
Bianca Maureen kehilangan moodnya pagi ini. Seperti biasa, mengunjungi Daniel dan membawakan pria itu sarapan setiap pagi, merupakan kewajiban dan keharusan yang tidak boleh ia tinggalkan.
Ketika ia sudah merias diri selama satu jam penuh dan memakai parfum baru yang kemarin baru saja ia beli.
Pelayan toko itu memberi klaim bahwa parfum edisi baru ini adalah tipe wewangian yang sangat di sukai oleh pria dan harga satu botol parfum itu sebesar 71 juta.
Tanpa berpikir lama, ia meminta pelayan toko itu untuk mengemas tiga botol parfum yang serupa.
Malang tidak dapat di tolak. Ketika gadis itu siap membuat Daniel terkesan dengan penampilannya ia justru mendapati pujaan hatinya tidak ada di kantor.
"Maaf nona Bianca, pak Daniel sedang sarapan di luar bersama nona Alicia." Jawab Stella ketika ia bertanya kepada sekretaris Daniel itu.
"Ya sudah ini, ini untuk mu saja." Bianca memberikan paper bag berisi beberapa menu dari restoran yang ia pesan kepada Stella.
"Te—terimakasih nona Bianca, kebetulan saya juga belum sarapan." Stella menerima paper bag itu dengan wajah berbinar.
Sekarang Bianca melampiaskan kekesalannya dengan menggigit satu potongan besar hamburger di tangannya.
Sejak dahulu, hamburger adalah perpaduan yang pas untuk mengobati rasa sakitnya.
Hamburger adalah salah satu makanan favoritnya. Sarapan, makan siang, makan malam hamburger adalah menu yang lezat dan tidak membosankan bagi Bianca.
Bianca mengigit lagi hamburger di tangannya. Kilasan peristiwa ketika Daniel mengusirnya dan ketika pria itu memeluk Cia membuatnya murung.
"Bi?" Laura yang baru saja tiba, ia memanggil gadis itu namun Bianca diam tidak bergeming.
"Bianca?" hening tidak ada balasan.
"Bianca Maureeeeen~" tersentak dari lamunannya, Bianca mengerjapkan matanya.
"Eh, sudah datang Lau?" Bianca bertanya kikuk.
"Sudah sejak jaman purbakala. Ada apa denganmu? ini masih pagi, awas sering melamun bisa kesurupan tau." Ucap Laura jenaka.
"Hmmm..." balas Bianca tidak bersemangat.
"Lihat ini, saus tomat berceceran di mulut mu, astaga kau bayi berusia berapa tahun?" Laura mengomelinya, gadis itu dengan cekatan mengambil tisu dan mengelap bibir Bianca.
"Ada apa, kau sakit?" Laura merasa aneh melihat Bianca hanya diam saja, ia berinisiatif menempelkan telapak tangannya ke dahi Bianca. "Woah, panas sekali." Ucap Laura dengan perilaku panik yang dibuat-buat.
Bianca memegang dahinya sendiri, dan satu tangan lainnya menempelkannya ke dahi Laura.
"Normal kok, panas apanya?" Tanya Bianca tidak mengerti.
"Panas api cemburuuu, hahaha." Ledek Laura tertawa kecil.
"Lau kurang kerjaan deh." Ucap Bianca merajuk.
"Habisnya, kau terlalu deh. Coba ku tebak pasti karena Alicia dan Daniel kan?" Tebak Laura yakin.
"Bagaimana bisa kau mengetahuinya?" Bianca memiringkan sedikit kepalanya, bingung dengan sahabatnya yang bisa menebak kegundahannya saat ini.
"Ya iyalah, siapa lagi. Setiap malam kau kan selalu curhat kepada ku. Siapa lagi yang bisa membuat perasaan Bianca Maureen jatuh bangun kalau bukan Daniel. Aku tebak lagi, pasti Daniel sedang pergi bersama Alicia kan?"
Sebenarnya, Laura sudah lebih dahulu merasakan perasaan yang dialami oleh Bianca seperti sekarang ini.
Mengejar cinta Jacob Emanuel Terrence juga sama susahnya dengan cara Bianca menaklukkan Daniel Alvarez Tyee.
Namun perbedaannya, perasaannya kepada Jacob terbalaskan sedangkan perasaan Bianca kepada Daniel besar kemungkinan akan menemui kegagalan.
Belum lagi seperti kata Bianca, gadis bernama Alicia itu adalah seseorang yang sangat spesial bagi Daniel Alvarez Tyee.
