
Hari ini sudah Minggu kedua pasca kecelakaan dan Bianca masih belum sadarkan diri.
Laura baru pulang dari kantornya sore itu, dan menyempatkan diri untuk mengunjungi sahabatnya.
Kedua orangtua Bianca bergantian menjaga putrinya. Ketika Laura tiba, mereka berpamitan untuk pergi makan sebentar dan akan kembali setelahnya.
Laura sama sekali tidak keberatan menjaga Bianca, gadis itu mengambil lap basah dan baskom kecil yang di dalamnya terdapat air hangat. Lalu pelan-pelan ia menyeka bagian tubuh Bianca.
Sesekali Laura berbicara dan bercerita mengenai kegiatannya. Walaupun pada akhirnya ia tampak berbicara sendiri.
Ketiga ia sudah selesai menyeka tubuh Bianca, ia mendengar suara pintu dibuka.
Alicia Cherish Creighton berdiri di ambang pintu dengan sebuket bunga.
Laura tidak terkejut dengan kedatangannya, karena beberapa kali gadis itu menyempatkan diri untuk menjenguk Bianca dan selalu membawa dua jenis buket bunga. Krisan ataupun Aster.
Gadis itu memberi tahunya arti dari setiap buket bunga. Krisan dan Aster adalah bunga yang memiliki simbol sehat dan panjang umur.
Sore itu, Alicia membawa sebuket bunga Krisan yang masih segar.
Alicia menyapa Laura dan menyerahkan buket bunga itu padanya.
Alicia menerima buket bunga itu dan memindahkannya pada vas kaca di sudut ruangan.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Alicia. Ia duduk di sisi ranjang kiri dan kursi Laura di sisi kanan.
"Masih sama seperti sebelumnya," jawab Laura.
"Dia cantik," puji Alicia.
"Hmm, dan pantang menyerah juga," Laura menambahkan.
"Boleh aku memfotonya?" Alicia meminta izin kepada Laura.
"Untuk Daniel?" tanya Laura.
"Hmm, iya jikalau kamu tidak keberatan," Alicia tampak sedikit gugup merespon pertanyaan Laura.
"Hei jangan tegang begitu, foto saja tidak apa-apa, mungkin Daniel penasaran dengan keadaan Bianca," ucap Laura dengan sedikit nada gurau.
Daniel tidak diizinkan sama sekali untuk melihat keadaan Bianca. Pintu ruang kamar Bianca selalu dijaga ketat oleh bodyguard
selama 24 jam.
Philips Terrence selalu berusaha memastikan putrinya harus dalam keadaan baik dan menghindarkan putrinya dari orang-orang jahat.
Bagi Philips Terrence, cinta buta putrinya terhadap Daniel membuat putrinya harus menanggung keadaan seperti ini.
Setiap kali Daniel mencoba memaksa, ia akan diseret paksa keluar ataupun dihajar jika terpaksa menerobos untuk menemui Bianca.
Untuk itu, Alicia berinisiatif membagikan informasi keadaan Bianca kepada Daniel.
Ketika Alicia mengarahkan kamera ponselnya untuk membidik Bianca. Ia melihat sesuatu yang aneh dari layarnya.
Dan ia semakin terkejut ketika memastikan sendiri salah satu jemari Ilana bergerak.
"Laura, Laura coba kau amati jari Bianca," ucap Alicia.
Laura segera beranjak dari tempat duduknya, memutari ranjang untuk melihat salah satu jemari Bianca.
Dan detik-detik selanjutnya mereka menyaksikan kedua mata Bianca terbuka secara perlahan. Sehingga menambah histeria Laura. Gadis itu terharu sampai memeluk Alicia erat.
"Aku di mana?" Itu adalah kalimat pertama yang muncul dari mulut Bianca setelah sadar. Suaranya tampak serak dan lemah.
Laura meminta tolong Alicia untuk memanggil dokter lewat saluran telpon di ruangan itu.
"Kau di rumah sakit Bianca, jangan banyak bergerak dulu ya, dokter akan segera tiba," Laura menyeka air matanya dan sebisa mungkin menampilkan senyumannya. Bianca memandang Laura dengan tatapan bingung.
Dokter Johanes segera datang dengan beberapa perawat.
Ia segera memeriksa keadaan Bianca.
"Aku mau pulang," ucap Bianca lemah.
"Baik, setelah kami memastikan keadaan sehat, Bianca bisa pulang," kata dokter Johanes masih memeriksa beberapa kondisi medis Bianca.
"Siapa Bianca?" tanya Bianca lemah namun masih dapat didengar oleh keseluruhan orang-orang dalam ruangan itu. Bianca merasakan sedikit pusing dan ia merasa kebingungan ketika orang-orang menyebutkan nama Bianca.
Alicia dan Laura saling berpandangan ketika Bianca menanyakan namanya sendiri.
"Di manakah tuan Terrence? aku perlu berbicara kepadanya," tanya dokter Johanes kepada dua gadis dalam ruangan itu.
Laura segera mencari nama orangtua Bianca di ponselnya dan segera menghubunginya. Ia juga mengetikkan pesan singkat kepada Thomas dan juga Jacob perihal kesadaran Bianca.
Setelah beberapa menit kemudian, Tuan Terrence bersama istrinya datang. Ia cukup terkejut melihat putrinya sudah bangun dari masa koma-nya.
Namun, Tuan Terrence terlihat terkejut ketika putrinya yang masih pucat itu menangis meneriakkan kata-kata ingin pulang menemui Daniel.
Dokter Johanes menyuruh salah satu perawat untuk menyuntikkan obat penenang ketika Bianca berusaha bangkit dari ranjang dan dengan tubuh lemahnya ia terus menerus berusaha berteriak memanggil nama Daniel.
Ketika cairan itu berhasil disuntikkan, Bianca tidak berapa lama tertidur.
Dokter Johanes mengajak Tuan Terrence berbicara di ruangannya bersama istrinya.
Namun, nona Liliana tampak terkejut dengan keadaan putrinya memutuskan untuk menemani dan menunggu sampai Bianca sadar kembali.
Dibantu Laura dan Alicia, nyonya Liliana dipapah menuju salah satu sofa.
Jacob datang setelahnya dan ia menggantikan ibunya untuk pergi menemui dokter bersama ayahnya.
***
"Dari pemeriksaan dan tes yang saya berikan kepada Bianca, sepertinya putri anda mengalami cedera otak yang mengakibatkan Bianca mengalami amnesia disosiatif , kecelakaan itu juga membuat Bianca mengalami paralisis karena cedera syaraf," ucapn Dokter Johanes menjelaskan.
"Jadi, adik saya mengalami kondisi lupa ingatan dan kelumpuhan dok?" tanya Jacob mengulang informasi Dokter.
"Dengan berat hati saya sampaikan iya,"
"Apakah kondisi ini permanen?" tanya tuan Terrence. Informasi ini membuatnya terpukul, ia tidak mengira putrinya akan menanggung hal berat seperti ini.
"Bisa ya dan tidak, probibilitasnya tergantung dari stimulan dan kondisi pasien sendiri, dari banyaknya nama yang mampu diingat oleh Bianca hanya Daniel. Mungkin seseorang bernama Daniel itu bisa membantu memulihkan ingatan Bianca," saran dokter Johanes membuat Tuan Terrence berdecak kesal.
"Bocah itu, sudah bikin putri ku menderita masih saja jadi parasit di pikirannya," ucap Tuan Terrence geram. Jacob kembali menenangkan ayahnya.
***