169 Days With Mr. CEO

169 Days With Mr. CEO
25. Bertemu



Ketika efek obat penenang itu sudah hilang, Bianca kembali meraung-raung meminta pulang dan terus memanggil nama Daniel. Ia mendorong siapa saja yang hendak mendekatinya bahkan ketika ia berusaha sekuat tenaga bangun dari ranjang para perawat yang hendak membantunya juga mendapatkan teriakan.


Selang infus nya sudah dilepaskan secara paksa oleh Bianca.


Kedua orangtua Bianca, Laura, Alicia bahkan Thomas dan Jacob tidak bisa menenangkan Bianca. Ia terus menerus melarang orang-orang di dalam ruangan itu untuk menyentuhnya.


Gadis itu sama sekali tidak mengenal mereka.


Ibunya sudah menangisi tingkah putrinya sedari tadi.


Bianca menyibakkan selimutnya, ia merasakan kedua kakinya sangat kaku. Ketika ia berusaha turun dari ranjangnya Ia jatuh tersungkur.


Semua orang berteriak panik, ketika Jacob hendak menghampiri adiknya. Langkahnya tiba-tiba saja berhenti.


Bianca melihat sepasang sepatu hitam mengkilat di depan wajahnya.


Ia mendongak untuk mengetahui siapa pemilik sepatu itu.


"Daniel!!" pekik Bianca riang.


Daniel hari ini memakai setelan jas, ketika ia dalam perjalanan menuju kantor ia mendapat panggilan dari Alicia. Pria itu terkejut ketika, Jacob meneleponnya melalui ponsel milik Alicia.


Setelah sambungan telepon terputus, Daniel segera memutar arah mobilnya dan menuju rumah sakit.


Dua bodyguard di depan lobi diam tak bergeming saat ia berjalan menuju kamar Bianca.


Ketika ia pertama kali memasuki ruangan Bianca, ia mendapati gadis itu jatuh tersungkur. Pria itu berjongkok untuk menyeimbangkan tinggi badan mereka.


Bianca begitu gembira melihat Daniel di hadapannya. Saat ia hendak memeluk pria itu, ia merasakan pusing yang amat sangat, telinganya terasa berdenging.


Karena tidak bisa menahan rasa sakit yang luar biasa di kepalanya, Bianca pingsan dan langsung didekap oleh Daniel.


Gadis itu tidak sadarkan diri di pelukan Daniel, pria itu melihat ada darah segar keluar dari hidung Bianca.


Seisi ruangan panik dan hendak membantu Bianca yang tidak sadarkan diri, namun Daniel dengan mudah mengangkat gadis itu ke ranjang pasien.


Para perawat segera memasang ventilator dan memencet tombol untuk memanggil dokter.


Salah satu dari perawat itu menyuruh semua orang dalam ruangan itu untuk menunggu di luar demi kelancaran pemeriksaan.


Ketika mereka bergantian ke luar ruangan dokter Johanes memasuki kamar pasien dan segera bergabung dengan perawat lain untuk memeriksa keadaan Bianca.


**


"Putriku mengalami cedera cukup parah di otaknya sehingga dia mengalami amnesia dan kelumpuhan. Dan aku begitu marah ketika mendapati fakta bahwa itu semua karena menyelamatkan pria yang membuatnya terobsesi. Fakta lain yang tidak bisa aku terima, dari sekian banyak orang hanya namamu yang dapat diingat oleh putriku," jelas Tuan Terrence kepada Daniel.


"Saya tahu minta maaf pun tidak akan sebanding dengan apa yang sudah terjadi sekarang. Ini semua murni kesalahan saya, dan saya siap menerima konsekuensi apapun yang akan anda berikan pada saya," balas Daniel.


"Aku ingin menjauhkan mu dari putriku namun aku tidak bisa karena dokter pun mengatakan bahwa mungkin hanya kau yang dapat mengembalikan kondisi tubuh Bianca,"


"..." Daniel terdiam dan mengambil sikap untuk menjadi pendengar untuk segala hal yang akan dikatakan ayah Bianca kepadanya.


"Aku ingin menghajar dan menghancurkan mu namun aku tahu aku hanya akan membuat putri ku menderita karenanya. Yang dapat aku lakukan saat ini adalah memaafkan mu dan menerima musibah ini dengan lapang,"


"..."


"Aku merasa gagal menjadi seorang ayah karena tidak bisa melindungi putriku sendiri, bahkan aku ragu dia dapat menghadapi masa depan dengan rasa percaya diri seperti sebelumnya, mengingat kondisi tubuhnya sekarang,"


"..."


"Aku akan mencari cara agar Bianca sembuh, aku akan mengirimnya untuk melakukan pengobatan di luar negeri,"


"..."


Tiba-tiba salah seorang perawat memanggil Tuan Terrence untuk bertemu dengan dokter Johanes.


Ketika Tuan Terrence beranjak dari tempat duduknya dan segera berbalik pergi meninggalkan Daniel seorang diri tiba-tiba terhenti.


"Saya akan bertanggungjawab untuk menikahi putri anda," ucap Daniel berjanji.


Tuan Terrence terkejut mendengar kalimat Daniel.


"Emm?" Bianca terbangun dari ketidaksadaran nya.


Daniel yang sedari tadi melamun memikirkan perkataannya dengan Tuan Terrence tadi sedikit terkejut ketika Bianca terbangun.


Maka dengan berat hati kedua orangtua Bianca menunggu di lobi sedangkan yang lainnya berpamitan pulang. Jacob mengantarkan Laura pulang sedangkan Thomas memiliki kesempatan untuk mengantarkan Alicia pulang.


