
Bianca Maureen kembali meneguk botol anggurnya, Ia sedikit terhuyung ketika badan kapal dihempas gelombang. Lima belas menit sudah berlalu sejak Thomas Fodao meninggalkan dirinya sendiri di geladak utama, Ia merasakan angin bulan Maret begitu dingin menerpa tubuhnya.
Ketika berbalik ia dikejutkan dengan seorang pria berdiri dihadapannya. Bianca tidak dapat melihat dengan jelas karena lampu mercusuar menyorot wajahnya dari arah berlawanan.
"Thomas?" Bianca mencoba menerka pria dihadapannya. Setelah ia kembali mendapatkan fungsi penglihatannya, pupil matanya melebar.
"Kau?" Bianca terkejut bukan main ketika tahu siapa pria di hadapannya. Botol anggur di tangan kanannya jatuh menggelinding dan berhenti tepat di depan kaki pria itu.
"Halo princess..." Antony Santos mengulum senyum sembari membungkukkan tubuhnya dan meletakkan tangan di dada.
Beberapa bulan yang lalu bahkan sebelum ia menangkap basah calon tunangannya itu berselingkuh, Bianca akan selalu merasa terkesan ketika dia di perlakukan bak tuan putri. Namun setelah ia mengetahui motivasi pria itu mendekatinya ia merasa jijik.
"Tutup mulut mu dan sudahi sandiwara mu yang menjijikkan itu." Seru Bianca marah.
"Oh sayang...kita bahkan belum memulai segala sesuatunya. Aku bahkan belum menunjukkan semua perasaan ku padamu dan memperbaiki kesalahan ku." Ucap Antony Santos dramatis. "Lihat ini.." Antony Santos menjilat dengan erotis sisa-sisa anggur yang tertumpah dari permukaan botol di tangannya. " Bahkan anggur ini mungkin akan kalah manis dengan bibir mu."
"Menjijikkan! Dasar lintah tidak tahu malu." Bianca memutuskan untuk pergi meninggalkan pria dihadapannya itu. Namun Antony Santos lebih dulu menangkap salah satu pergelangan tangannya.
"Brengsek, aku sudah sangat baik padamu begini caramu membalas budi ha?!!" Antony berteriak dihadapan gadis itu.
"Sakit, lepaskan!" Bianca berusaha menarik tangannya agar terlepas dari cengkeraman pria itu.
"Tidak semudah itu sayang, kalau aku tidak bisa mendapatkan hartamu aku bisa menghamili mu lebih dahulu." Antony tersenyum licik.
"Apa? dasar pria gila. Lepaskan!" Bianca mendelik murka. Ketika ia melihat celah untuk kabur. Tanpa berpikir lama ia menginjak salah satu kaki pria itu dan membuatnya berhasil melepaskan diri.
"Argh, gadis j*lang." Antony memekik kesakitan dengan tertatih-tatih ia kembali mengejar gadis itu sebelum ia kembali mendapatkan lebih banyak masalah.
Bianca merasa sedikit pusing karena pengaruh alkohol dari anggur yang ia minum baru saja bereaksi. Ketika sedikit lagi ia berhasil mencapai pintu, ia tidak sengaja menginjak gaun panjangnya dan membuatnya terjatuh.
"Ternyata dewa masih berpihak kepadaku." Antony Santos tertawa puas. Pria itu menarik kedua tangan gadis itu kebelakang.
"Tolong..tolong..." Dengan sekuat tenaga Bianca berteriak mencari pertolongan.
"Hahaha tidak akan ada yang mendengar mu, orang-orang kaya di dalam sana sedang sibuk berpesta." Antony terus tertawa dan membawa gadis itu ke bagian geladak yang lebih sepi.
Bianca terus berkelit dan mengucapkan kalimat ancaman kepadanya. Membuat pria itu semakin geram dan menghempaskan tubuhnya ke pagar pembatas.
"It's time to party baby." Antony berbisik di telinganya. Ketika tubuh itu semakin mendekat Bianca terus meronta untuk melepaskan diri.
'Siapapun tolong aku' Bianca terus berharap akan ada seseorang yang akan menolongnya.
Tiba-tiba ada seseorang yang menarik paksa kerah kemeja Antony dan membuat pria itu melepaskan Bianca hingga membuat gadis itu terjatuh ke dalam laut.
"Siapa kau?" seru Antony murka.
"Maaf sepertinya kesenangan anda harus berakhir." Pria itu melihat gadis yang hendak ia tolong sedang berusaha menyelamatkan dirinya agar tidak tenggelam. "Dan waktu ku tidak banyak." Sebelum Antony sempat memprotes, Pria misterius itu lebih dahulu meninjunya dua kali, dan untuk ketiga kalinya dua gigi samping pria itu berhasil lepas. Antony Santos tidak sadarkan diri.
***
Bianca Maureen Terrence akan selalu menolak ajakan teman-temannya untuk menghabiskan akhir pekan mereka dengan berenang.
Ketika teman-temannya bertanya apa alasannya, ia akan mengatakan empat alasan. yang pertama karena ia memiliki alergi terhadap air yang terkontaminasi oleh kalsium hipoklorit, kedua ia akan beralasan air yang dalam membuatnya susah bernafas, ketiga ia akan mengakui secara terang-terangan ia tidak pandai berenang.
