169 Days With Mr. CEO

169 Days With Mr. CEO
8. Kembali ke Rumah



"Sebaiknya kau lupakan Daniel secepatnya." Perintah Mr. Terrence.


Mendengar perkataan papanya, Bianca merengut kesal.


Sejak peristiwa dimana ayahnya datang secara tidak terduga mau tidak mau gadis itu kembali pulang bersama papanya.


Saat ini mereka sedang ada di ruang tamu kediaman keluarga Terrence. Nyonya Liliana duduk di samping putrinya.


"Tapi pa, aku cinta sama Daniel." Bianca masih bersikeras dengan kemauannya.


"Tapi pria itu sama sekali tidak mencintai mu Bianca. Apakah kau akan terus-menerus mengejar pria itu dan mempermalukan keluarga kita?" Mr. Terrence memijat pelipisnya, merasa pusing dengan tingkah anak bungsunya yang keras kepala.


"Sayang, jangan terlalu keras dengan putri kita, ingat beberapa waktu riwayat penyakit jantungmu hampir kambuh setelah kau memarahi putri kita karena Antony." Ucap Nyonya Liliana memperingati suaminya.


Peristiwa di mana Bianca sempat dilecehkan sebelum akhirnya terjatuh ke dalam laut, membuat Mr. Terrence murka dan menyuruh kuasa hukumnya memproses Antony dengan seberat-beratnya.


"Dengar Bia, kau adalah satu-satunya putri keluarga Terrence, kau bisa mendapatkan pria seperti Daniel Tyee bahkan lebih dari pria itu, papa bisa mencarikan nya untuk mu."


"Tapi aku hanya mau Daniel saja papa." Bianca tetap bersikeras akan pilihannya.


"Nak, kamu harus dengarkan papamu. Sebesar apapun kamu menyukainya, dia tidak akan pernah melihat mu." Nyonya Liliana menasehati putrinya sambil memegang tangan putrinya.


"Papa sudah putuskan, lebih baik kamu papa jodohkan dengan Abed Louis Xuo anak pengusaha kilang minyak, dia lulusan insinyur terbaik dan akan meneruskan bisnis orangtuanya. Lebih dari itu ia sudah menaruh perasaan kepadamu sejak lama."


"Tidak, Bianca tidak mau di jodohkan dengannya."


"Kau harus menurut."


"Mama...Bianca nggak mau dijodohkan sama pria pilihan papa." Bianca merengek kepada Nyonya Liliana, berharap ibunya akan mendukung keputusannya.


"Nak, papamu tidak mungkin sembarangan memilih calon pria untuk menjadi menantu keluarga kita. Papa mu pasti memilihkan yang terbaik untuk mu." Nyonya Liliana menjelaskan niat baik suaminya kepada putrinya.


"Tidak, semua tidak ada yang mengerti perasaanku. Papa dan mama menjodohkan aku dengan pria lain, seolah-olah menganggap Daniel bukan pria yang baik untukku." Air mata Bianca tidak dapat dibendung lagi, pipinya hampir basah karena air matanya.


"Tidak sayang, bukan seperti itu..." Nyonya Terrence hendak memeluk putrinya tetapi lebih dulu mendapatkan penolakan dari Bianca.


"Apa papa mama lupa? Daniel Alvarez Tyee adalah orang yang sudah berjasa menyelamatkan nyawa Bianca. Bianca akan tetap mengejar Daniel dan akan membuatnya mencintai Bianca." Bianca berlari meninggalkan kedua orangtuanya, ia menuju lantai atas dimana kamarnya berada.


"Bianca..." Ibunya berusaha mengejar putrinya namun Mr. Terrence memegang pundak istrinya, memberikan isyarat untuk membiarkan putrinya sementara waktu.


****


Bianca membaringkan tubuhnya di kasur queen sizenya. Beberapa hari ia meninggalkan kamarnya, semua hal di ruangan ini tidak ada yang berubah. Kecuali bonekah Teddy Bear yang ia namai 'Coco' pemberian almarhum kakaknya sudah ia bawa dan letakkan di kasur apartemennya.


Biasanya ketika ia sedih ia akan memeluk Coco dan bercerita kepada Bonekah itu tanpa henti, sebagai gantinya sekarang ia memeluk salah satu gulingnya.


Bianca merasa kecewa karena kedua orangtuanya sama sekali tidak mendukung keputusannya dan tidak memahami perasaannya terhadap Daniel.


