169 Days With Mr. CEO

169 Days With Mr. CEO
17. Teror!!



"Jadi, kau pergi selama tiga hari tanpa memberitahu siapapun termasuk orangtua-mu?" Pekik Laura terkejut tidak habis pikir dengan tingkah sahabatnya.


Pagi itu, Laura memaksa mereka untuk bertemu di kafetaria yang ia pilih untuk menuntut kejelasan cerita Bianca. Memang gadis itu sudah lebih dahulu menceritakan kemana dan apa saja yang ia lakukan selama ia berpergian lewat telepon semalam. Namun Laura merasa bahwa ia harus memastikan Bianca berbohong atau tidak.


"Iyaa begitulah, habis di sana tidak ada sinyal jadi susah untuk menghubungi lebih dahulu." Ucap Bianca tersenyum sambil menggaruk tengkuknya.


"Astaga, demi Daniel kau rela diam di bagasi. Untung Daniel tidak melaporkanmu ke polisi karena sudah mengusiknya." Bianca mengabaikan omelan Laura. Gadis itu lebih sibuk menikmati toast miliknya.


"Poni baru mu juga untuk menutupi luka yang kau dapat kemarin?" Tanya Laura ketika meneliti model rambut baru Bianca.


"Iya, mau bagaimana lagi. Aku pergi tiga hari saja paspor dan mobilku disita. Kalau orangtua ku tau putrinya terluka mungkin kartu ATM ku juga turut disita. Bahkan mungkin aku akan menjadi tahanan rumah." Jawab Bianca mengunyah toast-nya.


Semalam ketika ia tiba di rumah orangtua beserta kakak laki-lakinya sudah menunggu di ruang tamu. Sebetulnya Bianca sudah tiba sejak sore hari, namun ia meminta Daniel setelah menurunkan Alicia, untuk tidak mengantarkannya langsung ke rumah melainkan ke Mall untuk mampir ke salon.


Seperti biasa Daniel hanya diam dan bersikap


tidak peduli, ia segera melajukan mobilnya dan mengantarkan Bianca ke tempat yang ia mau.


Setelah menggoda Daniel untuk menemani nya yang tentu saja tidak digubris oleh pria itu. Bianca segera memasuki pusat perbelanjaan ketika mobil Daniel sudah lebih dahulu meninggalkannya.


Bianca bergegas memasuki lift untuk menuju salon langganannya.


Sesampainya di salon, ia meminta rambut depannya dipotong untuk menutupi area lukanya. Setelah dari salon, ia tidak langsung pulang namun mampir terlebih dahulu ke food court karena lapar.


Sepulang dari Mall, kakak laki-lakinya menyuruhnya untuk duduk dan menanyainya selama lima belas menit. Lalu papanya memarahinya dan mulai menceramahinya dengan banyak hal. Sebelum sampai di rumah, Bianca telah lebih dahulu membuang kapas dan plester yang menempel di pelipisnya.


Satu jam lamanya dia mendengarkan kakak serta orangtuanya berbicara.


"Lain kali kau jangan nekat. Tante Liliana menghubungi ku terus-menerus karena tidak mempercayaiku. Beliau berpikir aku enggan memberitahu dimana keberadaan mu. Kau ini selalu membuat masalah saja." Omel Laura.


"Iya-iya, Laura adalah temanku yang terbaik." Potong Bianca cepat ketika Laura hendak mengomelinya kembali.


"Hello everybody." Thomas tiba-tiba datang lalu mencomot toast dari piring Bianca kemudian mengambil duduk di samping Laura.


"Hei itu toast milikku." Protes Bianca kesal.


"Sewikit sahya, pwelit sekali." Sahut Thomas dengan mulut penuh makanan. Thomas mengambil teh milik Laura lalu meminumnya.


"Hah~ kapan aku punya teman-teman yang waras." Keluh Laura melihat kelakuan dua sahabatnya.


"Keluarga mu tidak berencana membuat pesta untuk merayakan kepulangan mu bi?" Tanya Thomas terkikik geli.


"Tidak." Jawab Bianca singkat sambil mengunyah toast-nya.


"Papamu sudah menyewa polisi swasta komplit dengan anjing pelacaknya kupikir kepulangan putrinya dari antah-berantah akan di rayakan dengan pesta besar-besaran." Ucap Thomas tertawa. Bianca memutar matanya malas.


"Eh iya, Lau besok kau ada acara tidak? temani aku pergi ke acara Cherry ku ya." Pinta Thomas menaikkan kedua alisnya bersamaan.


"Yahhh, masa aku harus pergi sendirian? padahal aku dapat dua tiket untuk pergi ke acara itu." Keluh Thomas kecewa.


"Emm, bagaimana kalau kau ajak Bianca saja?" Tawar Laura bersemangat.


"Ha? apa-apa? ajak kemana?" Tanya Bianca bingung.


"Ke acara gebetannya Thomas." Balas Laura.


"Kau ikut temani aku ya Bi? acaranya pukul enam sore."


"Iya deh." Putus Bianca.


"Perfect. Nanti kau pakai pakaian semi formal ya, jam setengah enam aku akan menjemputmu." Ucap Thomas ceria.


"Oke." Balas Bianca singkat. Gadis itu tengah menatapnya layar ponselnya yang menyala dan mengeluarkan suara 'ting' pertanda sebuah pesan masuk.


Bianca melihat notifikasi pada layar ponselnya.


Sebuah nomor asing mengirimkan pesan.


'KAU LIHAT SAJA! ORANG YANG KAU CINTAI AKAN MATI!!'


Tubuh Bianca menegang, ketika membaca pesan itu.


"Ada apa Bi?" Tanya Laura ketika melihat raut wajah Bianca berubah.


Bianca menyerahkan ponsel dengan casing bergambar hamburger kepada Laura.


"Astaga jahat sekali. Siapa orang gila yang mengirimkan hal seperti ini?" Tanya Laura tidak percaya.


"Aku sudah dua kali mendapatkan pesan seperti ini, aku kira orang salah kirim tapi ternyata tidak." Gumam Bianca sedikit terguncang. Thomas yang merasa kesal dengan pengirim jahil segera menghubungi nomor itu. Namun dia hanya mendapatkan balasan dari operator bahwa nomor itu di luar jangkauan dan tidak dapat dihubungi.


"Sudah tenang Bi, aku akan meminta bantuan teman ku yang jago IT untuk melacak siapa pengirim pesan ini." Ucap Thomas mencoba menenangkan. Thomas segera mengetikkan pesan di ponselnya dan menyalin deretan nomor misterius dari ponsel Bianca untuk di kirim kan kepada temannya.


Jauh dalam pikirannya, Bianca mencoba menerka-nerka siapa yang memungkinkan untuk mengiriminya pesan ancaman.


Namun ia tidak yakin dengan orang-orang yang ia sebutkan dalam benaknya.


'Siapa yang menerorku? Dia mau mencelakai siapa?' Bianca bertanya-tanya dalam hati.


_


Hai-hai terimakasih sudah mengikuti perjalanan kisah cinta Bianca. Jangan lupa dukung author dengan memberikan komen, like, ataupun gift ke karya author agar lebih semangat. Terimakasih sudah membaca 😍


Hayo siapa ya pengirim pesan misterius ini?🤔🤔