
Daniel berdiri di depan pintu Instalasi Gawat Darurat dengan penampilan yang sangat kacau. Dengan dasi yang yang terikat longgar serta kemeja biru dengan noda darah mengering di sekitar dada dan saku sudah tidak lagi terselip rapi di sisi celananya, dari balik pintu kaca pria itu sedang melihat Bianca yang sudah tidak sadarkan diri sedang mendapatkan bantuan dari para medis.
Dress bunga-bunga gadis itu sudah ternodai dengan banyak bercak darah. Ruam serta lebam tampak di beberapa kaki dan tangannya.
"Detak jantungnya melemah dokter." Ucap seorang perawat seraya menatap monitor EKG di dekat ranjang pasien muda tersebut.
Dokter Peter yang memiliki tugas jaga pagi itu, sedang melakukan tindakan resusitasi kepada pasien. Sang dokter melihat ke monitor EKG yang menunjukan garis gelombang lemah, pertanda jantung pasien berdetak pelan, dan itu kritis.
"Siapkan defibrilator!" Perintah dokter, dan perawat segera membawa defibrilator. Gel bening dioleskan lebih dahulu ke dada pasien. Lalu dokter Peter memberi aba-aba.
"200 joule, all clear?" Tanya Dokter Peter memastikan.
"Clear!" Jawab para perawat serentak, pertanda tidak ada seorang pun yang menempel ke pasien maupun ranjang pasien. Dan segera selepas itu alat kejut jantung yang berbentuk seperti sepasang setrika ditempelkan dokter ke dada Bianca. Gadis itu kemudian kejang sejenak lalu lunglai. Monitor EKG masih menunjukan garis gelombang lemah, bahkan hampir datar. Dokter itu kembali melanjutkan tindakan resusitasinya.
Dari balik pintu kaca, Daniel dapat melihat tubuh Bianca tersentak setiap kali alat kejut jantung itu menyentuh dadanya. Dokter yang menangani Bianca memberikan perintah untuk menaikkan tegangan ketika denyut jantung pasien melemah.
Daniel mendadak kehilangan tenaganya, lututnya melemas, pria itu tidak sanggup lagi menyaksikan perjuangan para medis di dalam sana, memori traumatis mengenai masa kecilnya kembali muncul, menyerangnya sisi nuraninya. Dia yang dahulu masih kecil harus melihat ibunya tergeletak bersimbah darah di jalanan di depan sekolahannya.
Rasa bersalah menggerogotinya seperti sel kanker yang diam-diam menjalar menempel bak parasit.
Daniel menangis frustasi, merasa kehadirannya seperti kutuk yang menyebabkan kehidupan naas orang-orang di sekitarnya.
"360 joule, all clear?" Tanya dokter Peter sekali lagi.
"Clear!" Bianca dikejutkan untuk kedua kalinya.
Dalam beberapa menit yang begitu panjang dan menegangkan, para tim medis dapat bernafas lega karena detak jantung si pasien kembali normal.
Dokter Peter keluar dari ruangan, disusul dengan beberapa perawat yang telah mengurus pasien di dalam sana. Ia tersenyum tipis pada seorang pria yang terlihat sangat kacau.
"Anda kekasih nona Bianca?" Tanya dokter Peter menyadarkan Daniel. Daniel yang tidak mengerti harus bersikap seperti apa memilih menganggukkan kepalanya cepat.
"Bagaimana keadaan Bianca dok?" Tanya Daniel tidak sabaran.
"Detak jantungnya sudah kembali normal namun kondisinya masih kritis. Berdoa saja ya."
Jawab Dokter Peter sambil menepuk bahu Daniel sebelum berlalu pergi.
Pria itu kembali menuju arah pintu Instalasi Darurat. Dress yang sudah bersimbah darah sudah berganti dengan pakaian rumah sakit berwarna biru.
"Kenapa kau melakukan hal yang bodoh seperti ini Bianca?" Gumam Daniel memandang sendu ke arah Bianca yang tengah berbaring lemah, tidak sadarkan diri.
