
Hari semakin sore, Bianca melihat sekawanan burung terbang di atas langit senja mengiringi perjalanannya pulang bersama Daniel, Alicia dan anak-anak lainnya.
Bianca berjalan lebih dahulu dengan tidak bersemangat, karena lagi-lagi dirinya harus melihat kemesraan Daniel dan Alicia di belakangnya.
Maurin sudah di ambil alih oleh Daniel, balita itu sudah terbangun dari tidurnya dan sekarang tengah tertawa-tawa karena Alicia bersembunyi di balik punggung pria itu untuk bermain 'ciluk ba'.
Timmy yang berjalan di belakang Daniel dan Alicia memberikan tatapan mengejek ke arah Bianca ketika gadis itu kembali menatap jalanan di depannya. Misi bocah laki-laki itu tampaknya berhasil untuk menyatukan Daniel dan Alicia.
Tak mau kalah, Bianca membalas Timmy dengan menjulurkan lidahnya lalu kembali menghadap ke depan dengan penuh rasa kesal.
Tampaknya misi Timmy untuk menyatukan Daniel dan Alicia sudah berhasil. Bocah laki-laki itu tersenyum dengan bangga berjalan di belakang bak prajurit mengawal kedua pasangan yang nampak seperti sepasang suami istri dengan Maurin dalam gendongan Daniel dan Alicia di samping pria itu.
Tiba-tiba saja sebuah dahan besar yang sudah cukup tua dan sudah mulai lapuk hendak jatuh menimpa Sasy yang tampak serius mengurai benang wol rajutannya yang kusut.
Semua berteriak memperingatkan Sasy untuk segera menghindar dari tempatnya.
Bocah perempuan itu mendongak ke atas dan seketika berteriak.
Semua berjalan sangat cepat. Timmy yang sudah sedari tadi melemparkan tas bawaan nya untuk segera menolong Sasy segera terhenti ketika melihat aksi Bianca yang lebih cepat darinya.
Bianca yang entah memiliki keberanian dari mana, sudah melesat lebih dahulu melawan angin dan segera menerjang Sasy kedalam dekapannya.
Brukkk
Dahan itu jatuh bersamaan dengan Bianca yang jatuh tersungkur memeluk Sasy.
Dalam pendaratannya, pelipis Bianca tidak sengaja terantuk batu. Gadis itu reflek memejamkan kedua matanya.
"Kakak..." Sasy mendongak untuk menatap Bianca dengan buliran air mata di pipinya. Bianca sendiri hanya mampu tersenyum kepada Sasy dan meringis karena rasa sakit mulai menjalari pelipisnya. Bianca bisa merasakan darah dari pelipisnya merembes jatuh ke pipinya. Kepalanya sedikit berdenyut.
Ia melihat beberapa anak tampak shock dan berteriak, Daniel buru-buru berlari ke arahnya setelah menyerahkan Maurin ke pada Alicia. Balita itu menangis karena mendengar suara histeris anak-anak yang masih tampak shock dengan peristiwa yang baru saja terjadi.
Timmy dan Rahel segera menarik Sasy ke dalam dekapannya. Sementara Bianca memberanikan diri untuk meraba pelipisnya.
Telapak tangannya di penuhi bercak darah. Sepertinya ujung batu tadi agak terlalu dalam menggores kulitnya.
Bianca mengabaikan pertanyaan Daniel yang bertanya apakah dia baik-baik saja. Bianca yang merasakan rasa pusing yang luar biasa hebat menyerangnya, jatuh tidak sadarkan diri.
Daniel bertanya apakah Bianca baik-baik saja?tidak mendapatkan respon dari Bianca. Gadis yang menurutnya paling menyebalkan itu hanya diam terduduk melihat telapak tangannya yang sudah di lumuri darah.
Dan ketika Bianca memegang sisi kepalanya yang terluka dia meringis kesakitan dan tidak sadarkan diri.
Daniel dengan sigap menopang tubuh gadis itu sebelum benar-benar jatuh ke tanah.
