
Terhitung sudah dua hari Bianca tidak sadarkan diri. Operasi beberapa hari yang lalu sudah terlewati. Namun Bianca masih harus melewati masa komanya. Perkembangan keberhasilan operasi tersebut hanya bisa dilihat ketika Bianca sudah terjaga kembali. Selang infus, ventilator serta alat lainnya masih terpasang pada tubuh Bianca.
Daniel tidak di perbolehkan untuk menjenguk Bianca sama sekali. Atas perintah tuan Terrence, kamar kelas VVIP itu dijaga ketat oleh dua bodyguard setiap harinya selama 24 jam.
Sekeras apapun Daniel mencoba untuk menerobos masuk para bodyguard lebih dahulu meringkusnya.
Ia bukannya tidak pandai berkelahi, pembully-an yang diterimanya semasa ia duduk di bangku sekolahan, membuat Daniel memantapkan diri untuk mengikuti kelas bela diri jujitsu. Satu tahun lebih ia sudah mempelajari berbagai teknik bela diri itu dengan baik. Namun saat ini, ia seperti menyerah pada keadaan, bahkan ketika para bodyguard terpaksa memukul perutnya karena kenekatannya ia tetap diam saja.
Setiap hari Laura berusaha menyempatkan diri untuk menjenguk Bianca. Kadang ia datang bersama Jacob, dengan Thomas ataupun seorang diri.
Meskipun Bianca masih terbaring karena koma, ia tetap datang dan mengajak Bianca untuk mendengarkan ceritanya dan mengajaknya berkomunikasi walaupun lebih terlihat ia bermonolog dengan dirinya sendiri tetapi Laura yakin ini adalah salah satu cara untuk menstimulasi otak Bianca. Dokter mengatakan Bianca dapat mendengar apa saja yang kita katakan namun tidak dengan tubuhnya.
Laura berpikir bahwa apa yang di katakan oleh Bianca benar. Sejak pertemuannya dengan Daniel di hari kecelakaan Bianca, Laura semakin tahu betul apa yang membuat Bianca mengejar Daniel setengah mati.
Karena ketampanan pria itu. Dan pemandangan ribut-ribut di luar kamar karena pria itu, sudah menjadi tontonan-nya selama dua hari ini.
Laura mengira bahwa kedatangan Daniel ke rumah sakit di di setiap pagi sebelum jam kantor adalah karena pria itu sudah mulai jatuh hati pada Bianca dan menyesali perbuatannya.
Ternyata ia salah besar.
Setelah ia menyudahi sesi kunjungannya dan mendoakan Bianca ia bergegas untuk meninggalkan kamar itu.
"Bisa kita bicara sebentar?" Daniel tiba-tiba saja muncul menghadang pintu lift ketika ia sudah berada di dalamnya.
Laura tidak yakin namun karena melihat raut pria itu yang nampak kelelahan, ia menganggukkan kepala ragu.
Pagi itu Laura yakin ia akan datang terlambat ke kantornya. Meskipun ia memegang jabatan sebagai bos, namun ia merasa dirinya tidak memberikan contoh yang baik.
Pertemuannya dengan Bianca dan Thomas di hari sebelum-sebelumnya selalu berakhir dengan waktu yang tepat sebelum jam masuk kerja.
Ia ingat, bahwa dalam hidupnya hanya 4 kali ia pernah secara tidak sengaja terlambat.
Pertama karena mobil kodok Thomas yang tiba-tiba saja tidak mau menyala.
Ketiga, karena alarm di kamarnya tidak berbunyi sama sekali. Laura adalah perempuan yang menggantungkan seluruh kondisi terjaga dari tidurnya pada alarm bergambar beruang, hadiah random dari Jacob untuknya. Sialnya, alarm itu kehabisan baterai. Ia bangun pukul sembilan dan bergegas pergi ke kantor setelah memutuskan mandi secara kilat tanpa sarapan.
Keempat, momen tersial yang pernah dilalui dan diingat Laura adalah ketika ia memesan taxi dan taxi itu tidak kunjung datang lalu membatalkan pesanan secara sepihak karena istri dari driver nya sedang melahirkan. Membuat Bianca mau tidak mau meminta pertolongan Thomas yang kala itu berada di cafe yang sama dengannya untuk menikmati sarapan. Dan sialnya mobil butut itu mendadak mengeluarkan asap pekat ketika meninggalkan cafe itu setelah jarak seratus meter.
Sebagai tambahan informasi, Laura tidak mengendarai mobilnya sendiri. Bukan karena tidak bisa, tapi tidak mau. Kecelakaan semasa SMA setelah ia memperoleh SIM nya di usia yang ke 17 tahun membuat Laura trauma. Ia hampir saja mencelakai pejalan kaki kalau tidak membanting setir nya ke kiri dan menabrak pohon. Ia ingat bahwa waktu pesta sweet seventeen nya ia harus merayakannya dengan perban di kepala dan di kaki.
Ia pernah memiliki seorang supir setelah peristiwa itu, bahkan ia merasa nyaman ketika pergi dan pulang di antar jemput oleh pak Ogli. Namun akhirnya pak Ogli, supirnya itu meninggal dan membuatnya merasa sedih karena kehilangan supir dan teman terbaik sepanjang perjalanannya pulang pergi.
Maka ia memutuskan untuk menyewa jasa taxi atau Thomas agar tidak terlalu sentimentil ketika harus kehilangan seseorang.
"Ada apa?" Tanya Laura. Saat ini mereka tengah berada di sebuah cafe di seberang rumah sakit. Laura sudah memesan makanan-nya namun enggan menyentuhnya. Ia merasa kurang nyaman dengan keberadaan Daniel dan sikap diamnya. Lantas tanpa menunggu lama ia mengambil inisiatif untuk bertanya.
"Aku perlu bantuan mu." Jawab Daniel singkat setelah meletakkan cangkir kopinya.
"Bantuan apa?" tanya Laura tak mengerti. Daniel menatapnya, pria itu menautkan kedua tangannya di atas meja. Laura merasa gelisah ketika Daniel menatapnya secara intens.
Laura memilih untuk menyibukkan diri dengan menyantap pancake di depannya untuk mengahalau rasa groginya.
Satu potong pancake krim saus madu masuk ke dalam mulutnya. Namun beberapa detik setelahnya sendok itu jatuh ke meja ketika Laura mendengar perkataan Daniel.
Matanya membulat sempurna dan ia berusaha menyakinkan dirinya bahwa pria di hadapannya ini tidak sedang mengigau.
_
Hai-hai huhuhu welcome back. Maaf ya agak telat, soalnya harus ngurus beberapa hal. kira-kira apa yang membuat Laura terkejut ya?? jangan lupa komen, like, dan fav serta berikan gift untuk novel ini ya. Terimakasih sudah mampir. 😊😍
Nih author kasih bonus pict gambar Bianca dan Daniel.