
"Bwahahahaha..." Laura tertawa kencang setelah mendengarkan cerita dari kedua sahabatnya.
Tidak seperti biasanya, Laura mendapatkan panggilan dari Thomas. Pagi hari itu, Thomas meminta dirinya untuk menemuinya dan Bianca di salah satu cafe yang sudah Thomas pilihkan.
Setibanya di cafe yang masih cukup lengang pagi itu, Laura mendapati kedua sahabatnya sudah duduk dengan manis di sebuah tempat dekat aquarium ikan.
Laura belum sempat memesan apapun, buku menunya di ambil lebih dahulu oleh Thomas yang tampak frustasi pagi itu. Pria itu menyuruhnya mendengarkan ceritanya lebih dulu.
Laura mengangguk dan memasang pendengarannya baik-baik. Karena pikirnya hal ini merupakan hal yang emergency.
Tujuh menit pertama ketika mendengar cerita itu Laura mengerjapkan matanya. Ia mengira pria di depannya sedang mabuk lantas bergurau. Namun ekspresi serius bercampur kesal dan tambahan kalimat umpatan lainnya membuat Laura sadar bahwa Thomas menceritakan dengan jujur apa adanya.
Laura menahan tawanya ketika Thomas masih terus bercerita dan memberikannya tatapan tajam ketika gadis itu tertawa.
Ketika Thomas selesai mengeluarkan unek-unek nya, Laura tidak dapat menahan tawanya lagi, perutnya yang masih kosong belum terisi makanan apapun sampai kram karena puas tertawa.
"Jadi Alicia yang dikenal oleh Bianca adalah Alicia Cherish Creighton, Cherry mu itu? Sungguh kesialan yang ganda." Ucap Laura terkikik, ia tidak pernah mengira bahwa kedua sahabatnya memiliki masalah yang sama.
"Iya, aku juga tidak mengerti dari semua orang yang ada di dunia, Thomas malah menyukai rival ku sendiri." Sahut Bianca yang sedari tadi diam, membiarkan Thomas mengambil alih jalan cerita mereka kemarin malam.
"Setiap waktu kita bertemu dan membahas masalah percintaan Bianca dengan Daniel dan saingannya yang ternyata gebetan Thomas. Hahaha sungguh kebetulan yang tidak terduga, kalian berdua pasti seperti dua orang bodoh ketika ada di sana." Laura masih tertawa membayangkan kedua wajah sahabatnya yang konyol ketika berada dalam acara semalam.
"Tau begitu aku memilih tidak ikut. Daniel pasti berpikiran Thomas kekasihku." ucap Bianca menyesali keputusannya semalam.
"Hei, aku juga tidak akan sudi mengajak mu kalau aku tau yang sebenarnya. Lagipula Daniel berada jauh di bawah kaki ku." Pekik Thomas tak terima.
"Sudah-sudah tidak usah ribut. Pertemuan kalian sudah diatur Tuhan. Mengingat kalian bertiga berada di satu kapal dan Daniel menyelamatkan mu bulan lalu, Thomas belum pernah sama sekali melihatnya begitupula dengan Bianca, kita sudah sering membahas Alicia tetapi baik aku maupun Thomas tidak pernah tau bahwa Alicia dan Cherry adalah orang yang sama. Namun ini adalah keberuntungan yang bagus untuk kalian...." Laura menjeda kalimatnya.
Thomas dan Bianca mendengarkan dengan antusias perkataan Laura.
"Apa? keuntungan apa?" Tanya Thomas tidak sabaran. Bianca di sampingnya mengangguk mendukung pertanyaan Thomas.
"Keuntungannya adalah, kalian bisa berkerjasama dan menjadi tim. Thomas membantu Bianca untuk mendapatkan Daniel, begitupula Bianca akan membantu mu untuk mendapatkan Alicia. Tujuan kalian akan lebih mudah tercapai jika saling bekerjasama. Bagaimana?" Tanya Laura di akhir penjelasannya.
