169 Days With Mr. CEO

169 Days With Mr. CEO
14. Pemandangan 'Wow'



Anak-anak sedang menapaki batu sungai untuk mencapai pertengahan sungai. Daniel berada di barisan paling belakang untuk memastikan anak-anak tidak tergelincir saat mereka menyeberangi sungai.


Bianca yang ketakutan melihat arus sungai yang cukup deras memilih duduk di salah satu bebatuan besar di pinggir sungai ditemani oleh Alicia yang juga duduk di sampingnya bersama Maurin.


"Kak Alice, ayo temani aku menyeberangi sungai." Rahel yang sedari tadi belum turut menyeberang mulai merengek kepada Alice.


"Aku tidak bisa meninggalkan Maurin sendirian Rahel." Balas Alice meminta pengertian.


"Kak Bianca sepertinya tidak akan merasa keberatan untuk menjaga Maurin sebentar." ucap Rahel dengan tatapan mengejek.


Bianca yang sibuk mengamati Daniel terkejut ketika namanya di sebut-sebut.


"Bianca apa kau bisa menolongku untuk menjaga Maurin sebentar? Rahel memintaku untuk membantunya menyeberangi sungai." Alice memberikan penjelasan ketika melihat raut kebingungan timbul di wajah Bianca.


"Eh? ee..." tiba-tiba saja Daniel melihat ke arahnya. "I-iya tidak apa." Bianca menjawab dengan senyum yang di paksakan.


"Terimakasih. Jika dia lapar kau bisa memberikannya biskuit atau susu dalam tas ini." Alicia memberikan tas yang sedari tadi di bawa oleh Daniel yang sekarang sudah berada di pundak Alice dan di letakkan di sisi tubuhnya. Alice lalu memberikan Maurin yang masih setia mengemut dot-nya dan memandang ke arah saudara-saudarinya yang sibuk bermain air.


Bianca dengan takut-takut menerima Maurin dalam pangkuannya. Sebenarnya dia tidak yakin bisa menjaga balita itu, ini pertama kalinya ia menjaga dan menggendong balita ia takut ia salah dan membuat balita itu terluka karenanya.


"Aku tidak akan lama..." ucap Alicia ketika melihat Bianca seperti takut-takut menerima Maurin dalam pangkuannya.


Rahel tersenyum geli ketika melihat tubuh Bianca menegang kaku layaknya robot.


Alicia berjalan dengan sedikit tergesa-gesa ketika Rahel menarik tangannya dengan tidak sabaran untuk menyeberangi sungai.


Bianca melihat Daniel bergegas menghampiri Alicia dan Rahel untuk membantu kedua perempuan itu menyeberang jalan.


Bianca mendesah kasar, ketika melihat Alicia hampir saja jatuh ke sungai karena terpeleset namun lebih dahulu Daniel memegang pinggangnya, menahan bobot gadis itu agar tidak jatuh. Semua anak-anak bertepuk tangan dan menyoraki dengan 'cie-cieee'.


"Nasib kita hanya jadi penonton." Bahu Bianca merosot, ia beralih memandang balita dipangkuannya yang juga antusias bertepuk tangan melihat saudara-saudarinya menyoraki Daniel dan Alicia.


Bianca menyesal karena ketakutannya pada arus sungai membuatnya tidak bisa bergabung dengan Daniel dan lainnya untuk bersenang-senang.


****


Siang itu mereka duduk di pinggir sungai. Daniel bersama Timmy berhasil menangkap beberapa ekor ikan dengan tombak bambu yang di buat oleh Timmy dan Daniel untuk menombak ikan.


Anak-anak lain sudah berhasil mengumpulkan ranting-ranting dan dedaunan kering untuk dibakar di dalam perapian batu yang sudah lebih dahulu mereka buat. Penampilan mereka rata-rata hampir sama, setengah basah karena terlalu senang bermain air.


Daniel yang tengah bertelanjang dada tampak serius membolak-balikkan ikan yang sudah di tusuk terlebih dahulu dengan bambu di atas perapian batu. Kaos pria itu sudah basah sedari tadi dan di keringkan di bawah sinar matahari di atas bebatuan sungai bersama pakaian Timmy dan anak-anak lelaki lainnya.


Bianca yang saat itu sedang memangku Maurin, sedari tadi menatap terpana tubuh Daniel yang bertelanjang dada.


'Sempurna, ini seperti gambaran tubuh dewa Yunani asli' pikir Bianca berdecak kagum. Dia sama sekali tidak menyesal meskipun cukup lama duduk di pinggiran bebatuan sungai namun di kesempatan ini ia bisa puas memandangi tubuh Daniel yang atletis dengan perut sixpack sepuas-puasnya.


Melihat gelagat mesum Bianca, Rahel bergegas mengambil pakaian Daniel dan semua anak laki-laki lainnya.


"Kak, ini pakai bajumu, sudah kering kok nanti masuk angin." Rahel memberikan kaos putih polos milik Daniel.