Dan alasan keempat ia tidak pernah benar-benar memberitahukan kepada teman-temannya karena air yang dalam membuat kakak perempuannya yang berumur tujuh tahun meninggal.
Sejak itu semua kenangan buruk akan terus menghantuinya ketika ia berada dalam air yang dalam.
Ia menjadi seorang Aquaphobia.
Sahabatnya, Thomas Fodao dan Lauren Grizela pernah sekali waktu berkunjung kerumahnya. Mengetahui gadis itu memiliki kolam renang yang luas tapi tidak bisa berenang dan hampir tidak pernah menggunakan fasilitas itu membuat mereka berdua merasa aneh.
Namun ketika mereka mengetahui alasan di balik Bianca yang tidak bisa berenang adalah karena ia memiliki masa lalu yang kelam, mereka menjaga perasaan gadis itu dan menghiburnya.
Bianca merasakan ia sudah sangat lelah untuk mempertahankan tubuhnya agar tidak tenggelam tapi tetap saja gaunnya membuat ia kesulitan mempertahankan diri dipermukaan. Ketika tubuhnya kembali tenggelam, ia sudah tidak memiliki tenaga untuk menolong dirinya sendiri.
Kulitnya semakin kebas, hidung dan tenggorokan nya terasa panas. Semakin lama ia merasakan kepalanya seringan kapas.
Ditengah kesadarannya yang semakin menipis, ia seperti melihat wajah kakak perempuannya berenang kearahnya. Semakin dekat hingga wajah kakaknya berubah menjadi sosok pria tampan.
Sepasang tangan kekar pria itu menangkup kedua pipinya dan ia merasakan kesadarannya sedikit demi sedikit menghilang.
'Jadi seperti inikah rasanya kematian itu?'
***
Bianca mendapati dirinya tengah tertidur beralaskan sehelai kain di atas Padang rumput hijau.
Ia merasakan ada sesuatu yang aneh menekan bibirnya, Bianca membuka mulutnya.
Sebuah apel merah menggelinding ke samping
Gadis itu tidak sengaja tertidur dengan memakan apel.
Bianca melihat langit di atasnya berwarna biru muda di hiasi oleh sekumpulan awan Cumulus yang tampak seperti permen kapas dari kejauhan.
Bianca mengangkat salah satu tangannya, ia sedikit bingung ketika melihat tangannya berubah menjadi tangan seorang anak kecil.
"Bia?" Seorang gadis berambut ikal berdiri mensejajarkan wajah mereka, background langit di atasnya terhalang oleh tubuh gadis itu.
"Kakak?" Bianca terkejut ketika melihat kakaknya, Tarasha Jemima Terrence yang sudah lama tiada sekarang muncul di hadapannya dalam bentuk tubuh bocah berumur tujuh tahun.
Bianca mencoba memilah kembali ingatannya.
Ia ingat ia sempat tenggelam di perairan laut.
'Apakah aku sudah mati?'
"Bia, ayo main dengan ku." Tarasha kecil mengulurkan tangannya.
Bianca sempat ragu, namun akhirnya ia tetap menerima uluran tangan gadis itu.
Mereka berlari mengitari padang rumput itu.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Bianca melihat kakaknya tersenyum kembali.
***
"Kakak!" Bianca terbangun dari tidurnya.
Hal yang pertama kali ia lihat adalah wajah ibunya, dan kakak laki-lakinya.
"Bia... syukurlah kamu sudah sadar." Ibunya menangis karena terharu.
"Aku? dimana?" Bianca merasa bingung ketika ia mendapati dirinya berada di sebuah ruangan.
"Di rumah sakit, kau tenggelam dan tidak sadarkan diri selama dua hari." Jawab Jacob.
"Ma, aku tadi bertemu dengan kak Tara." Ibunya terkejut mendengar perkataan Bianca dan kembali menangis untuk itu.
"Mama pergi saja menemui dokter dan papa, biar aku yang menjaga Bia." Jacob mengantar ibunya keluar lalu kembali lagi ke dalam ruangan adiknya.
"Bia, sampai kapan kau mau membuat masalah. Jangan pernah mengungkit Tara di depan mama, Kau tidak mau kan mama kembali shock dan terkena serangan jantung." Jacob menceramahi adiknya panjang lebar.
"Kak, tapi...tapi aku benar-benar bertemu dengan kak Tara. Dia juga yang menyelamatkan aku waktu aku tenggelam di laut kemarin." Bianca tetap bersikeras, ia tidak sedang mengarang cerita.
"Dengar, Tarasha sudah tiada sejak enam belas tahun yang lalu, yang menyelamatkan mu adalah CEO dari Corp. Buildings, Daniel Alvarez Tyee. Sekarang kau istirahat dan jangan pikirkan hal yang macam-macam." Jacob menyuruh adiknya berbaring, dan menarik selimut untuknya.
Bianca diam menuruti perintah kakaknya.
'Jadi pria tampan yang menolongku di laut itu bukan ilusi?' Bianca membatin dalam hati.