169 Days With Mr. CEO

169 Days With Mr. CEO
10. Kemistri



Salah satu kelemahan Bianca adalah ia mudah mengantuk ketika melakukan perjalanan.


Sepanjang perjalanan Bianca Maureen menahan rasa kantuknya. Dua puluh menit pertama perjalanan mereka, Bianca tidak pernah berhenti mengoceh: bercerita ini-itu, mengomentari apa saja yang ia ketemukan di jalan.


Namun ocehannya sama sekali tidak mendapatkan atensi dari Daniel. Hanya Alicia yang sesekali menanggapi ocehan gadis itu.


'Alicia gadis yang baik dan ramah tapi aku tidak akan mundur.' Batin Bianca.


Hening.


Daniel melirik melalui kaca mobilnya. Gadis menyebalkan itu beberapa kali menguap dan menepuk-nepuk pipinya.


Daniel tidak mengerti untuk apa gadis itu berbuat demikian.


Bukan tanpa sebab Bianca melakukan hal demikian. Ia harus tetap terjaga untuk menjaga dan mencegah Daniel dan Alicia melakukan hal-hal yang membuat hubungan mereka semakin dekat.


Contohnya seperti adegan ciuman di depan rumah Alicia yang sempat ia gagalkan tadi.


Bianca berpikir tidak adil jika perempuan selain dirinya mencium bibir Daniel sedangkan dirinya saja belum pernah sama sekali mendapatkan kesempatan dicium atau mencium bibir pria itu.


"Aku menyalakan musik boleh?" Tanya Alicia di tengah perjalanan mereka.


"Ya, tentu saja." Jawab Daniel memperbolehkan gadis itu.


'Dengan Alicia saja lunak, jika aku yang mengatakan hal serupa Daniel sudah lebih dahulu melarang dan memarahi ku.' Sungut Bianca dalam hati.


Alicia menyalakan tombol on, nada lagu lamat-lamat terdengar dari speaker.


"Ah Bruno Mars." Pekik Alicia berbinar ketika playlist lagu itu memutar salah satu penyanyi favoritnya. Alicia mengeraskan volume lagu itu.


Untuk pertama kalinya Bianca melihat dan mendengar Daniel Alvarez Tyee begitu santai menyanyikan beberapa bait dari lirik lagu Just The Way You Are milik Bruno Mars, tidak cukup keras tetapi suara pria itu masih bisa tertangkap dengan jernih di telinganya.


Alicia juga turut menyanyikan lirik lagu itu.


When I see your face


There's not a thing that I would change


'Cause you're amazing


Just the way you are


Alicia sesekali menatap pria di sampingnya ketika menyanyikan part reffrein lagu milik Bruno Mars.


Bianca tahu apa arti tatapan Alicia untuk Daniel. Tatapan kekaguman, cinta dan perasaan mendalam kepada seorang pria. Karena bukan hanya Alicia saja yang terpesona dengan ketampanan dan kepiawaian pria itu ketika bernyanyi melainkan, dia yang mungkin juga sangat tergila-gila dengan Daniel.


Dari tempat duduknya, Bianca mengamati Daniel kemudian beralih kepada Alicia. Ia dapat melihat kemistri dari keduanya, seperti layaknya sepasang kekasih.


Dan dirinya seperti seorang asing yang tidak sengaja menumpang untuk berpergian.


Memilih mengabaikan dan membiarkan hal romantis itu terjadi di antara keduanya, Bianca menoleh mengamati pemandangan yang melintas dari balik kaca mobil.


Bianca kecewa dan begitu menyesali ketika ia tidak mendaftarkan diri untuk ikut les vokal untuk melatih diri, minimal pita suaranya tidak terdengar sumbang ketika ia bernyanyi. Dengan begitu ia dapat bergabung untuk bernyanyi dan mungkin saja ia bisa mengajak Daniel untuk berkaraoke setiap hari agar bisa mendengar suara pria itu.


Meratapi nasibnya, Bianca menyenderkan kepalanya pada permukaan kaca mobil dan menghela nafas pelan.


****


"Bangun." Perintah Daniel datar menatap gadis yang masih tertidur di kursi penumpang. Saat ini mobil miliknya telah terparkir di halaman yang cukup luas dan asri. Alicia sudah turun sedari tadi untuk Alicia sudah lebih dahulu turun untuk pergi ke kamar mandi.


Bianca mengalami mimpi yang sangat indah. Daniel menggenggam tangannya dan mereka berjalan di padang bunga saling bertatapan mesra.


Dalam mimpinya yang seolah nyata, pria yang begitu dingin dan ketus terhadapnya memanggil namanya dengan lembut.


