
Pagi ini tidak seperti biasanya Daniel Alvarez Tyee terlambat. Stella mendapati atasannya itu tengah berjalan ke meja kerjanya dengan wajah muram. Pria 27 tahun itu melewati Stella tanpa menghiraukan sapaan sekretarisnya.
Stella dan para karyawan di sana menyadari perubahan atasan mereka setelah peristiwa kecelakaan tempo hari yang mengakibatkan Bianca terluka cukup parah.
"Ee...laporan pengembangan yang bapak minta sudah saya taruh di meja," Stella memberanikan diri bersuara lagi setelah sapaannya diabaikan.
Daniel menarik kursi kerjanya dan menganggukkan kepala sebagai balasan dari perkataan sekretarisnya.
Pria itu mengambil pena dari sakunya dan mulai mengecek tumpukan dokumen di meja.
Tersadar akan sesuatu, pria itu beralih menatap sekretarisnya yang berdiri tak jauh dari sofa tamu dan tak kunjung pergi meninggalkan ruangannya.
Seolah tahu akan kesalahannya tanpa pria itu mengatakannya Stella membuka kembali suaranya untuk bertanya.
"Kopi, kopinya sudah dingin apa perlu saya buatkan lagi yang baru?" Tanya Stella setelah berhasil menguasai rasa canggungnya.
"Tidak perlu. Terimakasih." Merasa sudah mengerjakan tugasnya telah selesai, Stella segera pergi meninggalkan ruang kerja atasannya yang tampak kacau hari itu.
Belum sempat ia mencapai pintu, Stella mendapati seorang pria paruh baya memasuki ruang kerja atasannya.
Stella tahu, setelah ini masalah besar akan kembali muncul di kantornya.
***
"Ada perlu apa-" pertanyaan Daniel belum selesai terkatakan.
"Apa aku membesarkan mu untuk menjadi pembunuh?" Pria dihadapannya tampak murka.
Saat ini, Davis Tyee, ayahnya datang bersama asistennya. Ia baru saja kembali dari perjalanan bisnis Eropa. Sorot matanya tampak memancarkan kemarahan.
Daniel tersenyum sinis, tangannya terkepal di atas meja.
"Kenapa? kau malu?" tantang Daniel, tersenyum meremehkan.
"Bereskan kekacauan ini dengan keluarga Terrence bagaimanapun dia adalah investor yang berpengaruh. Jika tidak, kau akan menyesal," ucap Davis penuh penekanan. Pria itu segera berbalik pergi.
"Jangan mengaturku!" ucap Daniel tidak suka.
"Kalau kau tidak mau, biarkan Dean mengambil alih. Ia lebih baik dari mu," gertak Davis tidak main-main. Pria itu segera pergi karena enggan terprovokasi dengan tabiat putranya yang keras kepala.
Daniel lebih marah ketika mendengar ayahnya lagi-lagi lebih memuji adik tirinya daripada dirinya.
Pria itu tidak bisa mengontrol emosinya, luka masa lalu dan kebenciannya melebur menjadi satu. Dengan satu sapuan kemarahannya, semua benda-benda di atas mejanya sudah berserakan di lantai.
Tidak ada hal yang mengerikan bagi Stella, kecuali pagi ini ia melihat ruangan kerja bosnya sudah seperti kapal pecah. Ada banyak barang-barang yang jatuh tergeletak bahkan sebagian dari antaranya rusak parah.
Stella kembali menutup pintu ruangan bosnya itu pelan-pelan. Setelah kedatangan tuan Davis, Ia tahu suasana bosnya tidak baik hari ini.
Ia tidak mau menjadi sumber pelampiasan amukan bosnya. Maka ia mengurungkan niatnya untuk menyampaikan informasi bahwa Alicia menelepon dari saluran kantor karena ponsel Daniel tidak aktif.
Stella memutuskan untuk memberitahu Daniel melalui saluran intercom daripada berhadapan dengan murka bosnya secara langsung.
Daniel terduduk di sisi meja. Dasinya sudah longgar kemejanya sudah kusut di beberapa sisi.
Salah satu tangannya mengeluarkan darah segar ketika ia secara sengaja merusak bingkai foto keluarga menggunakan tangannya sendiri.
Ia meraih sambungan telepon kabel ketika benda itu berbunyi cukup nyaring.
Sebelum Stella sempat menyelesaikan kalimatnya, Daniel sudah menutup telepon itu secara sepihak. Kemudian ia melemparkan telepon itu ke sisi ruangan.
Ia menyesal mengapa gadis bodoh itu menyelamatkannya dan tidak membiarkannya mati saat itu, sehingga semua hal lebih mudah baginya.
Dan kilasan pahit masa lalu itu datang kembali, seperti roll film yang rusak.
Di ruangan yang kedap suara itu, Daniel menjerit putus asa.
**
Hai hai, welcome back. Daniel dan Bianca balik lagi nih. Jangan lupa like, komen, vote dan gift ya supaya author lebih semangat. Yuk tebarkan dukungan dan cinta kalian untuk novel ini. I lov u♥️🌹