"Dani..." Alicia memanggilnya.
"Tidak-tidak apa-apa." Balas Daniel. Namun Alicia yang sudah lama mengenal tabiat pria itu lebih tahu. Alicia menduga bahwa Daniel teringat dengan mendiang ibunya yang juga mengalami hal serupa dengan Bianca.
"Aku sudah menghubungi orangtua Bianca mungkin sebentar lagi mereka akan tiba." Jelas Bianca.
"Terimakasih Cia." Ucap Daniel tulus.
Alicia yang merasa nama kecilnya di panggil lagi oleh pria sekaligus teman masa kecilnya, merasa tersipu.
***
"Brengsek, kau apakan putriku ha?" Teriak tuan Terrence ketika melihat Daniel tengah duduk bersama Alicia. Pria itu meraih kerah baju Daniel dan memojokkan Daniel ke dinding rumah sakit.
Pagi itu ia membatalkan pertemuan bisnisnya ke Tiongkok karena istrinya meneleponnya melalui ponsel sekretarisnya bahwa Bianca mengalami kecelakaan yang cukup parah.
Seperti tersambar petir di siang bolong, pria paruh baya itu memutuskan untuk membatalkan penerbangannya dan dengan tergesa-gesa menaiki mobil untuk menuju rumah sakit.
Tuan Terrence meminta sekretarisnya untuk mengatur ulang pertemuannya dengan kolega bisnis di Tiongkok. Pria paruh baya itu menyuruh orang-orang sekitarnya untuk mencari tahu siapa yang sudah berani mencelakai putrinya
Tidak butuh waktu lama bagi tuan Terrence untuk mengetahui penyebab kecelakaan putrinya. Ketika dalam perjalanan menuju rumah sakit sekretaris Hong yang sudah sejak lama mengikutnya, menerima panggilan dari orang-orang kepercayaan Tuan Terrence yang dengan detail menceritakan penyebab kecelakaan yang menimpa Bianca.
Tuan Terrence semakin geram ketika mendengar putrinya dengan nekat menyelamatkan Daniel sehingga dirinya yang menjadi korban. Ia begitu murka ketika mendengar bahwa seseorang dari balik mobil jeep berlari begitu saja ketika sudah menabrak putrinya
"Cari tau siapa penumpang mobil Jeep itu sampai dapat." Perintah tuan Terrence dingin.
Daniel yang menerima amarah tuan Terrence hanya terdiam pasrah. Daniel memaklumi apa yang di lakukan tuan Terrence. Merupakan suatu hal yang biasa bagi orangtua ketika melihat putrinya tertimpa masalah karena orang lain.
Alicia yang terkejut tidak berkomentar apa-apa. Di satu sisi ia ingin membela Daniel dan mengatakan pria itu tidak bersalah namun nyalinya terlalu kecil ketika melihat bahwa keluarga Bianca bukan dari kalangan orang-orang biasa.
Jacob dan nyonya Liliana baru saja tiba setelahnya. Jacob yang melihat papanya tengah menyudutkan Daniel dengan segera menenangkan papanya.
"Pa, jangan bertengkar di rumah sakit." Ucap Jacob mengingatkan di mana posisi mereka saat ini. Tuan Terrence menghempaskan Daniel secara kasar dan bergabung dengan istrinya untuk melihat Bianca dari balik pintu.
"Putriku..." nyonya Liliana terisak dan tuan Terrence segera memeluknya untuk menenangkan perasaan istrinya.
Mereka sudah pernah kehilangan putrinya, tuan Terrence berharap dia tidak akan kehilangan putrinya untuk kedua kalinya. Jika tidak, ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya dan tidak akan membiarkan orang-orang yang terlibat untuk hidup secara bebas ketika sudah mencelakai putrinya
_
Hai² terimakasih ya sudah menunggu cerita ini, maaf author ada kesibukan di RL sehingga sempat terhenti. Next jangan lupa vote, like, fav dan berikan gift serta komentar kamu agar author makin semangat. Terimakasih sudah berkunjung 😍