***
Bianca mengerjapkan matanya, pertama kali ia bangun adalah ketika dirinya mendengar Daniel mengucapkan terimakasih kepada seorang dokter.
"Kak Bianca sudah bangun." Seru Sasy.
Bianca yang mendengar hal itu segera kembali pada keadaanya semula. Gadis itu cepat-cepat menutup mata.
"Tidak usah berpura-pura." Ucap Daniel.
Bianca yang mendengar perkataan Daniel tetap bergeming. Ia memikirkan segala kemungkinan yang terjadi kalau nanti ia bangun pasti Daniel akan memarahinya.
"Dokter berkata kau boleh pulang setelah ini."
Bianca masih tetap pada posisinya. Namun kedua matanya tidak tertutup rapat. Sesekali ia mengintip dari celah matanya untuk memastikan Daniel sudah pergi atau belum.
Daniel yang melihat sifat kekanak-kanakan Bianca memiliki inisiatif untuk membuat gadis itu membuka matanya.
"Dokter bilang kau boleh pergi setelah bangun tetapi kalau belum, perawat akan memberikan 15suntikkan lagi di dahi dan wajahmu." Tubuh Bianca seketika menegang, ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika dokter memang harus menyuntik wajah dan dahinya, selama ini ia sudah melakukan banyak hal untuk wajahnya agar terlihat mempesona.
"Tidak-tidak... aku sudah baik-baik saja." Bianca bangkit dari tidurnya lalu terduduk di atas ranjang pasiennya kemudian memegangi seluruh bagian wajahnya dengan cemas. Gadis itu meringis ketika menyentuh plester dan kapas yang begitu menonjol menutup area lukanya.
"Kak, kak Daniel hanya bercanda." Ucap Sasy menenangkan Bianca dari kepanikannya.
Bianca melihat ke arah Daniel dan menunjuk-nunjuk wajah pria itu.
"Kau membohongi ku ya?" Pekik Bianca.
"Tidak, aku hanya membantu mu lebih cepat bangun dari tidur pura-pura mu saja." Daniel tersenyum menyeringai namun entah mengapa di mata Bianca, pria itu semakin tambah tampan ketika tersenyum.
"Kak, aku minta maaf ya, karena menolongku kakak harus di rawat di sini." Sasy yang sedari tadi duduk di samping ranjang Bianca sedang tertunduk tidak berani menatap Bianca. Dia masih memikirkan segala kemungkinan jika Bianca tidak menyelamatkannya mungkin tubuh kecilnya lah yang sekarang berbaring di ranjang pasien.
"Hei...Sasy tidak perlu meminta maaf." Bianca meraih dagu kecil Sasy untuk menatapnya. Bocah cilik itu sedang menahan tangisannya.
"Ka-karena akhu kakkak ter-teruka huhuhu." Sasy menangis, bocah itu merasa bersalah pada Bianca yang mendapatkan dua jahitan di pelipisnya.
"Hei.. jangan menangis, kakak tidak apa-apa." Bianca meraih Sasy ke dalam pelukannya dan mengusap punggung bocah itu. Dari informasi dan cerita yang sudah ia dapat, Sasy adalah anak yang masih memiliki trauma semasa kecilnya. Ia yang masih kanak harus melihat ibunya menggoreskan pisau ke nadinya sendiri lantaran suaminya menceraikannya karena wanita lain. Ia tidak memiliki siapa-siapa kendati bapaknya masih hidup, pria itu tidak pernah mempedulikan darah dagingnya.
"Aku pergi dulu untuk menelepon Alicia dan mengabari orang-orang rumah." Daniel yang melihat kedua perempuan itu memilih untuk meninggalkan mereka sejenak. Sejak peristiwa di hutan Daniel menyuruh Alicia untuk membawa pulang anak-anak dan menemani mereka, namun Sasy merengek untuk ikut mengantarkan Bianca yang tidak sadarkan diri ke puskesmas terdekat.
Ketika Daniel membuka pintu, pria itu dikejutkan dengan keberadaan Timmy yang hanya diam mematung di depan pintu.