Tuan Terrence mempercayakan putrinya kepada Daniel dengan ancaman jika terjadi sesuatu yang lebih buruk dari ini, ia tidak akan segan membunuh Daniel dengan tangannya sendiri.


"Apa ada yang sakit?" tanya Daniel.


Bianca tersenyum dan menggelengkan kepala.


Pria itu menahan Bianca untuk tidak banyak bergerak dari posisinya sekarang.


"Aku haus," ucap Bianca kemudian.


"Kau berbaring saja, dokter mengatakan supaya jangan terlalu banyak bergerak dulu karena tubuh mu masih lemah,"


Seperti anak ayam yang bertemu induknya, Bianca tampak tenang dan menurut pada setiap perkataan Daniel.


Daniel mengambil bungkusan obat di atas nakas lalu mengambil segelas air di sisi nakas. Ia membuka bungkus sedotan yang baru lalu membantu gadis itu untuk meminum air dan obat gadis itu sesuai perintah dokter ketika Bianca kembali bangun dari pingsannya.


Bianca menerima suapan obat itu dan segera meneguk air melalui sedotan yang dibantu oleh Daniel.


"Mengapa aku di sini?" tanya Bianca setelahnya dengan raut wajah penuh kebingungan.


"Kau mengalami kecelakaan karena menyelamatkan aku," jawab Daniel terbuka tanpa menutupinya.


"Benarkah? aku tidak ingat. Aku pikir karena aku terjatuh di air cukup lama lalu kau menyelamatkan aku," Daniel merasa sangat bersalah ketika gadis itu sama sekali tidak mengingat kejadian sebelumnya. Dan Bianca mengira keadaannya sekarang terjadi karena kecerobohannya jatuh di air. Padahal itu peristiwa yang cukup lama sekali ketika ia pertama kali bertemu dengan Bianca.


"Tidak apa-apa, pelan-pelan kau akan mengingat semuanya," hibur Daniel.


"Niel?" Daniel sedikit terkejut ketika Bianca memanggil namanya dengan cara yang sama seperti sebelumnya, seperti panggilan ibunya kepadanya.


"Aku punya banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan," Bianca sedang memandangi langit-langit rumah sakit.


"Katakan saja,"


"Selain Bianca siapa nama panjang ku?" Bianca sering mendengar orang-orang memanggilnya dengan nama Bianca, tapi ia tidak tahu siapa nama panjangnya. Dan itu membuatnya penasaran.


"Nama panjang mu, Bianca Maureen Terrence," jawab Daniel hafal dengan baik nama gadis itu.


"Siapa orang-orang yang sempat datang tadi? bisakah kau memberitahu nama mereka?"Bianca merasa bingung ketika banyak orang-orang mencoba berinteraksi dengannya. Tapi ia sama sekali tidak mengingat siapa mereka di hidupnya.


"Dua orang yang lebih tua dari antara yang lain adalah orangtua mu, Mr. Philips dan Mrs. Liliana namanya, pria yang memiliki tinggi badan seukuran ku adalah kakakmu, namanya Jacob, sedangkan pria yang satunya yang memakai kaos Naruto adalah Thomas teman mu, yang perempuan berambut panjang dan memakai rok panjang namanya Alicia dia temanku, dan perempuan yang berambut sebahu adalah Laura, sahabatmu," Jelas Daniel panjang lebar.


Jika di situasi normal, ucapan Daniel yang lembut dan menjawab pertanyaan dengan panjang lebar merupakan kondisi yang jarang bahkan langka, apalagi jika lawan bicaranya Bianca. Sangat mustahil bagi Daniel mau menjawabnya.


Namun sekarang pria itu merasa berhutang budi dan merasa bersalah atas apa yang menimpa Bianca karena dirinya, untuk itu ia berusaha melakukan hal terbaik yang ia bisa untuk gadis itu.


"Emm, Niel apa aku cacat? kenapa kakiku sulit untuk digerakkan?" Bianca bertanya dengan suara lirih. Daniel merasa tertampar dengan pertanyaan itu, ia mengira gadis itu akan menangis namun ekspresinya terlihat biasa saja.


"Kau akan segera sembuh," Daniel tidak menjawab secara gamblang, namun Bianca tahu dengan pasti bahwa pertanyaan dan respon dari Daniel sudah memberikan jawaban bagi gadis itu.


"..."


"Apa kau merasa sakit lagi?" tanya Daniel khawatir. Karena Bianca tampak diam melihat langit-langit kamar.


"Jika aku seperti ini aku sama sekali tidak menyesal," Bianca memberikan jeda pada perkataannya.


Daniel mendengarkan ucapan gadis itu dengan seksama.


"Kalau orang yang aku selamatkan adalah dirimu itu menjadi sebanding," imbuh Bianca kemudian.


Hari itu Daniel merasa hatinya tersentuh dengan penuturan gadis itu.


Jika Bianca mendapatkan kembali ingatan masa lalunya dan mengingat kembali bagaimana perlakuan Daniel kepada gadis itu.


Akan kah Bianca tetap mengatakan hal yang serupa?


Pada akhirnya Daniel hanya mengucapkan dua kata yang tidak pernah terkatakan sebelumnya.


"Aku minta maaf, terimakasih sudah menyelamatkanku Bianca,"


Bianca tersenyum dan mengangguk lemah. Kinerja obat itu kembali bereaksi.


Ia merasakan kantuk hebat dan tanpa bisa mencegahnya gadis itu tertidur kembali.