Tidak ada pilihan lain bagi Daniel, ketika pria itu melajukan mobilnya cukup kencang memutari halaman yang cukup luas itu dan menginjak pedal rem keras-keras hingga membuat pelipis Bianca terbentur ke arah depan.


"Apa-Apa?" ucap Bianca terkejut karena kesadaran yang belum stabil.


"Turun." Perintah Daniel tanpa merasa bersalah sama sekali.


Bianca mengedarkan pandangannya dari balik kaca mobil. Waktu berjalan begitu cepat dan mereka sudah sampai di tempat yang mereka tuju. Bianca tidak menyadari ia sempat terlelap di kursinya.


"Aku tadi bermimpi indah, aku mau melanjutkan mimpi ku dulu." Sahut Bianca santai, gadis itu kembali menata tempat duduknya untuk tidur dan menyenderkan kepalanya ke samping kaca.


'Jarang-jarang aku dapat bermimpi Daniel menjadi lembut padaku.'


Daniel kehabisan kesabaran menghadapi gadis itu. Ia segera turun dari kursi kemudinya, dan membuka paksa bagian pintu penumpang hingga membuat gadis itu nyaris tersungkur.


"Kenapa kau jahat sekali? dalam mimpiku tadi kau begitu lembut, sekarang sikapmu sama sekali tidak bersahabat." Keluh Bianca mengusap keningnya.


"Turun atau aku akan mengunci mu di dalam sini." Ucap Daniel mengabaikan keluhan gadis itu.


"Omong-omong terimakasih ya sudah repot-repot membukakan pintu untuk ku." Ucap Bianca tersenyum merasa tersanjung dengan perlakuan pria di hadapannya.


Mendengar hal itu, Daniel segera menutup pintu mobil itu dan meninggalkan gadis menyebalkan itu sendirian.


"Niel...tunggu aku." Teriak Bianca dengan tergesa-gesa melepaskan seat belt-nya lalu mengejar Daniel yang semakin jauh dan memasuki sebuah rumah yang kesemua bangunannya di desain dari batu bata merah.


Bianca merasakan hawa dingin menerpa tubuhnya begitu ia keluar dari mobil. Ia dapat melihat di sisinya terdapat beberapa tanaman bonsai dan sekelilingnya penuh dengan tumbuhan teh.


***


"Ini siapa?" tanya Bibi Ye setelah memeluk Daniel. Wanita setengah baya dengan rambut yang sudah putih itu terheran-heran dengan keberadaan seorang gadis yang sepertinya tampak mengekor kepada Daniel.


Bianca menggeser sedikit tubuhnya dari balik Daniel.


"Halo bibi, saya Bianca." Bianca tersenyum memperkenalkan dirinya. Bianca melihat Alicia tengah duduk di atas karpet bersama beberapa anak-anak terlihat begitu akrab.


"Wah, pasti kekasihnya Daniel ya?" tebak Bibi Ye karena setaunya Daniel tidak pernah mengajak siapapun datang mengunjunginya kecuali Alicia. Bianca yang mendengarkan perkataan bibi Ye merasa tersipu.


Mendengar ucapan bibi Ye, sesaat Alicia terdiam seorang anak laki-laki menghampirinya dan bertanya kepadanya, Alicia tersadar lalu kembali melanjutkan aktivitasnya mengajar anak-anak disana.


"Bukan dan tidak akan pernah!" Tolak Daniel keras. Bianca meringis berusaha mempertahankan senyumannya.


"Ha? oh baiklah maafkan bibi salah. Ayo kalian duduk di sofa, bibi akan menyiapkan beberapa kukis sambil menunggu paman Ben pulang dari kebun." Bibi Ye merapikan bantalan sofa dan mempersilahkan tamunya untuk duduk.


Sementara bibi Ye mempersiapkan sesuatu di dapur, Bianca duduk pada salah satu sofa berwarna coklat di ruangan itu seorang diri.


Daniel lebih memilih duduk bersama Alicia berinteraksi dengan beberapa anak-anak.


Bianca mengamati keduanya dan bagaimana cara Daniel serta Alicia saling berinteraksi dengan anak-anak.


Lagi-lagi Bianca melihat sisi lain dari Daniel ketika pria itu bersama dengan Alicia.


Daniel yang dingin, cuek, dan ketus ketika bersamanya menjadi pria yang lembut dan romantis ketika bersama Alicia. Bahkan saat ini Daniel sedang tertawa karena sikap polos seorang anak dan mengusap kepala anak itu dengan sayang.


Bianca merasa melihat sebuah keluarga harmonis dan dia sebagai orang ketiga dalam hubungan itu.


'Apakah memang tidak ada tempat untuknya sama sekali di hati pria itu? '