
Kapal pesiar Silver Whisper buatan negara Italia tampak megah berlayar di tengah-tengah air laut yang berwarna pekat karena malam. Ini adalah rute perjalanan hari ke lima menuju Singapura–Surabaya.
Kapal yang mampu mengangkut lebih dari 500 orang termasuk awak kapal ini berisi orang-orang yang bukan dari kalangan orang-orang biasa. Mereka terdiri dari para kolega bisnis, artis anggota dewan bahkan anggota komisaris juga turut hadir dalam acara persemian dan keberhasilan pembangunan infrastruktur jembatan di tengah laut Singapura dibawah naungan PT. Terrence Group.
Melalui pesta yang diselenggarakan oleh Terrence Group ini diharapkan akan semakin memperkuat kerjasama bilateral antar kedua negara.
Pesta hari ini berlangsung sangat meriah, lewat audio speaker Kapten Vincent memberikan pengumuman bahwa kemungkinan besok pagi mereka akan segera tiba di pelabuhan Surabaya. Semua begitu antusias mendengar berita tersebut dan mengangkat gelas anggurnya lebih tinggi sebelum akhirnya meneguknya dan kembali larut dalam musik untuk berpesta.
Bianca Maureen Terrence memilih untuk keluar meninggalkan hiruk pikuk keramaian pesta di dalam kapal. Putri dari keluarga Terrence itu dongkol setengah mati.
Sedikit terhuyung karena menginjak ekor gaunnya, ia kemudian berpegangan pada pembatas kapal di sampingnya, lalu meminum anggur langsung dari botolnya.
"Astaga Bi, kau disini rupanya." Thomas Fodao setengah berteriak ketika melihat gadis dengan gaun potongan off shoulder dress merah panjang, berdiri sempoyongan di pinggiran pembatas kapal.
"Dimana lagi memangnya. Kau suruh aku menikmati pesta dan satu ruangan dengan si lintah brengsek itu," Sahut Bianca kesal lalu kembali meneguk anggur di botolnya lagi. Thomas Fodao menggelengkan kepalanya ketika melihat sahabatnya tiba-tiba menjadi orang yang setengah waras karena dikhianati.
"Orangtua mu dan kakak mu sudah mencari mu kesana kemari untuk mencarikan putrinya seorang pangeran kau malah mabuk-mabukan disini." Ucap Thomas bergurau.
"...." Bianca diam tidak menanggapi.
"Kau masih memikirkan bocah brengsek itu?" Thomas Fodao hendak mengambil botol anggur di tangan gadis itu, belum sempat ia mendapatkan Bianca sudah mendelik tak suka dan membawa botol anggur itu dalam dekapannya.
Thomas Fodao menghela nafas. "Kau dan aku juga mendengar dan melihat sendiri, Antony Santos bermain di belakang mu dan berkata didepan selingkuhannya dia memacari mu hanya karena harta." Bianca kembali mengingat peristiwa dua hari lalu saat ia dan Thomas menangkap basah perselingkuhan Antony di salah satu bilik kapal bersama seorang putri dari kolega ayahnya. Lebih mengejutkan lagi pria itu memberikan kepastian kepada gadis itu setelah mencumbunya, bahwa ia akan meninggalkan Bianca setelah mendapatkan seluruh kekayaan keluarga Terrence.
Bianca sangat menyesali keputusannya mengajak mantan kekasihnya ke acara keluarganya semacam ini.
Rasa cintanya kepada Antony Santos berubah menjadi kebencian.
Bahkan meskipun ia muak karena bertemu dengan pria itu hampir di setiap acara dan di setiap sudut ruangan ia tidak bisa lari kemana-mana. Well—dia tidak akan bertindak bodoh dengan menerjunkan dirinya sendiri di lautan lepas agar tidak bertemu dengan Antony. Lagipula ia adalah seorang aquaphobia, berenang menjadi kelemahannya.
