." Sapa seorang gadis cantik dengan seorang pria di sisinya.


"Hai, Cher." Thomas sedikit gugup namun berusaha menampilkan senyum terbaiknya.


"Oh ini bunga untukmu. Selamat ya atas kepulangan dan acaramu kali ini." Ucap Thomas menyerahkan buket bunga mawar.


"Terimakasih, kau bersama kekasihmu?" Tanya gadis itu, dirinya merasa familiar sekaligus aneh dengan sikap perempuan di samping Thomas yang sedari tadi hanya diam dan menundukkan kepala.


"Oh, bu-bukan ini teman ku namanya..." Thomas menyenggol lengan Bianca, berharap gadis itu membantunya untuk berbicara.


"Bianca?" Ucap Alicia terkejut.


Bianca meringis.


"Ha-halo Alice." Sapa Bianca mengangkat sebelah tangannya kikuk.


"Jadi kalian berdua saling mengenal?" Tanya Thomas terkejut, pria itu langsung menutup mulutnya ketika orang-orang di sekitar mereka beralih menatap ke arahnya.


"Ada apa?" Seorang pria menghampiri mereka.


"Oh tidak, tidak apa-apa." Jawab Alicia.


"Bianca?" Tanya Daniel sedikit terkejut.


Bianca yang merasa namanya di sebut kembali tersenyum kaku.


Alicia dengan tiba-tiba meraih lengan Daniel.


Bianca dan Thomas yang melihat hal itu kesal bukan main.


"Kami bertiga sudah saling mengenal dan—" Sebelum Alicia sempat menyelesaikan kalimatnya, seorang kurator seni memanggil namanya untuk segera naik ke podium memberikan kata-kata sambutan.


"Oke, aku tinggal sebentar ya. Selamat menikmati pamerannya." Ketika Alicia berlalu pergi. Bianca yang merasa tidak nyaman karen Daniel masih menatapnya tajam, beralasan untuk pergi ke toilet.


Meninggalkan Daniel dan Thomas berdua saja.


"Perkenalkan, Thomas Fodao." Ucap Thomas dengan wajah yang sengaja ia sombongkan, pria itu mengulurkan tangannya.


Daniel menatap tangan pria di hadapannya dengan tatapan datar.


"Daniel Alvarez Tyee."


Thomas Fodao menggertakkan giginya ketika uluran tangannya tidak di balas. Dengan cepat ia menarik tangannya.


Merasa tidak asing dengan nama itu, Thomas kembali memilah ingatannya. Kedua matanya membulat ketika mendapatkan kembali ingatannya.


"Dan-Daniel?" Ucapannya terbata-bata. Pria pemilik nama itu lebih dahulu berbalik pergi meninggalkannya.


Thomas yang hendak menanyakan langsung pada Bianca lupa bahwa Bianca sudah lebih dahulu pergi.


Akhirnya pria itu meremas rambutnya frustasi.


***


Bianca baru saja keluar dari kamar mandi wanita ketika Thomas meneleponnya berkali-kali dan dengan nada kesal mengajak pulang Bianca. Bianca tahu mungkin Thomas sedang shock dan merasa sangat bodoh di depan Alicia sekarang.


Ketika Bianca bergegas menuju gedung galeri, ponselnya kembali bergetar. Gadis itu segera meraih ponselnya dalam clutch-nya tanpa lebih dahulu membaca siapa yang meneleponnya.


"Ha-halo? iya Tom—"


'Menikmati pesta eh? tunggu saja akan tiba waktunya orang yang kau cintai akan mati.'


Penelepon misterius itu mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.


Bianca yang terkejut mendengar ancaman itu mulai mengawasi sekelilingnya. Ia yakin penelepon misterius itu sedang menguntit nya.


"Hei, kau kemana saja? Ayo cepat kita pergi. Cheri mengundang kita makan malam." Thomas Fodao tiba-tiba datang dan menarik Bianca yang masih diam mematung untuk menuju ke arah gedung.


Ketika Bianca menoleh ke belakang, ia mendapati seseorang dengan pakaian serba hitam dan memakai topeng karakter 'Scream' melambaikan tangan ke arahnya.


_


Hai-hai terimakasih sudah mengikuti perjalanan kisah cinta Bianca. Jangan lupa dukung author dengan memberikan komen, like, ataupun gift ke karya author agar lebih semangat. Terimakasih sudah membaca 😍