"Woahhh, tumben beruang Grizzly cerdas." Ucap Thomas bertepuk tangan, pria itu memuji Laura.
"Wah benar juga ya,.." Gumam Bianca berbinar.
"Jadi, kalau kalian berhasil membuat Daniel dan Alicia tidak bersama kemungkinannya kalian akan..." Laura memandang ke dua sahabatnya.
"Mendapatkan Daniel."
"Mendapatkan Cherry-ku."
Jawab Thomas dan Bianca kompak dalam vokal berbeda di akhir kata. Mereka berdua berpegangan tangan karena histeris memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi jika mereka berhasil.
Pagi itu acara sarapan mereka di penuhi dengan obrolan mengenai serangkaian taktik yang akan mereka pakai untuk mendapatkan atensi dari orang yang mereka suka.
Laura menjadi pemimpin sekaligus konselor percintaan bagi kedua insan yang sedang di mabuk asmara itu.
***
Bianca baru saja tiba di kantor Daniel menggunakan taksi yang sudah ia pesan setelah pulang dari Cafe. Seperti biasa, dia membawa sarapan dari menu kafe yang baru saja ia kunjungi.
Setelah menunggu lift cukup lama untuk mencapai ruang kerja Daniel, tiba-tiba seorang pria bertopi dengan setelan hoodie dan celana jeans hitam serta memakai masker hitam tidak sengaja menabraknya. Tanpa meminta maaf, pria itu pergi begitu saja.
Bianca memandang kesal ke arah orang yang menabraknya yang sepertinya tergesa-gesa pergi. Bianca merasa tidak asing dengan postur tubuh pria itu. Namun ia meyakini bahwa itu hanya perasaannya saja.
Pintu lift terbuka, Stella sekretaris Daniel ada di dalam membawa sekantung keresek hitam di sisinya.
"Selamat pagi nona Bianca..." Sapa Stella keluar dari lift. Bianca menerka bahwa Stella sudah sembuh sehingga dapat melangsungkan pekerjaannya seperti biasa.
"Pagi Stella." Balas Bianca tersenyum dan melangkahkan kakinya untuk memasuki lift.
"Ah, nona jika mencari pak Daniel, lima menit yang lalu beliau ada janji dengan nona Alicia di cafe depan." Seru Stella ketika lift sudah hampir tertutup namun masih dapat didengar oleh Bianca.
Bianca memencet kembali liftnya untuk keluar mencari Daniel. Namun tiba-tiba ponselnya berdering.
Bianca sedikit kerepotan dengan tas dan juga paper bag di tangannya. Ketika berhasil menemukan ponselnya, Bianca melihat nama Thomas muncul di layar. Ia segera mengangkat tombol warna hijau untuk menerima panggilan nya.
'Ha-halo Bianca? temanku berhasil melacak pria misterius itu. Dia adalah Antony Santos. Sepertinya ia berusaha untuk mencelakai Daniel. Aku-" Bianca yang terkejut dengan perkataan Thomas mendapatkan ingatan nya beberapa menit yang lalu. Pria yang terasa tidak asing saat menabraknya tadi adalah postur tubuh Antony Santos.
Bianca segera berlari ke arah pintu dan mengabaikan panggilan Thomas yang masih mengoceh mengenai Antony Santos.
Ketika sudah berada di luar, Bianca mengedarkan pandangannya ke arah jalanan mencoba mencari tahu di mana keberadaan Daniel.
Bianca semakin terkejut ketika dari arah berlawanan, sebuah mobil Jeep putih dengan pengemudi yang tadi menabraknya di depan lift tengah mengintai Daniel yang sedang menyeberang jalan sembari menerima panggilan.