"hikss..hikss...huaaaa aku harus bagaimana Tomii... mengingatnya membuatku kesal setengah mati. Pada-hal padahal aku sudah sangat tulus dengannya." Bianca tidak dapat lagi membendung rasa kesalnya, ia menangis sambil terus meminum anggurnya.
Thomas kembali menghela nafas, perasaan seperti ini terasa tidak asing lagi baginya. Ini bukan pertama kali sahabatnya menangis karena di selingkuhi, sudah sejak SMA mereka bersama Bianca akan selalu menemuinya atau dia yang akan menemukan gadis itu menjadi kacau karena seorang pria. Alasannya pun tidak jauh-jauh hanya karena harta.
"hiks..hikss... iya iya aku tau aku bodoh, tapi kau kan tahu kelemahan ku adalah pria yang tampan kalau mereka suka padaku dan aku suka padanya tentu saja aku tidak bisa menolaknya." Di sela-sela tangisannya Bianca mencoba menjelaskan kekurangan nya.
"yeahhh and you got it." Thomas Fodao memutar matanya malas. Bianca Maureen yang terkenal sebagai siswi cerdas dan kaya ternyata juga tidak pandai dalam memilih seorang pria.
Bianca tidak pernah bersusah payah untuk mendapatkan cinta dan pujian. Ia bahkan tidak perlu repot-repot mengejar pria tampan.
Semua pria dari berbagai kalangan akan setuju untuk mengejar gadis itu, kecuali Thomas.
Bagi Thomas Fodao, Bianca seperti gula-gula manis yang mengundang banyak semut untuk datang berebut membawanya ke dalam sarang.
Dan yang membuat Bianca bersinar dari antara para gadis adalah ia berasal dari putri keluarga Terrence.
"Mister Thomas, can you here? We need you to take picture" Tiba-tiba seorang tamu melambaikan tangan kearah mereka.
"Sepertinya aku harus membereskan pekerjaan ku, tiket kapal seharga 1000 dolar Singapura per malam dan gaji sebanyak 700 USD per hari yang aku terima, aku harus membayar dengan profesionalitas ku bukan?" Thomas Fodao tersenyum jenaka. Ia sedikit geli ketika menyebutkan harga tiket masuk kapal pesiar ini setara dengan gajinya selama setahun. Upah yang akan ia terima sebagai fotografer profesional juga terbilang sangat fantastis.
'Terimakasih kepada Tuhan dan doa ibu yang manjur, berkatnya aku bisa di tengah-tengah kehidupan orang kaya'
"Aku pergi dulu ya Bi, nanti ku telfon lagi." Thomas hendak pergi, sebelum niatnya kembali ia urungkan "Oh iya jangan berpikir untuk terjun ke air, kasihan gaun mu yang mahal itu." Bianca menyipitkan mata menatap sahabatnya itu.
"Hehehe bercanda. Ok see you, Bi" mengabaikan ocehan Bianca, Thomas Fodao beranjak meninggalkan tempat itu.
Bianca dapat mendengar ucapan pria dengan kemeja putih serta dasi kupu-kupu itu mengatakan dari kejauhan "sudah Bi, jangan pikirkan pria itu lagi, jangan minum-minum lagi"
Bianca tertawa ketika melihat Thomas terbentur kusen pintu masuk ketika berjalan mundur. Pria itu tersenyum sambil mengusap lengannya dan mengacungkan ibu jarinya ke arahnya.
"Tidak buruk juga mempunyai sahabat seperti Thomas." Bianca tersenyum sembari meneguk botol anggurnya.
Angin lautan menerpa wajahnya. Cuaca hari ini cukup baik, Bianca dapat melihat langit yang di penuhi dengan bintang-bintang.
"Seandainya saja ada pria tampan yang membuat ku benar-benar mencintainya dan tidak melihat kekayaan keluargaku, aku pasti akan mengejarnya." Ucap Bianca lirih.