169 Days With Mr. CEO

169 Days With Mr. CEO
26.Mengembalikan Ingatan



Setelah melalui negosiasi cukup alot, Bianca bersedia pulang ke rumah orangtuanya. Melalui berbagai pertimbangan, Dokter mengizinkan Bianca pulang dengan catatan dalam masa pengobatan rawat jalan.


Awalnya Bianca menolak untuk pergi bersama orangtuanya, karena ia merasa orang-orang di sekitarnya asing, kecuali Daniel. Gadis itu bersikukuh ingin pulang bersama Daniel.


Di bawah tekanan Tuan Terrence, Daniel memberikan pengertian kepada Bianca untuk pulang bersama kedua orangtuanya. Pria itu berjanji akan selalu menyempatkan diri untuk bertandang ke rumah Bianca. Gadis itu akhirnya setuju untuk pulang kerumahnya.


Bianca duduk di kursi roda, sedangkan Jacob membantu mendorong kursi adiknya memasuki rumah mereka. Kedua orangtua mereka baru saja pergi karena harus menghadiri acara amal tahunan.


Seperti baru pertama kali melihat keadaan rumahnya, Bianca merasa kagum sekaligus merasa familiar di saat yang sama.


Di bantu oleh beberapa pelayan dan suster barunya, Bianca di antar menuju kamarnya.


Bianca tersentak lalu menyilangkan kedua tangannya di dada, ketika kakaknya Jacob hendak menggendong adiknya untuk membaringkannya di kasur.


"Jangan aneh-aneh, aku kakak mu," Jacob menyentil kening Bianca, membuat gadis itu mengadu kesakitan.


"Kakak macam apa yang melakukan kekerasan seperti ini," protes Bianca. ia akhirnya membiarkan kakaknya untuk menggendongnya ke ranjang dalam posisi duduk.


"Jika kau perlu sesuatu kau bisa bilang kepada suster Nana untuk membantumu, aku akan berangkat kerja dulu," ucap Jacob sebelum meninggalkan adiknya bersama susternya.


"Tunggu!"


Jacob menghentikan langkahnya di ambang pintu, ketika Bianca memanggilnya.


"Te-terimakasih," ucap Bianca.


"Hm, sama-sama," Jacob membalasnya dengan senyum. Dalam banyak hal ia bersyukur adiknya bisa melewati masa kritisnya.


Ketika Jacob sudah pergi, suster Nana memberinya beberapa butir obat untuk diminum. Suster Nana juga mengecek seluruh kondisinya dan bertanya apa ada keluhan lain yang ia rasakan. Bianca menggelengkan kepala untuk memberikan jawaban.


Suster Nana merapikan bantalnya dan menyarankan Bianca untuk beristirahat. Sementara suster Nani duduk di sofa menulis beberapa catatan medis ke dalam jurnalnya.


Ketika ia sudah mendapatkan posisi nyaman untuk berbaring, Bianca melihat tas rajut yang sempat diletakkan oleh suster Nani di samping ranjangnya.


Bianca mulai mengambil tasnya, ia melihat keseluruhan isi tas dan menemukan ponselnya yang retak di beberapa sisi namun masih berfungsi. Ia mulai mengusap layar smartphone nya dan tersenyum tatkala melihat wallpaper ponsel miliknya adalah wajah Daniel.


Bianca memulai dengan membuka galeri fotonya, di sana ia menemukan banyak foto-foto Daniel yang diambil dari berbagai sisi. Dalam dua foto yang ia temukan, Bianca merasa tertarik ketika melihat Daniel menatap lekat ke arah seorang perempuan. Dalam frame itu terdapat foto anak-anak yang sedang bermain di air sungai.


Karena penasaran, Bianca mulai menzoom bagian gambar itu. Dan ia bisa melihat tatapan berbeda dari Daniel untuk perempuan itu.


Bianca merasa tidak asing dengan perempuan di foto itu, dan ia berusaha berpikir keras siapa perempuan di dalam foto itu.


Sejurus kemudian Bianca mendapatkan ingatannya, perempuan itu bersamanya ketika ia baru pertama kali sadar dari koma. Bianca mengakui perempuan itu cantik. Namun ia tidak tahu siapa nama perempuan itu.


"Apakah dia adiknya Daniel?" gumam Bianca tampak berpikir.


Merasa tidak menemukan jawaban atas rasa kebingungannya, Bianca memilih melihat pesan teks nya.


Pesan kepada Daniel menempati posisi teratas. Di belakang nama pria itu terdapat lima emoticon love yang sengaja disematkan.


Bianca tertawa, apakah dirinya yang membuat nama Daniel seperti itu pada ID kontaknya? ia yakin sebelum dirinya amnesia ia sangat menggilai pria itu.


Ketika Bianca membuka dan mulai membaca setiap pesan yang sudah dikirimkannya kepada Daniel, ia merasa sedikit aneh.


Mengapa balasan pria itu sangat dingin sekali bahkan terkesan acuh tak acuh kepadanya?


Bianca kembali berpikir.


Apakah waktu mengirim pesan itu suasana Daniel sedang tidak baik? atau malah salah satu pesannya itu menyinggung perasaan Daniel?


Pusing memikirkan berbagai kemungkinan, Bianca akhirnya menyerah. Ia berpikir mungkin lain kali saja ia bertanya kepada Daniel tentang semua rasa penasarannya yang belum terjawab.


Bianca kembali merasakan kantuk karena obat yang ia minum memberikan efek relaksasi.


Ia tertidur ketika suster Nana telah selesai mengerjakan jurnalnya.


Suster Nana mengambil ponselnya dan meletakkannya di atas nakas. Ia membenarkan letak selimut Bianca dan segera pergi ke luar untuk membiarkan Bianca kembali beristirahat.