169 Days With Mr. CEO

169 Days With Mr. CEO
11. Jamuan Makan



Tepat pukul tujuh malam, hampir semua anggota keluarga dalam rumah sudah duduk di ruang makan dengan dengan ceria. Meja di tengah-tengah ruangan itu cukup panjang mengingat jumlah anggota keluarga dalam rumah itu terbilang cukup banyak.


Sepertinya hal seperti ini menjadi suatu kebiasaan dalam rumah ini. Bianca melihat dari arah dapur beberapa anak-anak menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa dan yang lainnya dengan sukarela meninggalkan kegiatan bermain mereka seolah tidak sabar mengisi ulang tenaga mereka sepanjang hari ini.


Paman Ben sudah tiba di rumah sejak dua jam yang lalu namun ia masih di luar teras bersama Daniel. Setiap harinya, Paman Ben bekerja sebagai petani di kebun teh.


Sama seperti bibi Ye, paman Ben cukup terkejut sekaligus senang dengan kedatangan Bianca. Dalam masa kunjungannya Daniel tidak pernah membawa orang lain selain Alicia.


Bianca yang ceria dapat dengan mudah berkenalan dekat dengan bibi Ye dan paman Ben. Bibi Ye juga sudah mengenalkan satu persatu anak-anak di rumah ini ketika acara memakan kue sore tadi. Ada sembilan anak dalam rumah itu, dengan kisaran usia tiga sampai dua belas tahun.


Bianca mengingat dan menghafal satu persatu nama mereka. Timmy adalah anak paling tua dari antara yang lain, tiga hari yang lalu dia baru saja genap berusia dua belas tahun. Rahel berusia satu tahun lebih muda dari Timmy dengan rambut panjang yang selalu di kepang. Bob bocah berpipi chubby yang selalu memegang jam kebesarannya kemanapun dia pergi berusia delapan tahun. Tiger berusia sama dengan Bob namun anak itu selalu tampil rapi dengan kaos yang selalu disisipkan ke dalam celana serta rambutnya yang klimis selalu di sisirnya rapi ke sebelah kanan. Sasy berusia tujuh tahun dan selalu menyukai hobi merajut, Bianca sempat tertarik dengan syal kuning yang dipakai bibi Ye tadi sore, Bibi Ye mengatakan bahwa syal itu adalah hadiah ulang tahun Bibi Ye dari Sasy yang di buat sendiri. Justin tampak lebih sedikit pendiam dari antara yang lain namun bocah itu pecinta binatang, Justin memiliki kucing yang ia namai Miko dan seekor burung kenari bernama Pia, usianya sama dengan Sasy hanya terpaut beberapa bulan saja. Berikutnya ada si kembar


Jio dan Dio yang tidak pernah akur satu sama lain mereka berusia lima tahun. Dan yang terakhir balita manis berusia tiga tahun bernama Maurin, nama yang hampir mirip dengan miliknya.


Bianca mendapatkan sedikit informasi singkat dari Alicia bahwa hampir kesemua dari mereka merupakan anak-anak yatim piatu, keluarga broken home, dan anak yang tidak pernah di inginkan kelahirannya. Paman Ben dan Bibi Ye membantu mengurus mereka dan menjadi orangtua sambung untuk mereka.


Tapi keramahan dan sifat periang Bianca tidak sepenuhnya mendapatkan perhatian dari anak-anak.


Seperti sekarang, ketika Bianca bersama Alicia membantu bibi Ye menata makan malam, Bianca berjalan membawa puding susu dan meletakkannya di atas meja. Kedua manik matanya tidak sengaja menatap Timmy dan tersenyum ke arahnya. Namun Timmy, bocah kecil itu memalingkan muka.


Begitu juga ketika Bianca menatap anak-anak yang lainnya.


Bianca meringis mengetahui fakta bahwa anak-anak tidak menyukai kehadirannya.


Paman Ben bersama Daniel baru saja datang untuk bergabung. Melihat sikap anak-anak yang kurang menyukai kehadiran Bianca, Pria setengah baya itu berdeham.


"Paman..." seru anak-anak kompak bersamaan. Semua anak-anak seketika itu menghambur ke pelukannya. Paman Ben manyambut mereka dengan senyuman walaupun sempat terhuyung ke belakang karena antusias anak-anak berebut memeluknya.


Maurin yang kesulitan turun dari kursinya hanya merentangkan tangan untuk mendapatkan perhatian dari paman Ben.


"Oh, Maurin sayang.." Paman Ben hendak mengendong gadis kecil itu tetapi Maurin lebih dahulu menggelengkan kepala.


Dengan dot di mulutnya Maurin masih saja merentangkan tangannya.


Daniel tersenyum dan mengendong Maurin lalu duduk di kursi samping.


Bianca baru saja akan beranjak untuk duduk di kursi kosong sebelah Daniel, namun Timmy yang mengetahui gelagat perempuan itu segera meraih tangan Alice yang baru saja meletakkan mangkuk buah untuk duduk di samping Daniel.


Timmy memberikan tatapan mengejek ketika Alicia berhasil duduk di sebelah Daniel dan ikut bermain dengan Maurin.


Bianca kecewa, gadis itu terduduk lemas di kursinya dan mengabaikan tatapan mengejek Timmy kepadanya.


Lagi-lagi Bianca melihat sikap Daniel yang lain ketika bersama Alicia. Maurin yang ada di pangkuan Daniel dan Alicia yang duduk di sampingnya sudah seperti sepasang suami istri baginya.


Paman Ben yang mengamati wajah Bianca yang muram dari kursinya cukup mengerti bahwa Bianca menaruh hati pada Daniel.


"Daniel, biarkan Maurin duduk di bangkunya atau pangkuanku supaya kau tidak kesulitan bergerak." Tawar Paman Ben.


"Tidak usah paman, aku cukup nyaman kok." Sahut Daniel santai.


Maurin yang duduk di pangkuan Daniel menghentakkan tangannya ke meja dan menggelengkan kepalanya.


Balita itu senang dan merasa nyaman di pangkuan Daniel.


Bibi Ye tidak berapa lama datang dari arah dapur dan duduk di kursi kosong tidak jauh dari tempat suaminya.


Semua anggota keluarga sudah lengkap dan hidangan sudah tersedia. Rahel berdiri dari kursinya dan memulai doa. Semua orang menutup mata dan mengaminkan setiap doa Rahel dengan khidmat.


Namun dalam doanya Bianca gusar, dengan mata yang masih sedikit terbuka ia bisa melihat tangan Alicia menggenggam salah satu tangan Maurin di atas meja dan tangan Daniel di atas tangan mereka.


_


Jangan lupa dukung karya author dengan like, komen, gift, dan favorit kan cerita ini ya😉 terimakasih 🤭