"Tapi nanti kaos ku kotor terkena asap." Daniel menerima kaos miliknya dengan sedikit bingung untuk memakainya atau tidak.


"Pakai saja, itu akan melindungi mu dari predator." Cibir Rahel menatap sinis Bianca.


Bianca sedikit terkejut dan kesal ketika Rahel menyebutnya sebagai predator. Namun lagi-lagi dia dibuat terpesona dengan adegan yang dilihatnya. Sebuah pemandangan yang 'wow' dari Daniel.


Kini Daniel tengah berdiri untuk memakai kaosnya. Sebelumnya ia hanya mengenakan blue jeans sebagai bawahannya. Di bawah sinar matahari yang tampaknya sengaja menyoroti tubuh Daniel, Bianca dapat melihat dengan jelas penampilan tubuh pria itu.


Bianca seperti melihat reka adegan iklan dan Daniel berperan sebagai aktornya. Setiap gerakan pria itu tidak terluput dari pandangannya.


Kaos itu jatuh melewati kepalanya lalu bahu tegap Daniel, kemudian turun melewati dada bidang dan perut yang rata dengan tonjolan enam kotak-kotak timbul. Setelahnya pria itu duduk dan kembali memastikan ikan yang ia bakar matang secara sempurna.


Bianca bersumpah jika Daniel yang menjadi aktor utama dalam iklan opera tv, ia akan terus berlangganan iklan tersebut supaya dapat terus ditayangkan selama 24 jam nonstop di tv-nya.


Dalam hati kecilnya ia juga ingin merasakan sensasi seperti apa ketika ia memeluk tubuh Daniel. Pasti rasanyaaa.. ahh Bianca tidak sanggup mengatakannya. Pipinya terasa panas membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dalam benaknya.


'Laura dan Thomas harus mendengarkan ceritaku, mereka harus tau sekeren apa tubuh atletis Daniel.' Teriak Bianca dalam hatinya, merasa tidak sabar membagikan informasi kepada para sahabatnya.


"Bianca,.." panggil Alice yang juga tampak salah tingkah melihat pemandangan 'wow' dari Daniel .


"Iya?" Senyum bodoh belum hilang dari wajah Bianca.


"Maurin sepertinya sudah akan tidur, biarkan aku memangkunya, kau pasti lelah." Bianca memandang mata Maurin yang hampir tertutup. Balita itu sudah menghabiskan satu botol susu ketika bersamanya tadi.


Bianca mengangguk lalu memberikan Maurin kepada Alicia.


Wajah Maurin lebih jelas terlihat oleh Bianca saat ini.


Bianca merasa kagum karena dia dapat mengatasi balita itu dengan baik. Namun dia juga sedih ketika mengetahui fakta bahwa kelahiran Maurin tidak di inginkan oleh orangtuanya.


Balita itu terlahir prematur, tidak seperti balita pada umumnya pertumbuhan Maurin terbilang cukup lambat karena sejak dalam kandungan ibunya tidak memperhatikan nutrisinya.


Bianca terkesiap ketika Tiger menyodorkan ikan bakar kepadanya.


"Terimakasih." Bianca tersenyum dan menerima ikan bakar itu.


Tiger bersama Rahel bertugas untuk membagikan ikan bakar ke semua orang.


Bianca mencubit daging ikan yang sudah tertusuk bambu kemudian merasakannya.


"Hmm..enak." Gumam Bianca terheran-heran. Dia pernah merasakan aneka olahan ikan namun dia merasa ikan bakar yang baru saja mereka dapatkan terasa lebih segar dan memiliki rasa yang khas.


"Kenapa Justin tidak mau memakan ikan? apa dia alergi?" Tanya Bianca menggeser tubuhnya untuk mendekat ke arah Alicia. Dari banyaknya jumlah orang yang bersukaria karena ikan bakar hasil perburuan mereka sudah matang, Bianca memperhatikan hanya Justin yang tidak menerima dan berhasrat untuk memakan ikan, bocah itu hanya sesekali menggigit pisang yang tadi sempat di petik oleh Timmy ketika mencari bambu untuk membuat tombak.


"Oh, Justin pecinta binatang dia selalu tidak tega ketika memakan daging hewan." Balas Alicia berbisik, mengingat bahwa Maurin sedang tidur dengan pulas nya di pangkuannya.


"Jadi dia vegetarian?" Tanya Bianca ikut berbisik.


"Ya begitulah." Balas Alicia.


"Hampir sebagian besar anak-anak disini adalah yatim piatu termasuk aku." Ucap Alice kemudian. Bianca tetap mendengarkan cerita Alicia meskipun dia sudah tahu mengenai fakta itu.


"Anak-anak di tempat ini memiliki trauma, karena terkadang mereka secara langsung melihat orang yang mereka cintai pergi lebih dahulu. Atau bahkan kedatangan anak-anak tidak membuat para orangtua merasa puas dan senang sehingga mereka membuang anak-anak yang tidak mereka inginkan."


Dengan ikan bakar di tangannya, Bianca memilih diam dan hanyut dalam cerita Alicia.