"Ada apa?" Tanya Daniel.
"Aku-akku mau bertemu dengan kak Bianca." Jawab Timmy takut-takut.
Bianca menelengkan kepalanya untuk melihat siapa yang tengah diajak bicara oleh Daniel.
Gadis itu sedikit terkejut ketika mengetahui bahwa Timmy ada di ambang pintu kamarnya.
"Iya masuklah, di dalam ada Sasy juga." Daniel mengeser tubuhnya untuk mempersilahkan Timmy masuk. Daniel sempat menepuk pundak Timmy ketika melihat remaja itu seperti ragu untuk menghampiri Bianca. Setelahnya pria itu pergi ke luar untuk memberikan privasi bagi Bianca dan juga anak-anak.
"Ada apa Tim?" Tanya Bianca ketika melihat Timmy hanya berdiri dengan diam sembari menundukkan kepala. Sasy yang masih menangis sesenggukan turut bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa kakaknya itu datang kemari.
"Aku....Aku ingin minta maaf." Ucap Timmy masih menundukkan kepala.
"Minta maaf? minta maaf untuk apa? mengapa semua orang meminta maaf kepada ku hari ini?" Tanya Bianca tidak mengerti.
"Aku...aku terlalu kasar dan sikap ku pada kakam tidak terlalu bersahabat." Jelas Timmy dengan wajah tertunduk.
"Ohh, tidak tidak apa-apa, aku justru merasa itu cara mu bersosialisasi meskipun sedikit menyebalkan. haha." Bianca tertawa garing.
"Kakak maafkan aku ya, dari peristiwa tadi aku semakin tau bahwa kakak adalah orang baik. Aku tidak tau bagaimana jadinya jika kakak tidak ada untuk menolong Sasy." Kini Timmy memegang salah satu tangan Bianca untuk menjabatnya, Timmy menangis. Timmy yang sedari awal bersikap menyebalkan itu menangis sembari memegang tangan Bianca.
"Sudah-sudah tidak apa-apa jangan menangis aku ikut sedih juga kalau begitu." Bianca yang merasakan haru karena kehadiran nya sudah bisa diterima oleh anak-anak ikut menitihkan air mata.
Sekesal apapun Bianca pada Timmy, ia selalu meyakinkan dirinya bahwa nasibnya jauh lebih beruntung daripada Timmy yang sudah tidak lagi mempunyai orangtua dan nenek satu-satunya yang mengasuhnya juga sudah lebih dahulu tiada.
Kepulangan Bianca dari puskesmas disambut dengan Isak tangis anak-anak dan permintaan maaf mereka.
Sasy yang sedari tadi ikut menemani Bianca masih menangis di sepanjang perjalanan. Ketika melihat anak-anak menangis bocah itu juga turut serta, Timmy memeluk Sasy untuk menenangkannya.
Paman Ben dan Bibi Ye merasakan rasa lega ketika melihat kondisi kepulangan Bianca. Meskipun gadis itu harus menerima beberapa luka jahitan namun kedua pasangan itu lega Bianca tidak mengalami kondisi yang kritis.
Suasana makan malam di meja berjalan begitu hangat. Bahkan Bob menarikkan kursi tempat duduk untuk Bianca. Rahel yang cuek mendadak penuh perhatian dengan menyendokkan sayuran ke piringnya.
Tampaknya kejadian yang menimpa Bianca masih menyisakan kesedihan pada Bibi Ye. Wanita setengah baya itu terisak pelan mengingat mendiang putrinya. Paman Ben mengusap punggungnya, anak-anak lainnya juga turut menenangkannya.
Bianca menjadi sedikit agak rikuh ketika mendapati Alicia menatapnya dengan cara yang tidak biasa.
_
Hai-hai terimakasih sudah mengikuti perjalanan kisah cinta Bianca. Jangan lupa dukung author dengan memberikan komen, like, ataupun gift ke karya author agar lebih semangat. Terimakasih sudah membaca 😍