Bianca tersenyum, ia tidak tahu Laura adalah perempuan yang luar biasa keren dan mengerti masalahnya dengan baik.
Tapi, Bianca tidak mau mengakui hal itu secara terang-terangan, dia tidak mau Laura menjadi semakin besar kepala karena pujiannya.
"Iya, sepertinya gadis bernama Alicia itu berhasil menempati hati Daniel." Ucap Bianca sedih.
"Dia cantik, bahkan tanpa riasan sekalipun." Ada perasaan rendah diri ketika Bianca memuji gadis itu.
"Oh sayang, semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing bukan? Be yourself, ok?" Hibur Laura.
"Paras bukanlah segalanya, kita akan menjadi gadis yang rupawan di mata orang yang tepat."
imbuh Laura menyemangati.
"Apakah, Daniel akan menjadi orang yang tepat untuk melihat ku sebagai orang yang spesial baginya?" Tanya Bianca sedikit tidak yakin.
"Aku tidak dapat menjawab semua itu, sebagai perempuan yang pernah ada di pihak yang sama dengan mu, aku yakin cinta yang tepat akan datang tepat pada waktunya. Meskipun ketika kita harus bersusah payah untuk mendapatkannya, kita tidak akan pernah tahu sebelum mencoba bukan?"
Bagai mendapatkan suntikan obat. Bianca merasakan semangatnya bangkit kembali. Kata-kata dari Laura, sahabatnya bagai obat untuk memulihkan luka.
"Kau hanya perlu berusaha, jika sudah merasa tidak sanggup kau boleh berhenti. Tapi Bianca yang ku kenal adalah gadis pantang menyerah, kau hanya perlu menjadi diri sendiri."
Bianca memegang tangan Laura.
"Lau, aku tidak tahu harus berkata apa, aku mendukungmu 1000% untuk menikahi kakak ku dan menjadi kakak ipar ku." Ucap Bianca tulus.
Laura merasa salah tingkah oleh ucapan Bianca.
'Menjadi istri dan menantu keluarga Terrence... apakah mungkin?' dalam benaknya Laura berimajinasi tentang semua itu.
"Oh iya, kemana perginya Thomas? bukankah kalian sering bersama?" Tanya Bianca setelahnya.
"Thomas ada sesi pemotretan, aku mendengar kabarnya cinta pertamanya semasa kuliah sudah pulang dari luar negeri."
"Oh, gadis yang bernama Cherry itu maksud mu?" tanya Bianca sambil meminum jus strawberry nya.
"Ya begitulah, Thomas sangat tergila-gila padanya." Laura memakan salad tuna di hadapannya.
Bianca yang melihat piring Laura dipenuhi dengan sayuran hijau membuatnya bergidik ngeri.
"Kenapa melihat ku seperti itu?" merasa diperhatikan, Laura bertanya kepada Bianca.
"Apakah hobi mu memakan sayuran tidak bisa yang normal-normal saja? Kau seperti sapi
kakek ku di Jeilongjiang." Bianca ingat, dari sejak mereka SMA, ketika Laura akan memesan makanan atau membawa bekal rumput-rumput itu akan selalu ada.
Laura tertegun dengan ucapan Bianca. Cara Bianca mengomentarinya makan sama persis seperti yang dilakukan oleh Jacob.
"Hei, mengapa gaya bicaramu mirip sekali dengan Jacob?"
"Ya karena kami berada dalam satu rahim yang sama."
"Dengar ya, sayuran itu makanan sehat. Kau itu sama saja seperti kakak mu, semua sayuran kau pinggirkan. Lihat pipimu semakin berisi saja karena memakan hamburger tiap hari."
"Ha? benarkah?" Bianca memegang kedua pipinya panik.
Laura tersenyum, merasa mendapatkan ide untuk menjahili Bianca.
"Iya, dari dulu kau suka sekali makan hamburger bahkan memakannya tanpa sayuran. Itu akan membuat tubuhmu semakin gendut dan berjerawat. Memangnya kau akan percaya diri jika bertemu dengan Daniel dengan tubuh dan wajah seperti itu?"
Bianca menggelengkan kepalanya, mengapa hal sebesar ini tidak pernah ia pikirkan.
"Mulai hari ini kau harus belajar makan sayuran. Itu sehat untuk kulit dan tubuhmu."
Bianca menganggukkan kepalanya, seperti seorang bocah yang sedang diceramahi ibunya ia menurut saja dengan perkataan Laura.
Bianca menatap nanar sepotong hamburger di hadapannya.
'Maaf aku tidak akan memakan mu lagi.' Janji Bianca dengan berat hati.