Bianca segera lari dengan sekuat tenaga untuk menyelamatkan Daniel. Ketika tubuh Daniel berada di depannya dan Jeep putih semakin mendekat. Bianca mendorong Daniel sekuat tenaga yang membuat pria itu jatuh di sisi jalan bersama dengan ponselnya.
Bruakk...
Ckitt.
Bianca yang tidak sempat menghindar dan pengemudi mobil tidak sempat menginjakkan remnya, membuat gadis itu terpelanting sejauh tiga meter.
Tas dan paper bag yang tadi sempat ia pegang sudah terbang ke udara sebelum akhirnya jatuh berceceran di jalan.
Pengemudi Jeep yang salah menargetkan korbannya segera mengambil jalan sebelah kiri dan melajukan mobilnya secepat mungkin.
Daniel yang merasa shock dengan kejadian yang menimpanya, kemudian melihat Bianca yang sudah berdarah di tengah jalan.
Kilasan masa lalunya mengenai ibunya yang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas mulai bermunculan seperti parasit menggerogoti otaknya.
Daniel kembali pada fakta di hadapannya setelah berteriak histeris mengingat kematian ibunya. Pria itu lalu berlari ke arah Bianca yang tergeletak lemah di tengah jalan.
Ia meraih tubuh Bianca yang sekujur gaunnya sudah basah oleh darah. Bahkan jalanan di sekeliling pria itu sudah tergenang oleh darah.
"Bianca, bangun kau harus tetap bangun, aku akan membawa mu ke rumah sakit." Daniel dengan rasa kepanikannya menepuk-nepuk sisi pipi Bianca untuk menyadarkan gadis itu.
"Da-daniel, teeri-ma-kaa-sih." Ucap Bianca terbata, air mata gadis itu mulai mengenang dari pelupuk matanya. Sulit baginya untuk mengatakan sesuatu karena nyeri di sekujur tubuhnya menyerangnya secara bersamaan.
Dalam dekapan Daniel, pria itu melihat almarhum ibunya yang juga sama sekaratnya seperti Bianca.
Wajah Bianca semakin pucat, ia merasa tidak kuat lagi untuk bertahan lebih lama. Ia berpikir mungkin saat ini waktu telah tiba baginya. Ia menyesal karena belum meminta maaf kepada orangtuanya dengan benar dan menjalani kehidupan yang pantas.
Seperti lampu yang sudah mulai rusak dan menjadi kian meredup. Bianca merasakan hal yang sama pandangannya kini semakin lama semakin gelap. Sebelum gadis itu menutup mata ia dapat mencium aroma tubuh Daniel bercampur parfum yang ia kenal pemberian siapa. Setidaknya ia pantas mati di pelukan Daniel. Dengan sekuat tenaga, Bianca mencoba meraba wajah Daniel dengan tangannya yang berlumuran darah. Ia berharap bisa mengenang wajah Daniel untuk terakhir kalinya jika ia memang benar-benar harus pergi untuk selamanya.
Setelahnya, Bianca tidak sadarkan diri sepenuhnya. Kedua tangan gadis itu terkulai lemah di atas jalanan yang masih lenggang pagi itu.
Gadis itu tidak sadarkan diri dalam pelukan Daniel.
Bak serigala yang melolong di malam hari, Daniel berteriak meminta pertolongan.
Massa pun secara serentak berdatangan termasuk Alicia, mereka terkejut dengan apa yang sedang mereka lihat. Alicia yang melihat peristiwa itu segera menelepon bantuan ambulance dan menyebutkan jalan di mana kecelakaan terjadi.
_
Syedih yakkkk😭😭
...Nih Bagi Yang Minta Visualnya...
...Daniel Alvarez Tyee...
...Bianca Maureen Terrence...
...Alicia Cherish Creighton...
...Thomas Fodao...
...Laura Grizela Huang...
...Jacob Emanuel Terrence...
_
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa vote, like, fav ataupun gift untuk menambah semangat author yaa. Terimakasih sudah mampir 😍