Tiba-tiba pintu kamar gadis itu di ketuk. Bianca segera menyembunyikan dirinya ke dalam selimut pink.


Tidak berapa lama pintu terbuka, seorang pria dengan tinggi di atas rata-rata lengkap dengan setelan jas memasuki kamar gadis itu dengan membawa nampan berisi beberapa makanan.


Jacob baru saja pulang dari kegiatan kantornya, ketika ia hendak memasuki kamarnya, ibu nya memanggilnya dan menceritakan kejadian yang baru saja terjadi dan meminta tolong kepadanya untuk mengantarkan makanan ke kamar adiknya.


Bianca merasakan sisi kasurnya di duduki. Gadis itu berpikir bahwa papanya datang untuk meminta maaf dan menyesali keputusan untuk menjodohkan dirinya dengan pria lain.


Bianca Maureen terkesiap mendengar suara kakaknya yang menyebalkan.


"Pergi sana, jangan mengganggu ku."


"Cepat bangun dan makan makanan malam mu." Jacob meletakkan nampan makanan di atas nakas di samping tempat tidur gadis itu.


"..." Bianca tetap bergeming dari posisinya yang membelakangi kakaknya.


Jacob menghela nafas melihat sifat manja dan keras kepala adiknya.


"Pantas saja Daniel tidak menyukaimu, kelakuan mu saja seperti ini." Celetuk Jacob.


Bianca membulatkan matanya, ia menyibakkan selimutnya dan beranjak dari posisi tidurnya menjadi duduk.


"Jangan sok tahu ya tuan jerapah..." Bianca memicingkan matanya.


"Tentu saja, mana mungkin Daniel menyukai gadis goblin seperti mu."


Dari dulu, Bianca selalu menggoda atau memanggil kakaknya ketika kesal dengan sebutan 'tuan jerapah' karena tubuhnya yang tinggi seperti jerapah.


Sementara kakaknya menamainya dengan makhluk mitologi goblin karena adiknya lebih pendek dari dirinya.


"Semua rencana ku gagal karena mulut mu besar mu itu." Bianca ingat bahwa insiden kepindahannya dapat diketahui dengan cepat oleh papanya karena ulah sang kakak.


"Kau saja yang bodoh. Sudah tahu Daniel tidak mencintai mu masih saja bersikeras. Kau harusnya malu karena mengejar-ngejar pria yang jelas-jelas tidak menyukai mu."


"Tidak ada hukum yang tidak memperbolehkan perempuan mengejar laki-laki."


"Kau bisa saja terjerat KUHP pasal 335 ayat atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan. Jika mau Daniel bisa melaporkan mu karena kau begitu terobsesi dan terus mengganggu hidupnya."


Bianca mengigit bagian dalam pipinya. Ia tidak akan pernah menang berdebat dengan kakaknya yang pernah lulus sebagai sarjana hukum dengan prestasi cum laude sebelum akhirnya mengambil magister manajemen.


"Makanlah tidak usah berdebat."


"..." Bianca melirik makanan di samping nakas. Ia dapat mencium saos barbeque dari steak tenderloin. Namun ia merasa gengsi untuk menerima makanan itu.


"Aku mau ganti baju." Jacob beranjak dari ranjang adiknya, memahami jika adiknya merasa sangsi untuk memakan makanan itu di hadapannya.


"Cepat habiskan makanannya, karena menerima perjodohan juga memerluhkan banyak tenaga." Ucap Jacob dari balik pintu tersenyum jenaka.


"Ya...Jacob Emanuel kau mau mati ya?"


Bianca berteriak kencang. Jika begini mana sudi dia makan untuk menambah tenaga demi menerima perjodohan.


"Selera pria yang di sukai Laura benar-benar tidak ada menariknya sama sekali. Besok aku harus menceritakan kepadanya agar ia berpikir dua kali untuk mau bersama kakak ku." Ucap Bianca menggerutu.


"Aku masih bisa mendengarmu." Seru Jacob dari balik pintu sembari menerima telepon dari kliennya. Pria itu menjauhkan ponselnya sesaat, "Coba saja, nanti aku akan mengirimkan foto ketika kau tidur dengan memproduksi air liurmu kepada Daniel."


Skak mat!


"Awas saja kau...Aku akan membalasmu." Teriak Bianca murka.